Krisna Wahyu Yanuariski Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah

Istighfar Gerbang Menuju Self Awareness

2 min read

Di dunia yang tidak bisa ditebak, kebenaran semakin dipandang relatif, maka banyak problem yang akan selalu dihadapi seorang insan di era perkembangan. Hidup dalam sebuah sistem yang diatur oleh data- data dan algoritma merupakan kehidupan yang rumit, dimana kejahatan sudah tidak dipandang dengan fisik tapi maya. Di hidup serba klik dan geser, comment, tentunya kebebasan kita sebagai manusia perlahan- lahan di kotakan. Misal saja bila kita menuruti kemauan media sosial untuk mengunggah suatu pencapaian, pasti tidak luput yang namanya komentar- komentar pedas, atau pun bila kita melakukan kesalah dan terekam di jejak digital, terkadang kesalah kita justru tersebar luaskan dan akhirnya viral.

Viralitas adalah suatu gejala manusia yang tidak bisa lepas dari fenomena yang update, kita lebih suka mengkritik, mengomentari kehidupan orang lain. Akibatnya kita lupa akan kesalahan diri sendiri dan kesadaran diri sendiri sebagai manusia. Mengomentari kehidupan orang lain memang dibolehkan sebagai bentuk autokritik, tetapi diluar batas tersebut, kita akan kecanduan dan mengikuti arus yang bergelombang itu, dan kehilangan jati diri, dengan begitu manusia akan kehilangan kereligiusannya. Bukan suatu dogma tetapi ada hal yang lebih baik digali dari diri sendiri menciptakan suatu hal konstruktif daripada mempertentangkan realitas yang belum mengetahui kedalaman makna tersebut, maka dari itu Istighfar sebagai gerbang utama dalam menemui permasalahan eksistensial.

Reinterpretasi Makna Istighfar

Dilihat dari asal katanya, istighfar berasal dari  ghofaro yaghfiru yang berarti “pengampunan atau pengampunan”. Lafazh ini mengikuti wazan, istaf’ala, yastaf’ilu, istif’alan, sehingga istighfar mengandung arti meminta ampunan. Syekh Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa kata Istighfar yang berarti meminta maghfiroh, dan kata maghfiroh maksudnya meminta perlindungan diri dari dosa (Ma’arif, 2019).

Baca Juga  Perempuan Bukan Penghambat Seorang Muslim untuk Beribadah

Dalam pembahasan tasawuf meminta ampunan adalah makna meminta permohonan maaf atas dosa- dosanya. Manusia memang tidak luput yang namanya dari dosa, bahkan sekelas Nabi dan Rasul yang dijaga kemaksumanya, tetap mengucap Istigfar, dalam hadist beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristighfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Tetapi ruang agama ada yang bersifat profan dan sakral, dalam hadits diatas ada dua makna yang terkandung, pertama nabi menjalani istighfar sebagai hal yang sakral yang terdiri dari ritual keagamaan, dan yang kedua nabi berusaha memikirkan segala sesuatu yang berulangkali bila beliau melakukan kesalahan, walaupun menurut manusia biasa itu bukanlah suatu dosa. Dan dosa antara Tuhan itu adalah hal yang sakral, dan dosa terhadap manusia itulah hal yang profan. Yang seharusnya tahapan rekonstruksi kesalahan dalam bermasyarakat, digunakan dengan mengembalikan citra diri dan melakukan kesalehan sosial. Dari konsep Istighfar yang hanya sebagai ritual harus dipahami kembali makna- makna terdalam tentang beragama itu sendiri yang selalu lekat dengan namanya kemanusiaan.

Self Awareness dan Muhasabah Konteks Sosial

Setiap nabi dan rasul selalu memintakan ampunan kepada umatnya yang melakukan suatu tindakan yang keji dibuktikan dari Surah Nuh Ayat 10-12, yang mana Nabi Nuh As juga menganjurkan umatnya untuk meminta maaf kepada Tuhan, dan selalu berefleksi akan tindakannya. Dalam hal tersebut juga sebagai landasan seorang manusia kata Kierkegaard yakni Homo Religius, manusia yang memiliki titik ketuhanan yang mana mau tidak mau, harus mengakui ada hal yang luar biasa diluar dari dirinya sendiri, sesuai kadar sensitivitasnya menyadari itu.

Baca Juga  3 Hal yang Menjadi Tanggung Jawab Setiap Orang Berilmu

Dalam kejadian- kejadian umat yang di azab oleh Tuhan, ada pelajaran yang menarik yakni Istighfar sebagai ritual dan konsep pencarian kesadaran diri atau Self Awareness, Perlu diketahui bahwa mencapai kesadaran diri yang optimal tidaklah mudah. Mengenal diri sendiri adalah pelajaran seumur hidup yang penuh perjuangan. Jadi pertama-tama kita harus mengerti  bahwa pendidikan spiritual sangat penting untuk memahami diri sendiri, individu, kelompok dan masyarakat pada umumnya. Landasan adalah من عرف نفسه فقد عرف ربه،  yang artinya barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenali Tuhannya.

Maka dalam memahami Istighfar sebagai gerbong mencari kesadaran diri, adalah menyadari bahwa dirinya manusia, fakta kesengsaraan, fakta kematian adalah miliknya, kehidupan adalah anugerah terbesar yang dimilikinya, sebagai manusia pada umumnya, ia seharusnya selalu belajar akan setiap kejadian, dan menyiapkan waktu luang, karena waktu luang adalah sebagian dari mencari kebijaksanaan. Kemudian ritual Istigfar bisa dilakukan seperti pada umumnya, yakni membaca amalan- amalan dari Nabi.

Kemudian dari itu ia seharusnya juga bermuhasabah konteks sosial atas tindakan yang ia lakukan apakah ia merugikan orang lain atau melanggar peraturan agama?, Dan menyadari setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, semua yang diluar kontrol kita adalah sebatas persepsi untuk kita, bukan suatu kebenaran murni, menjalani diri sendiri juga menghargai diri sendiri, akan memantik kesadaran diri, bahwasanya daripada menyesali kesalahan, kejahatan kita yang telah berlalu dan berlarut- larut.

Berdasarkan penjelasan  Goleman (2007) mengemukakan bahwa kesadaran diri yang baik  dicapai ketika orang dapat mengembangkan kesadaran diri, kemampuan untuk mengendalikan  keberanian dan kemampuan untuk bersikap optimis. Ada hubungan yang signifikan antara perilaku kesadaran diri (self-awareness) dengan aktivitasnya yang negatif (Natalia Chelsie, 2019).

Baca Juga  Islam dan Justifikasi Media Sosial

Kesimpulanya istighfar memiliki energi positif dalam membentuk kesadaran diri setiap manusia, selagi manusia dapat memahami kemanusiaanya, dan beberapa hal yang berkaitan dengan hubungan teosentris (Hablum minallah). Maka dari itu agama memiliki kompleksitas memberikan penyelesaian setiap masalah manusia, juga sebagai kontrol sosial tindakan manusia, sekian.

Krisna Wahyu Yanuariski Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah