Muhammad Rizky Shorfana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Mengulik Aspek Sufisme dalam Kehidupan Ibnu Taimiyyah

2 min read

Ibnu Taimiyah dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang cukup keras dalam melakukan perlawanan terhadap praktik khurafat, bid’ah, dan berbagai jenis penyelewengan dalam ajaran Islam. selain itu, ia juga di anggap sebagai salah satu tokoh yang mempengaruhi pemikiran Muhammad bin ‘Abd Wahhab (pendiri gerakan Wahhabiyah). Sebagian besar penggemarnya juga sering menempatkan figurnya itu sebagai tokoh utama gerakan salafi sekaligus musuh para sufi. Sehingga hal ini menyebabkan adanya pengkaburan aspek-aspek sufisme yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu, dalam tulisan ini ingin mengulik seperti apa aspek sufisme dalam kehidupan Ibnu Taimiyah?

Ibnu Taimiyah merupakan sosok imam yang sangat dikenal dengan keluasan ilmu pengetahuan dan kedalaman ilmu agamanya. Dia juga merupakan seorang yang sangat alim, hal tersebut merupakan hasil dampak positif dari lingkungan hidupnya. Sehingga dapat menjadikan ia sebagai seorang yang sangat mencintai ilmu dan gemar mencari serta mengamalkan ilmu-ilmu tersebut. Ia juga menjadi penghafal Al-Qur’an dimasa belianya, kemudian melanjutkan dengan menghafal hadis dari guru-gurunya.

Tidak hanya itu, Ibnu Taimiyah juga dikenal sebagai ulama yang sangat produktif dalam mengarang dan menulis dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. di mana hal ini sangat terlihat jelas dari beberapa peninggalan akademisnya dalam bentuk karya tulis dengan multi-disipliner ilmu. Sehingga ada yang mengatakan bahwa hasil karya tulis Ibnu Taimiyah kurang lebih sekitar 500 buku. Dan di antara buku-buku yang sangat terkenal ialah Majmuat al-Fatawa, al-Aqidah al-Wasathiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, Muwafaqatushari al-Ma’qul li sahih al-Manqul, al-Siyasah al-syar’iyah, al-Furqan bayna Awliya’ al-Rahman wa Awliya’ al-Syaithan, serta masih banyak yang lainnya.

Akan tetapi, karena pengaruhnya yang besar terhadap Muhammad bin Abd Wahhab menyebabkan adanya pengkaburan pada aspek-aspek sufisme yang dimiliki oleh Ibnu Taimiyah. Sehingga terkesan menutupi sufisme yang terdapat dalam gagasan atau pemikiran Ibnu Taimiyah. Dan tidak sedikit pula yang memberi predikat dan memosisikan dirinya sebagai anti sufi. Hal ini merupakan dampak dari pengaburan nilai-nilai sufisme yang ada pada dirinya.

Baca Juga  Benarkah Agama Mandul Hadapi Virus Korona?

Padahal jika kita mau menelisik aspek-aspek tasawuf yang terdapat dalam diri Ibnu Taimiyah itu sangat mudah. Meskipun di satu sudut ia banyak mengkritisi doktrin sufisme mazhab falsafi, namun di sisi lain ia juga tidak dapat mengingkari keagungan dari tasawuf. sehingga hal ini dapat membantah pandangan-pandangan yang menganggap Ibnu Taimiyah adalah sosok yang merendahkan tasawuf, menihilkan keutamaannya dan mencela kaum sufi pada zamannya.

Menurut penjelasan Thomas F. Michle, Ibnu Taimiyah adalah sosok yang bangga menjadi pengikut tarekat Qadariyah yang berafiliasi pada sosok Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jailani. Di mana hal ini dapat dibuktikan pada kehidupan sehari-harinya, yang suka memakai khirqah (mantel) kewalian yang terdapat dalam tradisi tarekat Qadariyah.

Selain itu menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa. para sufi dan para syeikh yang dulu dikenal luas, seperti imam Juneid bin Muhammad dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Mereka adalah orang-orang yang sangat tangguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. begitu pula dengan kalam-kalam yang dikeluarkan oleh Syeik Abdul Qadir al-Jailani, secara keseluruhan berisi tentang perintah untuk menjalani syariat dan menjauhi apa yang telah dilarang oleh Allah dalam al-Qur’an.

Dalam kitab Iqtidha’ Sirath al-Mustaqim karya Ibnu Taimiyah, dapat kita temukan pula aspek sufisme seorang ibnu Taimiyah. Yaitu pendapatnya yang tidak melarang ataupun mengharamkan acara Maulid Nabi Muhammad Saw. Bahkan di dalam kitab tersebut ia malahan mengungkapkan kelebihan dan pahala besar bagi kelompok yang menjadikan acara Maulid Nabi agenda rutinan. Karena ia menganggap acara yang demikian merupakan ekspresi cinta seorang hamba kepada baginda Nabi Muhammad.

Dalam kitab itu pula, Ibnu Taimiyah juga membid’ahkan kelompok yang mengingkari akan tersampaikannya amalan-amalan shalih orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah meninggal dunia. Tidak hanya itu, di dalam kitabnya yang lain yakni Majmu’ Fatawa juz 24 dia menyatakan bahwa para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah pahala orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama Islam dan telah ditunjukkan dengan dalil al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’. Oleh karena itu, barang siapa yang menentang hal itu maka ia termasuk ahli bid’ah.

Baca Juga  Gus Dur dan Pembelaannya Atas Palestina

Menurut Ibnu Taimiyah perkara talqin bukanlah sesuatu perkara yang bid’ah. Bahkan dia membolehkan talqin dengan syarat jangan sampai menganggap talqin sebagai perkara yang Sunnah. Seperti yang dia nyatakan dalam kitabnya yang berjudul “Majmu’at al-Fatawa” juz 24, bahwa sebagian sahabat Nabi Muhammad juga melakukan talqin mayit. Seperti Abu Umamah Albahili, Watsilah bin al-Aqsa dan para sahabat lainnya.

Oleh karena itu, jika kita merujuk langsung kepada karya-karya Ibnu Taimiyah dapat kita ketahui dengan jelas bahwa ia tidak melakukan atau bahkan menyetujui gerakan-gerakan keras seperti yang telah dilabelkan kepadanya. Justru kehadiran dari Ibnu Taimiyah sebagai Syaikh al-Islam merupakan proses untuk memurnikan kembali ajaran-ajaran Islam dari segala aspek yang berbau bid’ah dan penyelewengan. Dengan demikian, kita seharusnya berterima kasih kepada Ibnu Taimiyah karena telah berani menegakkan ajaran Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah.

Muhammad Rizky Shorfana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya