Sirojul Munir Alumni STAI Miftahul Ulum Lumajang

Mengkaji Makna Ikhlash Dalam Kitab Al Adzkar An Nawawi

2 min read

Ketulusan menjadi perkara langka, disamping karena memang suatu sifat yang sulit dimiliki, juga saat ini semua lingkungan sudah terdominasi oleh pergaulan hidup yang transaksional dan matrealis. Corak kehidupan tersebut memaksa seseorang menjadi sosok penuh pamrih dan tidak mau kalah. Ditambah lagi media sosial yang pada mulanya sekedar bagian dari kecanggihan modern telah menjadi tradisi dalam setiap aktfitas.

Tentang ketulusan ini, para ulama’ telah memberikan suatu penjelasan yang cukup luas. Jika ditelisik secara bahasa istilah yang digunakan ulama’ dalam memaknai tulus terdapat dua kosa kata Arab yang digunakan yaitu shodiq isim fail dari fiil madhi shodaqa (lawan kata munafik) dan ikhlash isim masdhar dari fiil madhi akhlasa (lawan kata riya’). Kedua istilah ini dicantumkan begitu apik oleh imam Nawawi dalam bab awal kitab Al Adzkar dengan menukil pendapat dari salafunash sholih.

Antara shodiq dan ikhlash ada korelasi menarik dan tersimpan makna yang begitu mendalam bagi yang betul – betul ingin mengkaji dan memahami maknanya. Misalnya jika ditelisik secara bahasa dalam Kamus Arab Indonesia kata shodiq dan ikhlash memiliki satu kesamaan makna yang berarti : murni, bersih, jujur, dan tulus. Bahkan tidak sedikit ulama yang mendifiniskan maknanya dengan panjang lebar.

Ketulusan Menurut Pandangan Para Ulama’.

Imam Nawawi didalam kitab Al Adzkar menuqil pendapat imam Al Qusyairi pemilik kitab Risalah Quysairiah memberikan sebuah penta’rifan bahwa ikhlash ialah ifrodu al haqqi subhanahu wata’ala fi al tha’ati bil al qosdi yang berarti menjadikan yang haqq sebagai satu satunya tujuan taat kepadanya. Jika kita telisik lebih jauh, ternyata apa yang disampaikan imam Al Qusyairi ini berdasarkan firman allah dalam alquran surah al bayyinah ayat 25: Wama umiruu illa liya’buduullaha mukhlisina lahuddiin (98:5).

Terkait ta’rif ikhlash yang disampaikan imam Al Qusyairi tersebut barang kali tidak mengarah secara umum dalam memaknai tulus, namun lebih kepada penta’rifan ketulusan dalam beribadah. Artinya tidak juga mengarah arti ketulusan pada kehidupan sosial secara umum. Akan tetapi bisa kita mengambil sebuah benang merah dari ta’rif tersebut. Jika merujuk pada kata ifrodu disana yang berarti penyatuan diri maka bisa juga bermakna bahwa ketulusan ialah penyatuan diri seseorang tanpa embel – embel apapun atas suatu sikap dan tindakan.

Baca Juga  Pentingnya Sikap Wara Pada Masa Belajar

Selain hal tersebut, Dzun Nun al Misri tokoh sufi kenamaan dari Mesir memetakan tanda keikhlasan menjadi tiga: Pertama antara pujian dan celaan dari orang lain dianggap sama, tidak ada rasa senang ketika dipuji atau merasa penuh sedih manakala di cela. Kedua melupakan amal yang diperbuat, bahkan tanda yang kedua ini akan tumbuh suatu anggapan bahwa melupakan adalah cara untuk mengabadikan sebuah amal baik. Dan ketiga memperhitungkan amal baiknya ketika kelak diakhirat, bukan saat menjalani kehidupan di dunia.

Manfaat Ketulusan Bagi Kehidupan Sosial

Jangan beranggapan ketulusan tidak berdampak apapun bagi aspek sosial. Kendati ketulusan merupakan sifat pribadi seseorang akan tetapi memiliki energi sosial di luar nalar yang akan berpengaruh atas kehidupan lingkungan. Ketika suatu desa terdapat sosok yang mukhlish maka akan sangat terasa dampaknya bagi keharmonisan desa, atau sosok muhklish tadi berada diantara sekelompok orang, maka akan sangat berpengaruh atas sikap diantara mereka disaat terdapat permasalahan pelik. Orang mukhlish ini akan datang bak malaikat penyelamat diantara dua sisi persoalan kehidupan masyarakat.

Ketulusan ibarat gelas kosong, yang tentu bisa diisi dengan air. Sosok yang memiliki ketulusan dalam dirinya maka akan diberikan suatu pemberian yang lebih dari apa yang dituju. Bahkan pemberian Allah akan senantiasa bisa terwadahi dengan baik oleh kita tanpa disadari, dituangkan begitu saja tanpa perlu meminta. Berbeda seseorang yang pamrih, maka ibarat gelas yang telah terisi air, saat dituangkan airnya akan meluber tidak terwadahi secara sempurna. Seorang yang hidupnya pamrih akan tidak menemukan ketenangan hati kendati yang dimilikinya telah lebih.

Didalam kitab Al Adzkar imam Nawawi menuqil maqolah Ibnu Abbas “innama yahfadzur rojulu ala qodri niyatihi” yang bermakna seseorang haruslah menjaga kadar niatnya. Lebih lanjut imam Nawawi dengan menuqil pendapat ulama’ yang lain “innama yu’tho an nash ala qodri niyatihim” dikarenakan sesungguhnya pemberian Allah tergantung kadar niatnya.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (13): Robot Penentu Arah Kiblat

Oleh sebab itu, setiap dari kita tidaklah akan bisa hidup sampai sejauh ini jika tanpa ada keikhlasan orang tua dalam mendidik dan merawat, Islam tidak akan berjaya tanpa keikhlasan dan perjuangan para syuhada’, dan Indonesia tidak akan bisa tetap tegak berdiri tanpa keikhlasan para pahlawan. Ikhlash adalah lentera qolbu dibalik kehidupan dan aktivitas jasad.

Sirojul Munir Alumni STAI Miftahul Ulum Lumajang