Melihat Relasi Ulama dan Umara dalam Proses Islamisasi Nusantara
Para ulama tidak hanya berperan sebagai penyampai norma-norma keislaman tetapi juga berperan sebagai pemangku kebijakan yang berposisi sebagai qadhi atau kepala pemerintahan.
Para ulama tidak hanya berperan sebagai penyampai norma-norma keislaman tetapi juga berperan sebagai pemangku kebijakan yang berposisi sebagai qadhi atau kepala pemerintahan.


Sebab agamawan adalah harapan terakhir rakyat, saat Umara’ tak berpihak kepada rakyat. Maka diharapkan agamawan dapat membaca situasi kedepan, bahkan dapat memberi terobosan dalam pemerintahan.


Tesis Politik Muawiyah bin Abi Sufyan adalah mu’ākalah hasanah wa musyārakah jamīlah. Sejak saat itu seorang khalifah tak harus pandai agama, tapi cukup punya kemampuan menejerial mengelola negara.


Kiai Warits adalah figur yang teguh pendirian, termasuk dalam berpolitik. Beliau tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya.


Seyogianya umara mengikuti ulama, bukan sebaliknya umara ngatur ulama. Walaupun begitu ada kisah menarik di dalam kitab Sur`at al-Badīhah… Silāh al-Adzkiyā’. Diceritakan bahwa suatu hari, seorang gubernur sedang mengadakan tasyakuran dan mengundang seluruh rakyatnya ke gedong-nya. Seusai acara, sang tuan rumah, gubernur, tidak langsung mempersilakan hadirin untuk pulang. Ia memiliki niat baik–selain waktu yang juga […]

