



Islam merupakan petunjuk bagi orang- orang beriman, Islam pada hakikatnya memudahkan segala sesuatu, Nabi Muhammad adalah suri tauladan yang baik, karena beliau maksum dijaga oleh perbuatan dosa, maka segala macam perbuatan Nabi juga merupakan bentuk ibadah. Ibadah itu tidak sesulit yang kalian bayangkan, jika melihat ibadah itu ada dua, ibadah mahdah ibadah yang langsung berkaitan dengan Tuhan yang berisi syariat rukun, dan kewajiban seperti puasa, sholat, haji serta rukun islam lainnya yang bersifat teosentris dan ghairu mahdah yang berkaitan langsung dengan kemanusiaan antroposentris, seperti memuliakan tamu, tasamuh(toleransi), ta’adul (berbuat adil).
Islam mengajarkan semuanya dengan mudah, bahkan ajaran syariat para Rasul dan Nabi terdahulu dipermudah. Ketika Islam datang salah satu bukti contohnya adalah ajaran syariat Nabi Musa, ketika umat Nabi Musa terkena najis pada zaman dahulu mereka merobek kain dan membuangnya. Berbeda dengan umat Nabi Muhammad ketika mereka terkena najis hanya diperintahkan membersihkanya dengan air atau mencucinya. Seperti sabda Rasulullah SAW yang tersirat dalam Hadits Riwayat Al- Bukhari ke 39 yang berbunyi,
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ
“Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam,”
Maksudnya adalah bahwa agama ini membawa kesejukan dan kemudahan dalam menunaikan Ibadah. Ibadah merupakan kewajiban seorang muslim, apalagi yang sudah mukallaf (Mengerti), Secara etimologi Ibadah diambil dari bahasa arab yakni عبد yang bermakna luas, bisa diartikan menyembah, hamba, budak. Dan secara bahasa ibadah juga berarti suatu usaha untuk berbakti kepada untuk menunaikan kewajiban dan menghindari larangan Tuhan. Islam sebenarnya mengajarkan dimensi ibadah secara mudah dan universal. Berikut ini adalah amalan amalan yang mudah untuk dilakukan.
Tersenyum
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR Muslim).
Senyum merupakan ibadah yang mudah dan memiliki balasan yang tinggi disisi Allah SWT, karena senyum merupakan gambaran dari seseorang tersebut bahwa ia bahagia dan ridho kepada qodho’ dan qodarnya, Senyum dapat menenangkan kita dalam menjalani hidup dengan rileks tanpa mengeluh kepada Tuhan, seperti saat kita tertimpa musibah dan kita tidak bisa melakukanya selain tersenyum, maka itu merupakan Ibadah yang sangat besar daripada kita mengeluh dan seolah- olah kita menghina Tuhan, padahal Tuhan berfirman dalam QS Al- Baqarah ayat 286 yang menganjurkan kita untuk berpasrah dan berserah diri melalui tersenyum.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
Maka perbanyaklah tersenyum. selain menenangkan tersenyum juga mengurangi depresi dan merupakan simbol kebahagiaan sejati ,maka perbanyaklah tersenyum.
Membahagiakan Orang lain
Rasulullah pernah bersabda dalam Kitab Syarah Qomi’ut Tughyan oleh Syekh Imam Nawawi Al Bantani yakni
“Memasukan kebahagian di hati seorang mukmin lebih baik daripada beribadah selama 60 tahun”
Maksudnya adalah seseorang yang selalu menghibur saudaranya, keluarganya, temanya, gurunya atau siapapun yang merasakan kesedihan lebih baik daripada seseorang yang selalu beribadah namun selalu memikirkan dirinya sendiri(egoisme), karena pada hakikatnya jika kita membahagiakan orang lain adalah bentuk kita membahagiakan diri sendiri ,dan jaminanya adalah kebaikan akan dibalas kebaikan, begitupun kebahagiaan akan dibalas kebahagiaan dengan penguatan Firman Allah yakni
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا ﴿الإسراء : ۷﴾
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjid Al Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra’: 7)
Memberi Makan Makhluk Hidup
Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;
أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْىٍ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ
Muslim mana saja yang memberi pakaian orang Islam lain yang tidak memiliki pakaian, niscaya Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya surga. Muslim mana saja yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di surga. Lalu muslim mana saja yang memberi minum orang yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari Al-Rahiq Al-Makhtum.
Memberi makan tidak selalu dengan hal yang besar, terkadang kita bisa menaburkan gula di atas tanah untuk memberi makan semut, atau memberi makan kucing kesayangan kita, bahkan ada kisah bahwa Tinta dari Imam Ghozali saat menulis bukunya, yang ia buka dan sengaja lalat menghisapnya diterima oleh Allah. Memberi makan kepada orang lain juga mempermudah pertumbuhan stabilitas ekonomi, dengan kita saling berbagi, menunjukan bahwa kita manusia pastinya harta yang diperoleh kita bukan untuk kita saja, tetapi wajib disedekahkan untuk orang lain.
Itulah salah satu bentuk ibadah yang mudah tetapi memiliki balasan yang tinggi dihadapan Allah SWT, sebenarnya ibadah dan berbuat kebaikan itu pahalanya hanya Allah Swt yang mengetahui, maka jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Sekian
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwa min Thoriq
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah