Khoirul Athyabil Anwari Alumnus Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta

Terserah Kiai, Asal Jangan Dua Ayat Ini!

1 min read

Pengajian di Kanwil Kemenag Banten

Seyogianya umara mengikuti ulama, bukan sebaliknya umara ngatur ulama. Walaupun begitu ada kisah menarik di dalam kitab Sur`at al-Badīhah… Silāh al-Adzkiyā’. Diceritakan bahwa suatu hari, seorang gubernur sedang mengadakan tasyakuran dan mengundang seluruh rakyatnya ke gedong-nya. Seusai acara, sang tuan rumah, gubernur, tidak langsung mempersilakan hadirin untuk pulang. Ia memiliki niat baik–selain waktu yang juga telah memasuki magrib–mengajak hadirin yang hadir untuk salat berjemaah dahulu bersama seorang kiai, baru kemudian mereka dipersilakan pulang.

Setelah saf rapi dan suara gaduh sudah tidak terdengar, tanda seluruh jemaah telah siap untuk salat, tuan rumah yang tak lain adalah gubernur berpesan kepada Kiai, yang didengar seluruh jemaah.

“Kiai, nanti tiap rakaat, pasca-membaca surah al-Fatihah, cukup baca satu ayat saja, ya?! Tak usah lama-lama.”

“Baik, Pak.” jawab Kiai seperlunya.

Usallī salāt al-maghribi…… Allāhu akbar..

Bismillāhirrahmānirrahīm..

Setelah selesai membaca surah al-Fatihah, awalnya Kiai ingin membaca surah al-Kāfirūn, tapi sang kiai lekas teringat pesan dari gubernurnya yang keminter tadi. Akhirnya Kiai diam agak lama sembari mencari ayat yang pas untuk dibaca. Ketemulah dua ayat untuk dua rakaat. Kiai mulai membaca dengan suara dua kali lipat lebih keras daripada ketika membaca al-Fatihah.

            و قالوا ربنا إنا أطعنا سادتنا و كبرائنا فأضلونا السبيلا ..

Karena gubernur adalah seorang lulusan pesantren, walaupun tiga bulan, ia sedikit-banyak tahu tentang bahasa Arab. Mendengar ayat yang dibaca Kiai, ia merasa tertampar dan takut. Kurang-lebih arti ayatnya begini, “Dan mereka berkata: ‘Duh, Tuhanku, sungguh kami patuh kepada pemimpin dan pembesar kami. Dan mereka membawa kami di jalan yang sesat.”

Gubernur pun melakukan rukuk dengan dengkul gemetar, keringat mengucur deras, dan baju putih yang dikenakannya terlihat basah.  Masih ada dua rakaat lagi. Yang satu imam masih akan membaca ayat, dan yang terakhir tidak. Setelah sujud lalu berdiri rakaat kedua Gubernur tak lagi salat dengan tenang. Selama Kiai membaca al-Fatihah, ia sibuk sendiri dengan pikirannya, mengira-ngira ayat apa lagi yang akan dibaca Kiai seusai al-Fatihah. Sampai-sampai al-Fatihah  yang terdiri atas tujuh ayat serasa dibaca sependek surah al-Kautsar yang hanya berjumlah tiga ayat.

Baca Juga  [Puisi] Nyata, Kepada Tubuh, dan Wahai Fana Yang Kupinta

Wa-lā-dhdhāllīn.. Amīn..

Kiai tak perlu waktu lama untuk mengingat 1 ayat dari 6216 ayat yang dihafalnya. Mengenai jumlah ayat al-Qur’an, terdapat perbedaan di kalangan ahli qiraat.

Sang Gubernur pasrah setelah para jemaah kompak mengamini, lalu ia menyusul dengan lirih, “Amiinn..”

Kiai menarik nafas dan mulai membaca ayat ‘pesanan’ Gubernur.

ربنا أتهم ضعفين من العذاب و العنهم لعنا كبيرا

Arti ayat di atas kurang-lebih begini, “Duh, Tuhanku, datangkanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah mereka (sedemikian dahsyat).

Ayat belakangan disebut ini adalah lanjutan dari ayat pertama, al-Ahzāb 67 dan 68. Bayangkan bagaimana perasaan Gubernur mendengar ayat laknat, alih-alih ayat rahmat, yang ditujukan kepada dirinya? Siapa yang tidak terhujam dengannya kecuali hati yang terhijab dari rahmat Allah. Begitu pula Gubernur yang tertampar sekeras-kerasnya dengan dua ayat di atas.

Akhirnya, setelah rakaat ketiga usai dan diakhiri dua salam. Gubernur, yang sejak rakaat pertama sudah gemetar dengkulnya, langsung menyahut tangan Kiai ketika ia membalikkan badan hendak bersalam-salaman dengan para jemaahnya, termasuk Gubernur. Ia bersimpuh menangis di pangkuan Kiai sambil agak lirih berkata kepada Kiai, “Panjangkanlah salat sesuka engkau, Kiai. Bacalah ayat sesuka engkau, ayat mana pun, asal jangan dua ayat ini tadi, Kiai.

Para jemaah lainnya hanya cengar-cengir melihat kelakuan Gubernur. Termasuk pula Kiai sendiri. “Ya ya… jangan diulangi lagi.”

Akhīr al-kalām, “Mencintai ulama itu baik, tapi ngatur ulama itu dosa.” dawuh Gus Baha’ di PBNU tempo hari disambut tawa para jemaah. [MZ]

Khoirul Athyabil Anwari Alumnus Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *