Suryono Zakka Pengurus Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan; Mengajar di Yayasan Yanuris Srimaju Pondok Pesantren Nurul Islam Bayung Lencir

Konsep Aswaja Perspektif Nahdlatul Ulama

1 min read

Setiap firqah (golongan) mengklaim sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah [Aswaja]. Baik NU, Muhammadiyah, Front Pembela Islam [FPI], Salafi-Wahabi maupun sekte atau ormas lain sah-sah saja mengaku sebagai Aswaja dalam rangka untuk mencari pengikut.

Nadhlatul Ulama (NU) sebagai ormas terbesar di Indonesia bahkan di dunia memiliki khashāish atau kekhasan dalam memahami Aswaja. Konsep Aswaja perspektif NU (baca: Aswaja An-Nahdliyah) ini untuk membedakan antara Aswaja yang dipahami NU dengan Aswaja yang dipahami oleh Ormas atau sekte di luar NU.

Adapun Aswaja dalam perspektif NU adalah:

1. Dalam bidang akidah, NU menganut konsep tauhid yang dipelopori oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.

2. Dalam bidang fikih, NU mengakomodasi salah satu mazhab empat yakni mazhab Maliki, mazhab Hanafi, mazhab Syafi’i, dan mazhab Hanbali.

3. Dalam bidang tasawuf, NU menganut tasawuf yang mu’tabar (lurus) sebagaimana yang dikonsepkan oleh Abu Hamid al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi.

Ada kelompok yang menyamakan antara akidah NU dan FPI. Sama-sama berpaham akidah Asy’ari. Sama-sama mengakui empat mazhab dan mengakui tasawuf. Memang benar demikian. Konsep Aswaja NU sama persis dengan FPI. Walau sama persis, namun NU dan FPI memiliki perbedaan dalam hal metode dakwah dan memahami ideologi kebangsaan.

Metode dakwah NU memakai pendekatan dakwah persuatif sebagaimana yang diajarkan oleh Walisongo dengan mengedepankan akhlak, yakni cara damai dan santun. Sedangkan FPI, dakwahnya lebih bersifat represif, yakni kekerasan sehingga wajar jika dakwah FPI kerap diwarnai kericuhan.

Dalam hal ideologi kebangsaan, NU menganggap NKRI sudah final dengan ideologi Pancasila sedangkan menurut FPI, NKRI perlu disempurnakan dengan ideologi syariah atau NKRI Bersyariah. Menurut FPI, Pancasila belum final.

Baca Juga  Lembaga Pendidikan Islam Pada Zaman Klasik

Demikian konsep Aswaja perspektif NU yang harus kita ingat dan kita pahami. Masyarakat NU yang masih awam perlu dikenalkan konsep Aswaja An-Nahdliyah ini sehingga tidak terjebak dan tersesat dengan Aswaja non-NU (baca: Aswaja al-Lainiyah). Dengan memegang teguh Aswaja yang telah diwariskan oleh ulama NU ini, insyaA llah kita akan selamat. [MZ]

Suryono Zakka Pengurus Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan; Mengajar di Yayasan Yanuris Srimaju Pondok Pesantren Nurul Islam Bayung Lencir