Sismanto Mahasiswa Doktoral, Program PAI Multikultural Universitas Islam Malang

Gus Dur: Harmony in Diversity (2)

2 min read

Sebelumnya… [Bagian 1]

Keberagaman bukan menjadi serba sama dalam kesamaan tetapi keberagaman merupakan keserasian antar-elemen semua anak bangsa. Dr. Ade Hasman, seorang dokter spesialis anestesi di Sangatta Kalimantan Timur, memberikan gambaran keberagaman yang bisa menjadikan satu, yakni tubuh manusian yang sekalipun terdiri atas puluhan triliun sel tapi mereka mampu membentuk sistem sel. Sistem sel ini berkumpul membentuk organ dan kumpulan beberapa organ tersebut kemudian membentuk sistem organ sehingga menjadi keseluruhan tubuh manusia.

Bahkan, dalam tubuh manusia antara organisme satu dengan organisme lainnya tidak bisa sama persis meskipun mereka kembar identik dalam satu sel telur. Ketika dikloning menjadi orang atau menjadi tubuh lain, organisme yang dihasilkan pun tidak akan sama identik. Hal ini mengisyaratkan kita bahwa antar-individu tidak bisa disamakan.

Sementara, sesuatu dikatakan harmonis apabila antara satu elemen dengan lainnya bisa bekerjasama dengan baik. Suatu orkestra tidak akan menghasilkan harmoni yang baik apabila masing-masing alat musik tidak bisa melebur menjadi satu.

Alat musik ini menjadi orkestra yang indah dan harmonis apabila masing-masing melebur menjadi satu satu sehingga mampu menciptakan harmoni keindahan. Begitulah merawat kebhinekaan, harmony in diversity. Kebhinekaan yang terawat dengan baik akan membuahkan keindahan dan kedamaian.

Dalam Islam, setiap orang diminta untuk bersilaturahmi antara individu satu dengan yang lainnya untuk silih mengenal dan mengasihi. Di berbagai kesempatan, para Gusdurian, bayi-bayi ideologis Gus Dur, hendaknya dapat memeragakan harmonisasi orkestra masing-masing alat musik.

Masing-masing dapat berperan dengan membunyikan alat musik yang dipegangnya. Kemudian semua alat musik itu dibunyikan secara bersama-sama secara serasi sehingga masyarakat dan warga bangsa akan sepakat bahwa suara alat musik itu akan terdengar indah dalam sebuah formasi nada orkestra.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (2): Ramuan Herbal vs Covid-19: Antara Harapan dan Fakta

Pun demikian, lagu-lagu yang digubah oleh para komposernya dapat dinyanyikan dengan nada dan ritme yang sama dengan menggunakan nada lain. Misalnya, kita menyanyikan lagu “Balonku Ada Lima” dengan menggunakan nada “Bungong Jeumpa” dari Aceh.

Harmony in diversity ini peenting dirawat karena kita hidup di negeri yang sama, makan dan minum dari sumber energi alam yang sama. Bisa jadi antara kita  memiliki perbedaan pandangan, persepsi, perbedaan tradisi, budaya, dan kepercayaan. Namun sebagai manusia  yang dibekali akal dan pikiran, sudah barang tentu dapat memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah, sehingga bisa hidup rukun, guyub, dan saling berdampingan.

Sebagai warga negara, sudah seharusnya kita tidak mementingkan kepentingan pribadi dan ego sendiri karena setiap warga negara memiliki banyak kesamaan. Jika egoisme yang diagungkan, akan lafir kekacauan dan konflik karena semua orang merasa paling benar.

Jika egoisme terus dipelihara, dimungkinkan akan berujung pada kekerasan yang berpotensi merusak kebhinekaan yang telah lama dibina. Konflik kebhinekaan ini sangat mudah disulut sehingga melahirkan perpecahan.

Di beberapa daerah Indonesia pernah terjadi konflik kebhinekaan yang ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Namun demikian, warga Indonesia yang beragam sudah terbiasa hidup dalam keberagaman sehingga mampu keluar keluar dari konflik. Semua orang memiliki satu tekad bersama bahwa semua orang dan kelompok perlu hidup rukun dan saling berdampingan.

Bila ada sekelompok orang yang memaksakan pendapatnya untuk mengubah dasar negara yang telah menjadi kesepakatan bersama (mitsaqan ghalidza), hal itu tentu akan berpotensi memecah harmoni dalam keberagaman. Saat-saat menjelang politik elektoral misalnya, kekuatan pemecah bangsa kerap muncul dengan menggoreng isu-isu yang rentan sebagai komoditas politik: intoleransi, SARA, dan berbagai isu destruktif lain. Setiap kekuatan politik hanya ingin menjadi orang yang pertama dan utama, menjadi orang yang berkuasa dan menguasai. Mereka abai terhadap janji-janji yang pernah dibuat.

Baca Juga  Normal Baru, Era Transisi Menuju Normal Lama

Sebagai generasi penerus Gus Dur, kita harus tetap merajut persaudaraan tanpa membedakan kedudukan, suku bangsa, agama,  tanpa berharap mendapatkan keuntungan apapun, selain kebaikan bersama sebagai bangsa. [AA]

Sismanto Mahasiswa Doktoral, Program PAI Multikultural Universitas Islam Malang