Ponpes Waria Al-Fatah Yogyakarta: Membuka Akses Ibadah Bagi Yang Terpinggirkan
Yang terpenting bagi mereka adalah ketenangan dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Ada ustad yang membimbing mereka mengenal agama.
Yang terpenting bagi mereka adalah ketenangan dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Ada ustad yang membimbing mereka mengenal agama.


Dari sekian banyaknya kasus pada waria, otoritas agama sebagai agen perubahan seharusnya mulai membuka mata, bahwa waria juga sering menjadi korban kemunkaran, terlepas dari statusnya yang tidak diakui dalam sosio-kultural.
![[Review Film] On Friday Noon: Agama, Seksualitas, dan Waria](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/10/On_Friday_Noon-ft-002_09646abacc795e0c892cdc5d264e3c1e_thumb-825x510.jpg)
![[Review Film] On Friday Noon: Agama, Seksualitas, dan Waria](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/10/On_Friday_Noon-ft-002_09646abacc795e0c892cdc5d264e3c1e_thumb-825x510.jpg)
Gus kita yang alim dalam masalah fiqh (hukum Islam) ini tidak pernah meminta para waria itu untuk mengingkari identitas gender warianya. Dia hanya mengarahkan dan membimbingnya para waria ini untuk beribadah dan bersimpuh kepada Tuhan.


Masjid seharusnya menjadi tempat bagi siapapun yang berusaha mencari kedamaian, menjadi tempat ternyaman bagi semua umat Islam untuk mendapatkan hak beribadah, termasuk kelompok gender ketiga

