



Mengutip pendapat Robin tahun 2011 yang menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam memengaruhi kelompoknya untuk mencapai tujuan organisasi, hal senada Newstorm pada tahun 2007 bahwa kepemimpinan merupakan proses memengaruhi dan mendukung bawahan untuk bekerja rajin mencapai tujuan organisasi. Menurut Bass dalam bukunya, “Bass and Stogdill’s Handbook of Leadership,” pemimpin adalah agen of change yang bertindak memengaruhi orang lain mempengaruhi dirinya.
Sedangkan menurut tokoh nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara pemimpin adalah seseorang yang dapat meramu peraturan dan kebijakan menjadi satu kesatuan dalam menciptakan kesadaran anggota atau pegawai atau masyarakat untuk menjalankan fungsi dan tugasnya supaya dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi anggota. Dikaitkan dengan Pancasila sebagai dasar negara, seorang pemimpin harus dan memiliki sikap, “ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.” Ditambahkan McShane tahun 2008 bahwa bawahan akan termotivasi ketika pimpinan dapat memengaruhi dan memberikan arahan dalam mencapai tujuan organisasi di mana mereka sebagai anggotanya.
Kata Profetik diartikan dengan sifat yang berkenaan dengan kenabian. Secara terminologi kenabian merupakan bentuk kepemimpinan yang diamanatkan Tuhan kepada salah satu makhluk yang terpilih diantara sekian makhluk ciptaanNya untuk menjadi pemimpin dan pembina makhluk sealam raya atau umat Tuhan. Terkait dengan kenabian di umat muslim, Muhammad SAW merupakan nabi pilihan yang istimewa sebagai utusan Allah untuk mengatur dan memelihara kehidupan bumi.
Ada beberapa sifat mulia nabi yang dikaruniakan Allah kepada Muhammad SAW, yaitu siddiq (jujur), tabligh (menyampaikan), amanah (memegang janji atau dapat dipercaya), fatonah (cerdas). Ketika kedua hal tersebut ketika disintesiskan memunculkan definisi pemimpin Profetik yaitu seseorang yang diberikan Tuhan kemampuan untuk memutuskan aturan atau kebijakan dan memengaruhi kelompok atau anggota atau masyarakat agar bekerja lebih rajin dan dapat mencapai tujuan organisasi dengan memiliki sikap memberi contoh, mendukung, dan mengayomi berdasarkan sifat siddiq, tabligh, amanah, dan fatonah.
Pemimpin Profetik akan mewujudkan kepemimpinan yang Profetik juga yang didasarkan kepada sifat kenabian untuk mengatur kehidupan secara adil, sejahtera, dan makmur. Model pemimpin Profetik yang diakui dunia yaitu Muhammad SAW dalam praktek saat memimpin umat manusia dan menciptakan negara Madinah menerapkan tiga jenis kepemimpinan guna menciptakan tatanan yang demokratis. Ketiga jenis kepemimpinan ini adalah otorites, permisif (laissez faire), dan demokratis, yang mana ketiganya diterapkan Muhammad SAW secara situasional dan kondisional.
Kepemimpinan otoriter yang pernah diterapkan Muhammad SAW ketika berhadapan dengan musuh Islam, menghadapi orang kafir, dan dalam memberikan hukuman, serta dalam menjalankan perintah dan larangan Allah. Kepemmpimam permisif (laissez faire) terapkan oleh Muhammad SAW ketika memberikan kebebasan kepada umatnya untuk melakukan segala aktivitas di dunia ini untuk kelangsungan hidup mereka tanpa kecuali dalam melanggar larangan Allah.
Selain dalam hal kehidupan, sikap permisif dimunculkan saat menghadapi orang non muslim dalam menerima atau menolak dakwah untuk beriman kepada Allah, hingga muncul ayat “tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam, bagi mereka agama (urusan) mereka bagi kami (muslim) agama (urusan) kami.”
Kepemimpinan yang demokratis ditunjukkan dengan kebiasaan beliau selama memimpin umat selalu menggunakan musyawarah dalam memutuskan suatu perkara, terlebih ketika permasalahan tersebut sangat rumit maka Muhammad SAW belum berani memutuskan sebelum turun wahyu dari Allah SWT. Selain itu sifat beliau sebagai sang pemimpin yang lebih banyak mendengarkan keluhan umatnya, pendapat umat dan sahabatnya serta mengutakan kemaslahatan umat dalam setiap kebijakan yang diputuskan.
Kepemimpinan merupakan seni dalam mengukir kehidupan sosial. Sebagaimana sang pelukis saat menuangkan warna-warna dalam canvas putinya. Tarian kuas yang tertoreh pada canvas dan pilihan warna warni yang dituangkannya, titik, garis yang dipadukan dengan imajinasi hati, perasaan, emosi, pikiran membentuk satu mahakarya yang tiada tara nilainya.
Begitu pula dengan memimpin, canvas layaknya masyarakat atau anak buah yang siap menerima polesan warna dari kuas sang pemimpin. Akan diberi warna apa canvas tersebut dan akan diwujudkan jenis lukisan apa canvas tersebut tergantung dan otoriter serta mutlak sang pelukis, pun demikian dengan sang pemimpin. Bagaimana kondisi anak buah atau masyarakat yang dipimpinnya itu tergantung dari kebijakan yang diterapkan dan berlakukan.
Cara pendekatan yang dilakukan oleh sang pemimpin, pola dan gaya kepemimpinan lebih pada karakter dan sikap dalam tindakan dan keputusan yang ditetapkannya. Hal ini sangat berimbas pada pola dan atmosfer yang berada dibawah teritorialnya, dan tentunya membawa dampak dalam segala hal. Hijau,merah, hitamnya atmoser dalam wilayahnya tergantung dari pola dan gaya kemimpinan yang dianut dan terapkan.
Pemimpin yang idealis namun tetap humanis akan mampu mengkreasikan beberapa pola kepemimpinan sesuai kondisi yang terjadi dan fleksibel berbasis situasi. Dengan seni yang tetap mempertahankan rasa estetika dalam memimpin, walau ketika harus memilih otoriter saat menentukan kebijakan akan tetap terlihat dan terasa elegan karena mengandung seni keindahan didalamnya, demikian dengan kebijakan lain yang diambil dan tetapkan ketika menghadirkan nilai seni dipastikan estetika dan humanisme tetap terbawa, hal ini tentunya sejalan juga dengan sifat kenabian yang rahmatan lil alamin (membawa berkah bagi semesta) dan sifat kenabian lainnya.
Banyak cara seseorang terhantarkan menjadi seorang pemimpin, namun ketika seseorang telah menjadi pemimpin hendaknya memiliki sikap-sikap ideal yang telah dicontohkan oleh sang pemimpin umat, Muhammad SAW. , ketika sifat itu belum ada dan dimiliki maka sebisa mungkin melatih diri dan merubah diri untuk bisa menjadi pemimpin yang mampu menjaga keharmonisan dan kedamaian teritorial yang berada dibawah komandonya.
Bisa jadi sebagai manusia biasa, untuk menjadi pemimpin yang ideal terasa susah dan berat, namun setidaknya mendekati dan berusaha agar kehidupan terjaga dengan sinergi penuh keharmonisan dan tatanan demokrasi terwujud damai penuh sejahkatera dan bahagia.
Staf Humas Bawaslu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta