Kitab, Ajaran, dan Sumber Inspirasi Sunan Bonang dalam Bertasawuf
Karya-karya Sunan Bonang yang dapat dijumpai hingga saat ini dapat dikelompokkan menjadi dua: Sulūk-sulūk dan karangan prosa.
Karya-karya Sunan Bonang yang dapat dijumpai hingga saat ini dapat dikelompokkan menjadi dua: Sulūk-sulūk dan karangan prosa.


Sesungguhnya rumah atau tempat yang tidak ditempati, kosong, sepi, maka jin akan menempati. Sedang di rumah yang biasa meghidangkan kopi, maka para jin tidak akan bisa menempatinya dan tidak akan bisa mendekat atau menganggu


Teungku Syiah Kuala adalah sebuah gelar kebesaran yang diberikan kepada seorang ulama Aceh yang menjadi Qadhi Malik al-Adil pada masa pemerintahan Sultanah Tajul Alam Safiyatuddin.


Problem pada umumnya, sarjana Islam cenderung malas dan menikmati semacam intellectual complacency, kenyamanan pemikiran dengan cara mengutip teori, konsep, gagasan yang sudah "siap santap" yang berasal dari Barat.


Wahabi sangat anti-tasawuf. Karena kebencian pada tasawuf, Wahabi menyamakan praktik tasawuf kaum sufi sama dengan kaum Syiah.


Berbeda dengan Fazlur Rahman yang mengajukan tipologi neo-sufisme, beberapa akademisi seperti Muhammad Mustafā Hilmī, dkk justru menginventarisir posisi sufisme Ibnu Taimiyyah di luar tipologi tasawuf Sunnī dan Falsafī, yakni “Tasawuf Salafi”
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 3-habis]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 3-habis]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
Ibnu Taimiyyah selalu menegaskan kewajiban mengutamakan syariat dalam mentradisikan praktik sufistik.
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
![Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 2]](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/9990213.png)
Kandungan-kandungan istimewa dalam bahasa arab itu rupanya dipahami betul oleh Syaikh al-Kuhin, sehingga ia mencoba menyingkap bukan hanya “makna dekat”, tapi juga “makna jauh” yang terdapat dalam tata bahasa arab yang sudah terangkum dalam kitab al-Jurūmīyah.
![[Resensi] Nahwu Sufi: Linguistik Arab dalam Perspektif Tasawuf](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/nahwu.png)
![[Resensi] Nahwu Sufi: Linguistik Arab dalam Perspektif Tasawuf](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/06/nahwu.png)
Wali adalah ia yang telah dapat membebaskan diri dari jerat hawa nafsunya, kecenderungan-kecenderungan jiwa rendahnya, dan hubungan dirinya dengan alam sekitar.


Imam Sha’rawi menjelaskan betapa pentingnya sebagai orang mukmin untuk menerima musibah, seiring dengan berharap sebuah kebaikan tetap menyertainya,

