Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online

Kyai Mutamakkin dan Corak Islam di Nusantara Sebelum Abad ke-20 (2)

4 min read

iqra.id

Sebelumnya: Kyai Mutamakkin dan Corak Islam… (1)

Ciri ketiga, biasanya aktivitas haji pada era itu tidak berhenti sebagai kegiatan ritual belaka. Sebagian orang yang haji akan tinggal lama di Mekah, kemudian berkeliling ke wilayah-wilayah lain di Timur Tengah, entah untuk dagang atau “ngaji”. Tradisi haji yang diteruskan dengan ngaji, adalah praktek yang lazim pada era itu. Ulama-ulama masyhur dari Nusantara yang mewariskan karya-karya besar, menempuh trayektori ini: haji-terus-ngaji.

Kita jangan berpikir tentang zaman itu dengan sudut pandang sekarang. Zaman ketika Kiai Mutamakkin hidup adalah era “pra-paspor/visa”. Siapapun bisa berangkat dan tinggal selama mungkin di Mekah dan Madinah, atau di negeri manapun, asal ada ongkos. Tak ada persyaratan visa sama sekali. Geografi tradisional sebelum lahirnya negara-bangsa modern adalah “fluid geography,” kawasan yang cair. Orang bisa pergi ke bagian manapun di dunia, tanpa terkendala rezim paspor/visa.

Ini berbeda dengan geografi modern yang cenderung “rigid,” kaku. Kita, saat ini, harus melintasi birokrasi berlapis-lapis untuk pergi, berkunjung, apalagi tinggal di negeri lain. Meski alat transportasi sudah sangat maju saat ini (hanya dalam waktu delapan jam, seorang Muslim dari kawasan Melayu bisa “cling” sampai di Jeddah!), tetapi “birokrasi perjalanan” saat ini jauh lebih rumit dan repot dibandingkan dengan zaman Kiai Mutamakkin.

Dalam riwayat yang kita dengar di daerah Kajen dan sekitarnya, Kiai Mutamakkin dikisahkan pernah berguru kepada ulama dari Yaman bernama Muhammad Zain al-Mizjaji. Nama ini disebut juga dalam Serat Centhini yang memuat riwayat pengadilan atas Kiai Mutamakkin di Keraton Kartasura (pada zaman Pakubuwono II). Dalam serat itu, ia disebut: Seh Jen. Siapa sosok ini, tidak terlalu jelas.

Melalui penelusuran saya, tidak ditemukan data yang terang mengenai Seh Jen dari Yaman ini (saya cek melalui sejumlah kitab tarajum, antara lain Abjad al-‘Ulum karya al-Qanuji dan al-Nafas al-Yamani karya ulama Yaman dari abad ke-19, Abdurrahman al-Ahdal). Milal Bizawie, penulis buku tentang Kiai Mutamakkin itu, juga sampai kepada kesimpulan serupa.

Baca Juga  Sikap Gus Dur Menghadapi Kelompok Islam Garis Keras [3]

Yang jelas adalah bahwa Seh Jen ini adalah putera dari ulama besar bernama Muhammad Baqi al-Mizjaji yang merupakan guru dari Syekh Yusuf Makassar. Seh Jen juga memiliki seorang putera yang terkenal: Syekh Abdul Khaliq al-Mizjaji. Yang terakhir ini adalah salah satu dari guru Syekh Abdurrahman al-Ahdal, pengarang kitab al-Nafas al-Yamani yang sudah saya sebut di depan.

Dengan kata lain, identitas mengenai ayah dan putera Seh Jen kita ketahui dengan cukup baik; tetapi mengenai dirinya sendiri, kita tidak memiliki data yang terang. Dengan data ini, kita juga menjadi tahu bahwa nama yang tepat dari guru Kiai Mutamakkin adalah Zain ibn Muhammad al-Mizjaji, bukan Muhammad Zain Mizjaji sebagaimana kita jumpai dalam beberapa tulisan yang beredar selama ini.

Lepas dari siapa Seh Jen ini, kita patut bertanya: Apakah mungkin Kiai Mutamakkin belajar kepada sosok ini? Jawabannya jelas: ya. Seperti saya katakan sebelumnya, tradisi “haji-terus-ngaji” sudah amat umum terjadi jauh sebelum era Kiai Mutamakkin. Pertanyaan berikutnya: Di mana Kiai Mutamakkin belajar pada sosok ini; di Mekah atau di Yaman? Sangat mungkin bahwa beliau belajar dengan Seh Jen ini di Yaman, mengikuti sosok lain dari Nusantara, yaitu Syekh Yusuf Makasar.

Salah satu tarekat yang menonjol di Yaman pada era itu adalah dua: Naqshabandiyyah dan Syattariyyah. Dengan demikian, kita bisa berasumsi bahwa Kiai Mutamakkin berbaiat pada mursyid dua tarekat itu. Hal serupa juga terjadi pada Syekh Yusuf Makassar. Bahkan pada kasus Syekh Yusuf, kita tahu, dia juga berbai’at pada mursyid tarekat lain, yaitu Khalwatiyyah. Beliau bahkan lebih dikenal sebagai muryid tarekat ini di Nusantara.

Ciri keempat dan terakhir adalah bahwa Kiai Mutamakkin hidup ketika ajaran tentang martabat tujuh yang bersumber dari tasawuf Ibn Arabi, masih cukup populer di kawasan Nusantara, antara lain berkat pengaruh Syekh Abdurrauf Singkel. Sangat mungkin sekali bahwa Kiai Mutamakkin mengetahui, bahkan mempelajari, serta memgamalkan ajaran ini. Dalam kisah yang populer di masyarakat Kajen, Kiai Mutamakkin dikenal sebagai sosok yang amat menggemari kisah Bima dan Dewa Ruci yang bersumber dari Serat Dewa Ruci. Dalam Serat Cebolek, hal ini dengan gamblang juga disinggung.

Baca Juga  Perkembangan Masjid dan Penyebaran Islam di Bolaang Mongondow (1)

Serat Dewa Ruci jelas akan dengan mudah diapresiasi oleh mereka yang memahami dan mengakrabi ajaran-ajaran Ibn Arabi, terutama yang telah mengalami transformasi dan ditubuhkan menjadi ajaran martabat tujuh.

Bahwa Kiai Mutamakkin menggemari kisah Dewa Ruci dan Bima (alias Werkudara) ini juga menunjukkan banyak hal. Pertama, beliau memiliki apresiasi yang tinggi pada khazanah pewayangan. Dan ini tidak mengherankan; ia adalah keturunan bangsawan Jawa dari Tuban yang sudah pasti akrab dengan, dan menggemari kisah-kisah pewayangan. Kedua, Kiai Mutamakkin hanya meneruskan “tradisi pengetahuan” yang sudah ada sebelumnya yang hendak saya sebut sengan “tradisi Singkel”.

Tradisi Singkel melambangkan suatu khazanah keislaman yang menggabungkan tiga elemen penting: aqidah Asy’ariyyah, fiqh mazhab Syafii, dan tasawuf campuran antara model al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi. Para ulama Nusantara yang hidup sebelum abad ke-20 sangat akrab dengan tradisi Singkel. Ajaran Ibnu Arabi yang menjadi landasan teori martabat tujuh sangat digemari di kawasan Melayu pada era itu.

Sosok lain yang juga hidup sezaman dengan Kiai Mutamakkin adalah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (w. 1730) dari Tasikmalaya. Sebagaimana Kiai Mutamakkin, Syekh Abdul Muhyi juga mengikuti tradisi Singkel ini; bahkan ia sendiri adalah murid langsung dari Syekh Abdurrauf Singkel. Sebagaimana kita tahu, Syekh Muhyi juga menulis risalah mengenai martabat tujuh, dalam bahasa Arab, Jawa, dan Sunda.

Di sini kita patut bertanya: apakah Kiai Mutamakkin pernah bertemu langsung dengan Syekh Abdurrauf Singkel? Tidak ada bukti yang jelas mengenai hal ini. Tetapi kemungkinan itu jelas ada. Perjalanan dari Tuban menuju Yaman dan Hijaz pada zaman itu jelas melintasi Selat Malaka. Sangat mungkin Kiai Mutamakkin singgah sejenak di Aceh dan “sowan” kepada Syekh Abdurrauf Singkel.

Baca Juga  Gus Baha’, Sumanto Al-Qurtuby, dan Rijal Mumazziq

Tetapi jika pertemuan ini benar-benar pernah terjadi, sudah pasti tidak lama. Sebab tujuan utama Kiai Mutamakkin adalah Hijaz. Dengan demikian, kita tidak bisa menyebut Kiai Mutamakkin sebagai murid dari Syekh Singkel dalam pengertian yang sesungguhnya (ditandai dengan ngaji lama). Ini berbeda dengan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang sempat “ngaji” dalam waktu yang lama dengan ulama dari Aceh itu.

Hal yang juga patut ditelusuri adalah: Apakah Kiai Mutamakkin meninggalkan karya tertulis? Zainul Milal Bizawie menyebut satu kitab berbahasa Arab yang konon ditulis Kiai Mutamakkin, berjudul “‘Arsyul Muwahhidin”. Tetapi dia, dalam bukunya yang sudah saya sebut di atas, tidak menyebutkan bukti-bukti “material” tentang hal ini. Dia hanya mengulas kitab ini “in extenso,” secara panjang lebar, dengan mangasumsikan bahwa kitab ini benar-benar ditulis oleh Kiai Mutamakkin.

Saya sendiri tidak bisa membuktikan apapun. Tetapi kemungkinan itu tetap ada. Kiai Mutamakkin hidup di era ketika tradisi menulis kitab (baik dalam bahasa Arab, Melayu, atau bahasa-bahasa lokal lain) masih cukup kuat. Dalam hal tulis-menulis mengenai ilmu-ilmu keislaman ini, harus diakui, ulama Jawa masih kalah dibandingkan dengan ulama-ulama Sumatera, terutama pada era sebelum abad ke-19.

Dengan melihat konteks seperti ini, kita bisa mengasumsikan bahwa sangat mungkin Kiai Mutamakkin menulis sebuah kitab. Sebagian besar ulama yang hidup sezaman dengan Kiai Mutamakkin menulis kitab, termasuk Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (sebagian besar karya-karyanya “diborong” ke Belanda dan menjadi koleksi pribadi C. Snouck Hurgronje di Leiden).

Selanjutnya: Kyai Mutamakkin dan Corak Islam… (3)

Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online