Jauharotina Alfadhilah S1 Universitas al-Azhar Mesir; S2 Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel; Dosen IAINU Tuban

Kitab, Ajaran, dan Sumber Inspirasi Sunan Bonang dalam Bertasawuf

4 min read

Source: historyofcirebon.id

Di antara para Walisongo, Sunan Bonang merupakan salah satu dari mereka yang cukup banyak meninggalkan karya tulis dan masih terpelihara hingga saat ini, sehingga karya tersebut dapat dipelajari dan menjadi rujukan utama bahan penelitian mengenai perkembangan ajaran Islam di masa Walisongo.

Menurut Masykur Arif, karya Sunan Bonang merupakan satu-satunya karya yang berisi ajaran Islam yang berkembang di masa Walisongo. (Masykur Arif, Walisanga, 123).

Karya-karya Sunan Bonang yang dapat dijumpai hingga saat ini dapat dikelompokkan menjadi dua:

Pertama, Sulūksulūk yang mengungkapkan pengalamannya dalam menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawuf yang disampaikan olehnya melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Diantara sulūksulūk tersebut yaitu: Sulūk Wujil, Sulūk Khalifah, Sulūk Kaderesan, Sulūk Regol, Sulūk Bentur, Sulūk Wasiyat, Sulūk Pipiringan, Gita Sulūk Latri, Gita Sulūk Linglung, Gita Sulūk Ing Aewuh, Sulūk Wregol dan lain sebagainya. (G.W.S. Drewes, Javanese Poems Dealing with or Attributed to the Saint of Bonang, 1968)

Kedua, karangan Prosa, seperti Kitab Sulūk Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai dalam sastra Arab dan Persia. Hingga saat ini, karya sastra Sunan Bonang dianggap sebagai karya sastra yang cukup hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Sulūk Sunan Bonang tersimpan rapi di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda sampai saat ini (Nur Kholis dan Ahmad Mundhir, Menapak Jejak Sultanul Auliya’ Sunan Bonang, 62).

Sunan Bonang banyak dipengaruhi sufisme Abū Hāmid al-Ghazālī. Bahkan ia secara terang-terangan menyebut nama kitab Ihyā ‘Ulūm al-Dīn karya al-Ghazālī sebagai salah satu kitab yang cukup banyak menginspirasi pemikiran-pemikiran tasawuf beserta ajaran-ajarannya.

Ajaran tasawuf Sunan Bonang dikenal dengan istilah sulūk. Usul sulūk yang diajarkan olehnya dapat dikatakan mirip, bahkan hampir sebagian besar sama seperti ajaran-ajaran tasawuf al-Ghazālī, sehingga jika dicermati isi uraian Sunan Bonang tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia termasuk tasawuf pada dasarnya hanyalah merupakan ikhtisar atau terjemahan bebas dari kitab Ihyā ‘Ulūm al-Dīn dan kitab Tamhīd. (Kholis dan Mundhir, Menapak Jejak Sultanul Auliya’ Sunan Bonan, 109).

Baca Juga  [Resensi Buku]: Tafsir Maqasidi, Puncak dari Segala Jenis Tafsir?

Tasawuf Sunan Bonang adalah tasawuf Sunni. Ajarannya berhaluan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, karena  didasarkan pada Alquran dan Sunnah. Sunan Bonang benar-benar berpegang teguh dalam hal ini, sehingga ajaran-ajarannya aman dari kecenderungan gnostik yang banyak berpengaruh di dunia Islam pada saat itu, seperti sekte Ismailiyah, Syiah ataupun Ikhwān al-Safā. Dengan demikian, tasawuf Sunan Bonang benar-benar sebuah ajaran yang bercorak Islam.

Di samping berpedoman pada Alquran dan Sunnah serta beberapa doktrin ahlu Sunnah wal Jama’ah, ajaran tasawuf Sunan Bonang juga berpangkal pada penafsiran terhadap dua kalimat syahadat: “Asyhadu an lā ilāh illā Allah wahdahu lā syarīk lahu wa asyhadu anna Muhammadan Rasulallah”. Hal itu ia ungkapkan pada pembukaan kitab Bonang sebagai berikut:

“Bismi llāhi al-Rahmān al-Rahīm, wa bihi nasta’īn al-hamd lillahi rabb al-ālamīn, wa al-salāt ‘alā rasūlih Muhammadin wa sahbihi ajma’īn. Njan poenika tjaritaniraShaich al-Bari: tatkalanira apitoetoer dateng mitranira kabeh; kang pinitoetoeraken wirasaning Usul Sulūk- wedaling tjarita saking Kitab Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn lan saking Tamhīd- antoekira al-Bari ametet(ing) ti(ng)kahing sisimpenaning nabi wali mukmin kabeh.

Mangka aketjap Shaich al Bari-kang sinalametaken dening pangeran: e mitraningsoen! Sira kabeh den sami angimanaken wirasaning usul sulūk i(ng)kang kapetet ti(ng)kahing anakseni ing pangeran; miwah kawroehana jan sira pangeran toenggal, tan kakalih; saksenana jan sira pangeran asifat sadja soeksma mahasoetji toenggalira, tan ana papadanira, kang mahaloehoer. E Mitraningsun! Den sami amiarsaha, sampun sira sak malih; den sami anegoehaken, sampoen gingsir idepira.

Iki si lapale tingkahing anakseni ing pangeran: “wa asyhadu an lā ilāha illā Allah wahdahu, la syarīka lahu wa asyhadu anna Muhammadan rasūlu llahi”.  

Tegese ikoe: ingsoen anakseni, kahananing pangeran kang anama Allah, kang asifat sadja suksma, langgeng kekel wiboeh sampoerna poerba qadim sifatira mahasuci, orana pangeran sabenere anging Allah oega, pangeran kang sinembah sabenere kang Agoeng.

 E mitraningsun! Sang siptaning lapal “ora” ikoe:: dening sampoen awit itbat karihin, nora malih anaksenana i(ng)kang nora jakti; tanpa wijos idepe wong ikoe mene. Kalawan ingsoen anakseni jan baginda Moehammad kawoelaning Allah kang sinihan, ingoetoes agama Islam ija iku i(ng)kang tinoet dening nabi wali moekmin kabeh.” [Sebagai catatan: Kitab Bonang atau Buku Bonang atau Primbon Bonang adalah salah satu karya tulis Sunan Bonang yang masih terpelihara hingga saat ini. Buku tersebut pernah menjadi bahan penelitian salah satu ilmuan Belanda bernama B.J.O Schrieke yang kemudian ia beri nama Het Boek Van Bonang—B.J.O. Schrieke, Het Boek Van Bonang, 92-93]

Artinya:

”Inilah cerita saya Al-Bari, ketika menuturkan pada teman-teman semua tentang apa yang dituturkan dalam usul Sulūk, yang mana isi dari sulūk tersebut diambil dari kitab Ihya Ulumuddin dan dari kitab Tamhid.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (7): Mengembangkan Model Pembelajaran Tafsir Sains Terpadu (SIRSAINSDU)

Selain itu al-Bari juga mengambil contoh dari perilaku Nabi, wali semua mukmin dengan berkata: Yang akan diselamatkan oleh Allah yaitu; Sahabatku! Kalian semua hendaknya percaya dan mengamalkan apa yang dituliskan dalam usul sulūk, yang diambil dari persaksian terhadap Tuhan agar diketahui bahwa Tuhan itu Satu. Yang kedua, saksikanlah bahwa Tuhan bersifat Maha Suci yang Satu dan tidak ada yang menyamai, Dia yang Maha Luhur.

Sahabatku! Ketahuilah bahwa saya telah menceritakan agar kalian mengetahui dan meneguhkan diri, jangan sampai memalingkan pandangan. Inilah lafal tingkah laku kebersaksian terhadap Tuhan; “Wa asyhadu an lā ilāha illā Allah wahdahu lā sharīka lahu wa asyhadu anna Muhammadan Rasūl Alah.”

Maksudnya, Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang memiliki sifat Kekal, Sempurna, Qadim, Yang Maha Suci. Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Tuhan yang Disembah dan Yang Agung. Sahabatku! Yang dimaksud lafal “tidak” adalah: sudah ditetapkan bahwa tidak ada lagi kesaksian yang sesungguhnya dan dalam keadaan apapun hingga ia juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, yang membawakan agama Islam, yaitu Nabi yang dipilih sebagai wali dari semua mukmin.”

Ajaran usul sulūk merupakan perpaduan antara uraian ilmu ushuluddin dan tasawuf. Sedikit berbeda dengan cara al-Ghazali dalam menerangkan ilmu tasawuf, yakni dengan memaparkan setiap sisi ajarannya secara runtut dan jelas, Sunan Bonang lebih condong menggunakan metode dialog atau tanya jawab antara guru dan murid, dimana si murid bertanya dan kemudian dijawab oleh sang guru. Penjelasan mengenai ajaran-ajaran tersebut ia rangkai sedemikian mungkin, sehingga tersajikan dalam bentuk dialog yang terbungkus rapi di bawah kerangka cerita. Hal inilah yang membedakan karya-karya tulis Sunan Bonang dengan al-Ghazali.

Baca Juga  Nuzul al-Qur’an: Mukjizat Hadir di Bulan Ramadan (Bag-2 Habis)

Ilmu tasawuf menurut Sunan Bonang merupakan sebuah ilmu tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan, yang berpuncak pada ma’rifatullah atau pengetahuan terhadap Allah. Dalam menerangkan hubungan antara keduanya, Sunan Bonang menggunakan istilah sālik atau āsyiq dan ma’syūq. Keduanya akan bertemu pada maqam fanā’. [Nurkholis & Mundzir, Menapak Jejak, 112]

Sunan Bonang menjelaskan tentang sebuah jalan menuju Tuhan (ma’rifat) yang harus dilalui oleh seorang sālik dapat diawali dengan mengenal diri yakni melalui latihan jiwa atau mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu). Dengan melakukan mujahadah, maka jiwa dapat melakukan pendakian dan menempuh fase-fase pencapaian rohani dalam tingkatan-tingkatan (maqāmat), untuk sampai kepada fanā’, pengesaan (tauhid), pengetahuan (ma’rifah) dan kebahagiaan (sa’ādah). [Munir, Ilmu Tasawuf, 238]

Editor: MZ

Jauharotina Alfadhilah S1 Universitas al-Azhar Mesir; S2 Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel; Dosen IAINU Tuban