Zumrotus Shofa Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Logika Deduktif dan Induktif dalam Praktik Berpikir

2 min read

Penalaran adalah proses kognitif yang menggunakan kaidah logika untuk menilai atau menarik kesimpulan tertentu berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan.

Selain itu, logika dapat didefinisikan sebagai kemampuan akal untuk secara sadar menerapkan ilmu logika dengan menarik kesimpulan dari informasi baru atau yang sudah ada sebelumnya dengan menggunakan berbagai cara untuk mencari kebenaran.

Terdapat dua macam penalaran, yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif (inferensi silogistis), atau juga disebut dengan logika deduktif, merupakan suatu penyimpulan secara tidak langsung, yaitu proses penalaran dari suatu hal yang diketahui menuju sesuatu yang tidak diketahui untuk mencapai kesimpulan yang dimaksud dengan menggunakan kaidah-kaidah yang tidak bisa dibantah kebenarannya.

Ia juga dapat disebut proses untuk mencapai kesimpulan logis tertentu melalui penalaran dari satu atau lebih pernyataan umum mengenai apa yang diketahui. Dalam penalaran deduktif yang benar, kesimpulan atau konklusi selalu valid atau sahih lantaran kesimpulan sebenarnya sudah terkandung dalam premis.

Karena itu, kebenaran dalam penalaran ini sangat tergantung pada kebenaran-kebenaran dalam premis. Maka, kesimpulan yang lurus dalam metode deduktif ini selalu benar (sahih). Seperti contoh sebagai berikut:

Premis 1: Kamu mengerti urusan agama.

Premis 2: Setiap orang yang mengerti urusan agama adalah seorang ulama.

Kesimpulan: Kamu adalah ulama.

Pada kesimpulan tersebut, “Kamu adalah ulama,” ada dua proposisi yang sudah jelas kebenarannya dan tidak bisa dibantah, yaitu “Kamu mengerti urusan agama,” dan “Setiap orang yang mengerti urusan agama adalah seorang ulama.”

Karena itu, kesimpulan sudah terkandung dalam premis, maka prinsip dalam penyimpulan deduktif mengatakan bahwa kesimpulan tidak boleh lebih besar dari premis. Kalau kesimpulan lebih besar berarti ada tambahan yang diberikan pada kesimpulan, dan ini akan membuat kesimpulan menjadi tidak logis.

Baca Juga  Beragama di Tengah Populisme Pandemi

Hal ini tampak jelas dalam silogisme (qiyas mantiqi), yaitu inferensi tidak langsung yang kesimpulannya ditarik dari dua premis saja. Dengan itu, sebuah silogisme selalu tersusun atas tiga buah proposisi, dua sebagai premis-premis dan satunya sebagai kesimpulan.

Qiyas mantiqi merupakan proses nalar yang menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari hal-hal yang bersifat umum. Nilai kebenaran dalam penalaran deduktif bersifat mutlak benar atau salah serta tidak bisa keduanya secara bersama-sama.

Pada umumunya, penalaran ini mengambil kesimpulan secara logis berdasarkan premis yang ditemukan. Premis adalah asumsi, pemikiran, dan landasan kesimpulan yang dianggap benar.

Dalam logika deduktif, proses penalaran bertolak dari pengetahuan yang bersifat universal menuju pengetahuan yang sifatnya partikular konkret. Adapun dalam penyimpulan induktif, kita bergerak (melalui akal budi kita) dari dua premis atau lebih menuju kesimpulan yang bersifat lebih umum bila dibandingkan dengan salah satu atau kedua premisnya.

Sedangkan penalaran induktif atau bisa disebut logika induktif merupakan penyimpulan yang dilakukan berdasarkan premis-premis berupa kebenaran partikular, dan kemudian ditarik kesimpulan sebagai kebenaran baru dengan cara analogi atau generalisasi.

Pada prinsipnya penyimpulan induktif dan penyimpulan deduktif sama-sama menggunakan premis-premis dari proposisi kategoris. Namun, kesimpulan yang ditarik dalam penyimpulan induktif selalu lebih besar daripada premis.

Maka, dalam penyimpulan induktif kita tidak bisa tentang sahih dan tidak sahih, melainkan tingkat probabilitas. Kualitas penyimpulan induktif terletak pada tingkat probabilitasnya. Karena penyimpulan induktif yang hanya berujung pada tingkat probabilitas itulah maka kebenaran-kebenaran dari penyimpulan induktif selalu hanya bersifat sementara.

Walaupun kebenaran dari penyimpulan induktif hanya sampai pada tingkat probabilitas, tidak berarti bahwa kesimpulan-kesimpulan induktif harus ditolak. Kebenaran-kebenaran induktif tetap harus diterima terutama yang punya tingkat probabilitas yang tinggi.

Baca Juga  Optimalisasi Peran Organisasi Pelajar Moderat dalam Menangkal Paham Radikal

Kebenaran-kebenaran dengan tingkat probabilitas yang tinggi akan menciptakan kredibilitas rasional yang tinggi pula. Artinya, akal sehat akan menerima kesimpulan ini dan bisa menjadikannya sebagai dasar pengandaian.

Supaya kredibilitas rasional terhadap suatu kesimpulan induktif semakin kuat, maka tingkat probabilitas dari kesimpulan induktif itu harus ditingkatkan. Misalnya, contoh logika induktif:

Premis 1: Kambing Indonesia punya satu jantung

Premis 2: Kambing India punya satu jantung

Premis 3: Kambing Korea punya satu jantung

Kesimpulan: Setiap hewan kambing punya satu jantung.

Contoh di atas, kata binatang dijadikan sebagai natijah (kesimpulan) yang bersifat umum. Hal ini dilakukan dengan menggunakan argumentasi juz’iyyah, yaitu kata kambing Indonesia, kambing India, dan kambing Korea.

Oleh karena itu, dari penjelasan yang telah dipaparkan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa untuk mendapatkan penalaran yang tepat, dibutuhkan juga pemikiran atau logika yang tepat pula, baik logika deduktifnya ataupun logika induktifnya.

Hal tersebut bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan seharusnya selalu digunakan dalam sutau pemikiran, supaya tidak terjadi kesalahan dalam menarik suatu argumen yang telah disampaikan oleh seorang kepada orang lain dan mencegah terjadinya kesalahpahaman juga antara pemikiran satu dengan pemikiran yang lain.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara logika deduktif dan induktif, yaitu dengan cara menarik kesimpulan suatu premis-premis yang awalnya umum menjadi khusus untuk logika deduktif, sedangkan logika induktif sebaliknya, menarik Kesimpulan dari yang awalnya khusus ke umum.

Jadi, kedua logika tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah terjadinya suatu hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menyalahkan pemikiran orang lain ataupun tidak percaya dengan pembicaraan orang lain karena tidak paham dengan logika yang dipakai. [AR]

Zumrotus Shofa Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya