Ubaidillah Najih Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Hayya, The Power of Love 2: Perjuangan untuk Mendapatkan Kebahagiaan

2 min read

Film berjudul “Hayya: The Power of Love 2” mungkin tidak banyak dikenal oleh banyak orang. Film ini merupakan film lokal yang menceritakan tentang Negara Palestina yang sedang dilanda konflik dengan Israel.

Dalam Film tersebut, dikisahkan seorang anak kecil Palestina, yatim piatu, yang bernama Hayya Qasim binti Atta Hisyam. Ia tidak memiliki keluarga sama sekali karena anggota keluarganya telah meninggal sebab konflik yang terjadi secara berkepanjangan di sana.

Hayya memiliki hubungan sangat dekat dengan Rachmat, seorang relawan asal Indonesia, sebagaimana hubungan seorang ayah dan anak. Karena kasih sayang Rachmat kepadanya, Hayya sangat menyayanginya bahkan seperti keluarganya sendiri.

Karena tugas Rachmat di Palestina sudah selesai, ia kemudian terpaksa harus pulang ke Indonesia. Perasaan Hayya sangat terpukul ketika mendengar kabar tersebut. Di luar dugaan, saat Rachmat kembali ke Indonesia, secara mengejutkan Hayya menyelinap ke dalam koper Rachmat dan ikut kembali ke Indonesia.

Pada keadaan inilah, petualangan gadis kecil bernama Hayya di Indonesia dimulai, yang kemudian hari membuat konflik bagi kehidupan Rachmat. Namun, di sisi lain Rachmat tidak ingin membiarkan Hayya kembali ke Palestina, karena rasa sayangnya kepada gadis kecil ini.

Ia rela mati-matian untuk mempertahankan Hayya agar tetap tinggal di Indonesia bersamanya. Hingga akhirnya datanglah kedutaan dari Palestina datang ke Indonesia untuk mengabarkan bahwa salah satu anak Palestina menghilang. Pimpinan Aman Palestina pun mengabarkan itu kepada seluruh relawan yang saat itu menjadi relawan di Palestina.

Setalah lama mancari informasi keberadaan Hayya, akhirnya pihak Aman Palestina mendapat kabar bahwa Hayya berada di Ciamis, Jawa Barat. Seketika itu pihak Aman Palestina datang untuk menjemput Hayya. Laporan keberadaan Hayya di Ciamis berasal dari Yasna calon istri Rahmat. Alasan Yasna memberikan informasi itu karena ia ingin mencari jalan tengah demi kebaikan Rahmat dan Hayya.

Baca Juga  Meskipun Sulit, Kondisi Di Tengah Pandemi Tetap Harus Dilalui

Namun, ketika pihak Aman Palestina mendatangi rumah Rahmat, Hayya sudah tidak ada di sana. Ternyata Hayya diajak kabur oleh Adhin agar Hayya tetap bisa tinggal di Indonesia. Namun, sekeras apapun usahanya, peraturan tetap peraturan. Hingga akhirnya Hayya dapat di ditemukan dan akan dikembalikan ke Palestina.

Dari sosok Hayya ini, kita bisa belajar tentang sebuah perjuangan. ya,,, perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan yang dia impikan betapapun besar rintangan yang menghadang di hadapannya.

Seperti sebuah pepatah yang mengatakan, Life is a strunggle, kehidupan merupakan sebuah perjuangan. Perjuangan merupakan suatu upaya atau sebuah usaha yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai suatu yang diinginkan melalui rintangan atau proses yang dihadapi pada lingkungan masyarakat yang ditempati.

Sering sekali kita mendengar bahwa untuk mendapatkan kesuksesan kita harus berjuang hingga titik darah penghabisan. Maksudnya, kita sebagai manusia harus selalu berjuang dan berikhtiar dalam menghadapi cobaan hidup, sehingga kita dapat memetik sebuah keberhasilan dari usaha dan kerja keras kita selama ini.

Dalam hal ini, saya kira Ibadah juga merupakan sebuah perjuangan dalam hidup yang diajarkan dalam agama Islam. Islam sama sekali tidak mengajarkan para umatnya untuk hidup bermalas-malasan dan Islam selalu mengajarkan para umatnya untuk selalu berjuang dalam menghadapi kehidupan ini. Agama Islam selalu mengajarkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang melainkan seseorang tersebut berjuang sendiri untuk merubah nasibnya.

Di sisi lain, hal yang sangat identik dengan sebuah perjuangan adalah adanya suatu cobaan. Cobaan merupakan salah satu bagian dari sebuah perjuangan yang tidak dapat dipungkiri, dan pasti akan dialami oleh semua manusia yang ada dimuka bumi ini. Cobaan terkadang memang terasa sangat berat sekali, sehingga banyak dari kita yang merasa sangat menderita dalam menghadapinya. Bahkan, yang tidak kuasa melewatinya nekat untuk mengakhiri hidupnya.

Baca Juga  Sumbangsih Aksara Jawi: Lingua Franca di Asia Tenggara

Seperti layaknya kehidupan, ada saatnya kita berada di atas dan ada saatnya kita berada di bawah. Meskipun demikian kita tetap mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup. Supaya kita mampu bangkit dan mengintrospeksi diri untuk menjadi pribadi atau individu yang lebih baik. [AA]

Ubaidillah Najih Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya