Mutawakkil Alallah Mahasiswa magang UIN Sunan Kalijaga

Ponpes Waria Al-Fatah Yogyakarta: Membuka Akses Ibadah Bagi Yang Terpinggirkan

2 min read

Sumber: Tempo.co

Agama pasti hadir dalam diri setiap manusia, karena itu merupakan fitrah yang terbawa sejak lahir. Kehadiran Tuhan dalam diri setiap manusia adalah sebuah keniscayaan. Namun demikian, ekspresi keberagamaan dan kebertuhanan akan selalu berbeda-beda. Konsep keberagamaan dan kebertuhanan akan berbeda antara kiyai, santri, sarjana, dengan koruptor, pencuri, pencopet, pelacur dan waria. Masing-masing identik dengan peran dan pengalaman tersendiri. Oleh sebab itu, kesadaran akan perbedaan identifikasi agama dan Tuhan, seharusnya menjadikan manusia lebih leluasa untuk menghargai keberagamaan dan kebertuhanan orang lain, walaupun orang lain tersebut muncul dari kaum marginal, atau kaum yang dianggap pelaku dosa, sehingga setiap orang dengan sadar dan nyaman menjalani jalan agama dan jalan Tuhannya masing-masing yang diyakini

~ Arif Nuh Safri (Ustadz Ponpes Waria Al-Fatah) ~

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan tentang keagamaan secara lebih mendalam kepada santrinya serta mengajarkan kemandirian dan jauh dari orang tua. Umumnya santri yang tinggal di pondok adalah anak-anak yang sedang menempuh pendidikan mulai dari SD hingga SMA atau mungkin mahasiswa. Namun, di Yogyakarta ada pesantren unik yang isinya adalah para waria (wanita pria).

Namanya Pondok Pesantren Al-Fatah, embrio lahirnya pesantren ini bermula dari kegiatan pengajian umum yang diadakan salah satu waria untuk mendoakan korban gempa bumi pada tahun 2006. Seiring berjalannya waktu pengajian tersebut menjadi pengajian rutin setiap minggu. Sehingga Maryani, tokoh yang berinisiatif mengadakan pengajian, berpikir sangat penting mendirikan pesantren untuk para waria, ia berpandangan bahwa hak beragama adalah milik setiap manusia, begitu juga waria.

Tentu Maryani memiliki motif yang mempengaruhinya, selain tekanan, hambatan dan pandangan negatif dari sebagian besar masyarakat terhadap waria. Maryani merupakan salah satu dari tiga ribu jama’ah pengajian Al-Fatah yang pada umumnya diisi laki-laki dan perempuan di bawah bimbingan KH. Hamroeli Harun. Berkat kebesaran hati KH. Hamroeli Harun, ia terus mengikuti pengajian meski hanya ia seorang yang berasal dari kalangan waria.

Baca Juga  KH. Agoes Ali Masyhuri: Kiai Nyentrik Ribuan Umat

2008 adalah awal mula kehadiran pesantren in. Saat itu, lokasinya berada di Notoyudan, Kota Yogyakarta. Ponpes ini sempat vakum pada tahun 2014, saat Maryani pendiri pesantren meninggal dunia. Atas hasil rembukan, Shinta Ratri (58) meneruskan keberadaan pesantren dan memilih memindah lokasinya ke rumah pribadinya di Banguntapan, Bantul, Provinsi Yogyakarta.

Sebelum disediakan lembaga pesantren ini, para waria kesusahan mencari tempat jika hendak beribadah karena tak semua orang bisa menerima mereka. Dengan latarbelakang ini ponpes Al-Fatah didirikan guna mengakomodasi teman-teman yang ingin dekat dengan Tuhan.

Niat baik ini tidak berjalan mulus, pada tahun 2016 Pesantren Al-Fatah pernah ditutup oleh aparat pemerintah setempat dengan alasan tidak berizin dan dianggap meresahkan warga. Tindakan aparat ini dipicu oleh sebuah kelompok ormas, karena pesantren ini dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Lantas LBH yang didirikan untuk membantu masyarakat tanpa memadang status sosial dan ekonomi memprotes penutupan ini. LBH menilai penutupan ini sebagai penghakiman sepihak. Dalam menyelesaika kasus tersebut, LBH mempertemukan pihak Pesantren, aparat dan warga setempat, dan ormas unuk mengklarifikasi anggapan yang menyudutkan pesantren. Akhirnya pesantren diputuskan ditutup.

Sejak ditutup pada tahun 2016, Shinta Ratri selaku pemimpin tidak patah semangat unuk membangkitkan kembali semangat yang telah dicita-citakan mandiang Maryani. Al-Fatah  perlahan bangkit dengan memulai kegiatan pengajian setiap minggu seperti saat pertama kali didirikan.

Saat pesantren ditutup, banyak dari para waria merasa tidak aman dan mengalami ketidaknyamanan saat beribadah di masjid karena masih ada yang merasa risih dengan keberadaan waria.

Di rumah klasik berbentuk joglo, biasanya kegiatan pesantren dilakukan di pendopo utama. Ruangan ini merupakan pusat kegiatan pesantren mulai dari mengaji dan sembahyang. Dalam menunaikan ibadah mereka berbusana berdasarkan kenyamanan masing-masing, ada yang memakai sarung dan ada juga yang memakai mukena. Yang terpenting bagi mereka adalah ketenangan dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Ada ustad yang membimbing mereka mengenal agama, ada pula pelajaran Bahasa Arab, membaca Al-quran, Fiqih, Bulughal Maram serta pelajaran agama lain dan juga diskusi feminisme dan Islam.

Baca Juga  Ahmad Zainul Hamdi: Dari Santri untuk Mengabdi

Saat ini ada sekitar 40-an yang tergabung di pesantren ini, pada bulan puasa kegiatan diadakan dua kali dalam seminggu, yakni rabu dan minggu. Tapi pada bulan biasa hanya diadakan setiap hari minggu.

Kini, pesantren tidak hanya fokus pada pengajian. Pesantren juga fokus pada peningkatan kualitas hidup waria yaitu dengan pelatihan keterampilan, terutama yang berprofesi sebagai pekerja seks untuk memperbaiki kesejahteraan mereka.

Diumur yang melebihi satu dekade, pesantren Al-Fatah kerap mengundang masyarakat setempat jika ada pengajian bahkan belajar bersama, mulai dari bahasa Inggris, memasak hingga merias. Bahkan untuk menjawab kasus-kasus yang dihadapi dilingkungan sosial seperti konflik waria dengan keluarganya, pesantren membentuk family support groups sebagai bentuk dukungan untuk teman-teman waria yang belum diterima keluarganya. Bahkan mereka juga membuat kelompok pemulasaraan jenazah karena ketika terdapat kasus waria meninggal enggan ada yang  memandikan jenazahnya.

Meskipun pada awalnya pesantren ini didirikan untuk menampung waria yang beragama Islam, tapi diumur yang sudah melewati satu dekade pesantren ini juga menampungan waria berkeyakinan Kristen-Katolik untuk mendapat bimbingan keagamaan dengan bekerjasama dengan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Bahkan juga mengikuti rangkaian program peduli, pertukaran waria antar-provinsi yang digagas Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). [MA]

Mutawakkil Alallah
Mutawakkil Alallah Mahasiswa magang UIN Sunan Kalijaga