Mengatasi Kesehatan Mental Gen Z dengan Prinsip Stocism

Gen Z seringkali dinisbatkan sebagai generasi yang sejahtera karena hidup dan tumbuh di era pesatnya kecanggihan teknologi. Dalam segala aktivitasnya, mereka tak pernah lepas dengan yang namanya media sosial. Mereka selalu tampak sebagai generasi yang menjalani hidup dengan sangat mudah.

Meskipun demikian, penelitian University College London menunjukkan tingkat depresi Gen Z dua pertiga lebih tinggi dibandingkan milenial. Tak hanya itu, berdasarkan hasil penelitian Pew Research Center, sekitar 70 persen remaja dari berbagai latar belakang mengalami kecemasan dan depresi.

Dari maraknya isu kesehatan mental ini, Islam dan filsafat stoicsm berkolaborasi sebagai pedoman yang memberikan solusi terkait cara menjaga kesehatan mental. Stoicism, yang lahir pada abad ke-3 SM melalui pemikiran Zeno dari Citium, mengenalkan prinsip dikotomi kendali yang di dalamnya mengajarkan manusia supaya fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, dan menerima dengan lapang dada perkara yang di luar kendali mereka. Prinsip ini tentunya sangat relevan dalam menghadapi tekanan mental di era digital.

Prinsip dikotomi kendali tersebut selaras dengan ajaran Islam bahwa kita sebagai umat muslim layaknya bersyukur sebagai bentuk meyakini adanya qada dan qadar, serta tulus menerima kehendak-Nya. Hal ini dapat menjadi solusi untuk gen Z yang memiliki tekanan emosional, seperti stress terkait pekerjaan atau masalah pribadi.

Salah satu kemungkinan penyebab gen Z memiliki tekanan mental ialah karena mereka sering terpapar oleh media sosial secara berlebihan. Banyak kasus yang terjadi akibat kecanduan menggunakan gawai. Kesulitan mengendalikan emosi contohnya, gen Z cenderung mudah marah ketika dihadapkan dengan realita yang terjadi pada mereka.

Dalam Islam terkait konteks di atas, selaras dengan apa yang tertuang dalam hadist Nabi Muhammad SAW:

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Jangan marah, maka bagimu surga” (HR. Al-Bukhori no. 6116)

Pesan dari hadist ini mengajarkan pentingnya pengelolaan emosi, sebagai salah satu langkah utama dalam menjaga kesehatan mental.

Di sisi lain, Stoicism mengedepankan konsep meditations. Yang mana Marcus Aurelius mengatakan “Pikiran yang tidak diganggu oleh emosi berkecamuk adalah sebuah benteng, tempat berlindung terkokoh bagi manusia untuk berteduh dan berlindung”. Dengan memadukan kedua pedoman ini, diri seseorang akan terlatih memiliki pengendalian diri yang kokoh untuk menghadapi tantangan hidup.

Kemudian filsafat stoicism menawarkan imunisasi mental untuk masalah populer Gen Z. Tidak lain dan tidak bukan adalah Overthinking. Masalah ini sesuai dengan ucapan Seneca, jika kita menderita “sebelum” saatnya. Kita juga menderita ”lebih” dari semestinya.

”Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara masa kini dan hal-hal yang baru akan terjadi. Pikirkan apa yang sudah jadi bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri”.-Seneca (Letters from a stoic).

Penulis mendapatkan pelajaran dari apa yang Seneca katakan, ”We suffer more in imagination than in reality” (Kita menderita lebih di imajinasi kita daripada di kenyataan).
Tips yang bisa diambil dari perkataan Seneca untuk menghadapi overthinking adalah Sadari bahwa sebenarnya yang menyiksa adalah pikiran kita sendiri, bukan realita yang akan terjadi.

Islam juga memberikan jawaban kepada kita bahwa  selayaknya menyelesaikan masalah dengan menyederhanakannya , tidak memperumitnya apalagi hingga overthinking. Tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Allah mengingnkan (menghendaki) kalian kemudahan, dan tidak menginginkan kalian kesusahan

Tak cukup itu, Allah memberikan motivasi sederhana namun bermakna kepada hambanya.
Ayat ini pasti familiar bagi pembaca:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرً

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 6)

Ayat ini memotivasi kita agar selalu optimis dalam menghadapi kesulitan, sebagai pelajaran bagi kalangan gen Z agar tidak menyerah dan tetap semangat di tengah tekanan hidup.

Dari segala bentuk problematika gen Z, Islam dan filsafat stoicism memberikan solusi praktis untuk kesehatan mental. Yang pertama, Fokus pada apa yang bisa dikendalikan. Dalam Islam, ini senada dengan konsep ikhtiar dan tawakkal. Dalam stoicism, ini meliputi pikiran, keputusan, dan tindakan yang akan kita lakukan.

Kedua, menerima dengan lapang dada akan hal yang terjadi di luar kendali: Islam menekankan agar ridho dengan kehendak Allah SWT. Sementara stoicism mengajarkan penerimaan (Amor Fati)

Ketiga, melatih ketenangan jiwa melalui refleksi: Islam melatih ketenangan jiwa umat Islam dengan ritual Sholat dan dzikir. Sedangkan praktik pada filsafat stoicism ialah dengan meditation ala stoicism.

Dengan menerapkan nilai-nilai keislaman dan prinsip-prinsip stoicism, gen Z telah mendapatkan pedoman praktis untuk memperbaiki dan menjaga kesehatan mental mereka. Ajaran Islam dan prinsip filsafat menjadi pelengkap yang sempurna dalam melatih keseimbangan antara spiritualisme dan logika di era modern ini

13

Mahasiswa Ilmu Hadis, UIN Sunan Ampel

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.