Cerpen: Hati yang Kaya [1]
“Ibuku perna berkata Cit, kita boleh miskin harta nak. Tapi jangan sampai kita punya hati yang miskin”. Itu adalah senyuman paling indah yang Tina berikan padaku. Tak pernah kulihat wajahnya sebercahaya itu.
“Ibuku perna berkata Cit, kita boleh miskin harta nak. Tapi jangan sampai kita punya hati yang miskin”. Itu adalah senyuman paling indah yang Tina berikan padaku. Tak pernah kulihat wajahnya sebercahaya itu.
![Cerpen: Hati yang Kaya [1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/10/Ilustrasi-Hati-yang-Kaya-2-825x510.jpg)
![Cerpen: Hati yang Kaya [1]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/10/Ilustrasi-Hati-yang-Kaya-2-825x510.jpg)
Secara fitrah, tidak ada satu pun makhluk yang rela dirinya tersakiti, baik itu tersakiti secara fisik maupun batin.


Melalui sosok nabi Yusuf, Allah ingin mengingatkan kita bahwa dengan memiliki kekuasaan, seseorang selayaknya tidak berbuat semena-mena, adigang adigung adiguna.


Dalam ujian kehidupan ada yang berhasil, namun ada pula yang gagal dalam mengahadapi ujian itu. Yang berhasil akan semakin bertambah keimanannya pada Allah dan yang gagal akan semakin berputus asa dari Rahmat Allah, bahkan ada pula yang sampai kufur kepada Allah.


Tidak ada lagi sekat simbolik yang menjadi pemisah untuk menghalangi kita saling membantu. Perbedaan agama tidak jadi penghalang untuk mendoakan mereka yang beda keyakinan.


Seseorang bisa diangkat derajatnya menjadi wali bukan karena ia tidak memiliki nafsu basyariah, tapi karena sanggup mengelola dan melampaui nafsu-nafsu itu


Niat itu penting dan niat baik dicatat sebagai kebaikan meski baru sampai niat, karena niat tidak ada riya’-nya. Berbeda dengan amal, yang sedikit banyak tercampur dengan riya’


Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek


Imam Sha’rawi menjelaskan betapa pentingnya sebagai orang mukmin untuk menerima musibah, seiring dengan berharap sebuah kebaikan tetap menyertainya,


Hanya dengan menurunkan makhluk-Nya yang bahkan tidak kasat mata, dunia sudah menjadi kacau balau, ilmu pengetahuan yang diagung-agungkan ternyata gagap menghadapi pandemi ini. Manusia “ditampar sangat keras” bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung.

