Setia Penulis dan penikmat sastra

Surat untuk Ayah: Nestapa yang Tak Berujung

3 min read

kompasiana.com

Ayah, ini kakak. Kakak lagi sakit, di rumah sakit yang jauh dari rumah. Kakak demam dan terus mengingau. Demam kakak sudah turun, Mba Amik nasehatin kakak untuk menulis surat jika kakak rindu ayah. Ayah baca ya surat kakak. Kakak sudah bisa menulis dan membaca.

Ayah, ayah dimana? Kapan ayah menengok kakak?

Sekarang kakak sudah masuk SMP, adek sudah kelas 2 SD, seusia kakak ketika ayah pergi. Kami masih bertiga dengan Mama. Mama masih kerja di pabrik dan lembur setiap hari. Kalau Mama kerja, kakak dan adik suka ditemani Bulik Min. Kakak suka menggambar, kakak menggambar wajah Ayah, kakak tempel di dinding kamar. Tidak ada foto kita berempat, juga tidak ada foto Ayah di rumah. Jika Ayah datang, kita berfoto ya…Yah…

Ayah, Kakak rindu….

Kakak cerita ke teman-teman kalau kakak rindu Ayah, Kakak juga cerita punya Ayah yang kerja di Jakarta dan suka kirim hadiah. Terus… Pak Gede yang rumahnya depan kita bilang ayah ingin bertemu kakak. Kakak senang sekali, karena akhirnya Ayah datang untuk menengok kakak. Kakak ingin makan ice cream, juga jalan-jalan ke taman kota, seperti dulu.

Tapi, Pak Gede membawa kakak ke hotel, katanya ayah menunggu di kamar. Kakak senang masuk ke kamar hotel. Dingin… tempat tidurnya besar. Sepulang sekolah Adek akan Kakak ajak. Tapi, katanya ayah tidak bisa datang, kakak sedih dan Pakde memeluk kakak, menciumi kakak. Kakak takut sekali, tapi Pak Gede bilang sayang, seperti ayah sayang kakak. Pak Gede ngasih uang dari ayah, tapi jangan bilang mama, nanti mama marah.

Ayah, benarkah ayah rindu?

Pak Gede mengajak lagi untuk bertemu ayah, di hotel yang sama. Kali ini katanya ayah membelikan kakak handphone agar bisa telpon ayah. Ayah tidak jadi datang. Saat itu Pak Gede memaksa membuka baju kakak, membekap mulut kakak… menindih dan memasuki kakak…. Sakit sekali yah… kakak menangis, gemetar dan takut sekali, tapi kakak tahan agar Ayah tidak marah.

Baca Juga  Memahami Nilai Ikhlas Sebagai Ruh Agama

Katanya, Ayah akan marah jika kakak melawan Pak Gede, dan tidak sopan. Benarkah Ayah rindu? Mengapa Ayah selalu tidak jadi datang?

Pak Gede terus mengajak kakak dan tidak kasih nomor telpon Ayah. Kakak bingung, bagaimana jika Ayah datang? Kakak bilang agar Ayah datang ke rumah saja, bukan ke hotel. Tapi, Pak Gede bilang Mama masih marah sama Ayah. Nanti bertengkar. Kakak jadi benci sama Mama, mengapa Mama membiarkan Ayah pergi? Mengapa Mama terus bekerja dan tidak ada waktu untuk kami? Mengapa kalian tidak segera baikan?

Ayah, Kakak sering sakit. Demam dan mengingau. Waktu malam, kakak melihat Mama shalat sambil menangis. Mama pasti capek terus bekerja agar kakak dan adek bisa sekolah. Kakak sedih, seharusnya Kakak sayang Mama, juga bantu Mama.

Ayah,

Kakak sudah besar dan kini tahu Pak Gede bohong. Kakak benci Pak Gede, Kakak rindu Ayah, juga benci Ayah.

