Jamal al-Banna dan Rekonstruksi Fikih Berbasis Etika Qur’ani
Bagi Jamal al-Banna, fikih tidak diukur dari kesahihan teks semata, melainkan dari keberpihakannya pada keadilan dan martabat manusia.
Bagi Jamal al-Banna, fikih tidak diukur dari kesahihan teks semata, melainkan dari keberpihakannya pada keadilan dan martabat manusia.


Ide tentang Islam sebagai agama dan umat bukan agama dan negara disebabkan karena watak negara yang hegemonik. Bagi Jamal, kekuasaan, diakui atau tidak, dapat merusak ideologi.


Saat Hasan al-Banna menawari adiknya, Jamal, untuk masuk ke organisasi Ikhwanul Muslimin [IM], Jamal menjawab: “Memang benar pohon-pohon milik anggota IM bisa berbuah kapan saja, namun aku tidak pernah sekalipun menghendaki buah tersebut”.