***

Laksmi membaca dan melipat kembali surat dari puterinya.Untuk Bowo, suaminya yang pergi seusai pertengkaran mereka. Saat itu, Bowo ingin menikahi Ayu, pacar di masa SMA-nya. Bukankah ada ijin atau tidak, setuju atau tidak, mengaku atau tidak, perselingkuhan telah terjadi. Malam itu, Laksmi sangat ingat bagaimana dengan berkacak pinggang dan menunjuk pintu, ia berkata: “Pergi!” Aku ra sudi dipoligami!”

Gumpalan kemarahan pecah menjadi tangisan. Minggu lalu, ditengah demamnya, putri kecilnya datang, memeluk dan menangis di tengah shalat malamnya.

“Mama… jangan menangis,” peluknya erat sambil berbisik

“Ndak… Mama tidak menangis, kamu kenapa?” sambil balas memeluk puteri sulungnya yang kini hampir setinggi dirinya. Kapan terakhir ia memeluknya? Dulu, ia begitu kecil dan ringan. Sudah hampir 6 tahun ia tidak memeluk putrinya seerat ini. Ada rasa hangat menjalar mendapati puterinya sudah tumbuh remaja.

Baca Juga  Pitutuh Luhur Ranggawarsita Mengenai Birokrat Pemerintahan dalam Serat Cemporet

“Mama janji ndak marah sama Kakak?” putrinya kembali berbisik

“Iya…janji!” jawabnya tegas, menunggu dan mengayun mesra tubuh puterinya.

“Pak Gede nakal sama Kakak…” sesaat keduanya diam membisu. Laksmi mencoba memahami apa yang terjadi dan akhirnya tangis keduanya memecah malam. Menyuarakan getir akan derita ibu dan anak perempuan.

Kini, putrinya dirawat di rumah sakit. Polisi sudah datang dan menanyainya. Laksmi begitu gemetar mendengar putrinya bercerita satu demi satu peristiwa yang menakutkan bagi setiap perempuan. Seperti janjinya, ia tidak menunjukkan marah dan airmata terhadap putrinya. Ia menekan seluruhnya ke dasar hatinya.

Laksmi merasa kosong dan jatuh ke dalam lubang tak berdasar. Pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan di kepalanya. Apakah jika ia mengijinkan Bowo menikah, ini tidak terjadi? Bukankah ada lelaki yang walau antara ada dan tidak ada, ia dan puterinya akan diajeni? Mengapa ia dulu tidak bertanya darimana Kakak mendapatkan uang? Darimana Kakak memiliki handphone? Mengapa ia tidak mencari tahu mengapa ada bercak amis di pakaian dalam anaknya. Mengapa ia terus bekerja siang malam untuk melampiaskan kemarahan terhadap Bowo? Mengapa ia harus menjadi perempuan? Mengapa?

Laksmi mengusap air matanya, begitu dilihatnya Bulik Min datang.

“Piye Lik?” tanyanya begitu perempuan tua itu tiba.

Wonten bu…setahun lima juta. Kalau ibu kerso, nanti malam saya ke sana lagi,” Bulik Min menjelaskan rumah yang akan disewanya. Beda kecamatan, tapi dekat dengan tempatnya bekerja.

“Bulik, nanti ke sana dipanjer sekalian, sisanya ibu tranfer. Sisan beres-beres, minggu ini kita pindah njih!” perintahnya tegas dengan nada getir. Pindah rumah adalah pilihan pertama dan utama untuk keluarganya. Setelah itu Laksmi tidak dapat menduga, ia hanya akan terus memeluk dan menemani perjalanan getir putrinya.

Baca Juga  Menafsir al-Qur’an dengan Hati

“Njih bu… pripun kaleyan Mas Bowo?” Bulik Min bertanya hati-hati.

“Bowo wis mati, Lik!” Laksmi membuang gumpalan kertas ke dalam tempat sampah. [AA]

Setia Penulis dan penikmat sastra