



Di tengah hiruk-pikuk zaman, perempuan dituntut menjadi pribadi yang kuat dan teguh dalam menghadapi berbagai tantangan. Namun demikian, masih ada sebagian pihak yang memosisikan perempuan sebatas pekerja domestik (homemaker) sehingga seolah-olah tidak dapat berkontribusi secara aktif di luar rumah, dan perannya terkungkung pada urusan rumah tangga semata. Padahal, peran perempuan jauh melampaui batas-batas tersebut, dan pengaruhnya kerap menjadi penentu arah kehidupan dan peradaban dunia.
Kesadaran akan pentingnya peran perempuan perlu terus diperkuat, karena perempuan memiliki pengaruh yang besar dalam peningkatan kualitas peradaban. Sejarah tidak hanya digerakkan oleh pedang dan kekuasaan, tetapi juga oleh tangan-tangan yang menanamkan ilmu, iman, dan akhlak.
Dari sinilah pendidikan perempuan menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan berkelanjutan. Dengan demikian, perempuan diberi peluang untuk memuliakan dirinya, meneguhkan keluarganya, dan menyiapkan generasi yang kelak memikul amanah perjuangan dalam menentukan kemajuan bangsa serta tegaknya agama.
Lantas, bagaimana peran pendidikan perempuan itu terwujud dalam kehidupan nyata?
Jawabannya terletak pada peran perempuan itu sendiri. Ketika seorang perempuan telah menikah, pendidikannya tidak berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi menjelma menjadi amal yang mulia.
Pertama, ia hadir sebagai istri yang mendampingi dan menguatkan suami dalam setiap ikhtiar kebaikan, sekaligus menjadi tempat kembali yang menenangkan ketika suami menyadari betapa keras dan penuh ujiannya dunia ini.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwa pasangan diciptakan agar manusia merasakan ketenteraman, serta ditumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka.
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah menciptakan pasangan agar manusia saling mencintai, menemukan ketenangan dalam ikatan pernikahan, dan menumbuhkan kasih sayang sebagai rahmat-Nya.
Peran perempuan sebagai istri bukan sekadar pendamping, tetapi menjadi sumber ketenangan dan penguat bagi suami dalam membangun rumah tangga yang kokoh dan penuh kebaikan hingga mengantarkan keduanya menuju jannah-Nya.
Kedua, perempuan akan menjadi ibu yang berperan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok yang senantiasa menjadi teladan, dan pada hakikatnya, anak merupakan cerminan dari orang tuanya.
Anggapan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan merupakan pandangan yang keliru, sebab kecerdasan dan kematangan anak sangat dipengaruhi oleh nasihat, arahan, dan pola pendidikan orang tua. Jika orang tua, khususnya ibu, tidak memiliki bekal pendidikan yang baik, dari mana anak akan memperoleh bimbingan yang benar untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan dalam hidup?
Karena itu, pendidikan bagi orang tua, terutama ibu, memiliki peran penting dalam membekali mereka untuk menanamkan iman, ilmu, dan akhlak sejak dini kepada anak-anak. Hal ini selaras dengan ungkapan sastrawan Mesir, Muhammad Hafiz Ibrahim (1872–1932):
الأُم مَدْرَسَةُ الْأُوْلَى، إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
“Ibu adalah madrasah pertama; jika engkau menyiapkannya dengan baik, berarti engkau telah menyiapkan lahirnya sebuah bangsa yang baik budi pekertinya.”
Ungkapan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan dan kejayaan suatu peradaban bermula dari madrasah pertamanya, yaitu ibu, yang menjadi fondasi penanaman ilmu dan pembiasaan nilai-nilai kebaikan sebagai bekal masa depan.
Perempuan yang berpendidikan memiliki tujuan mulia, yakni memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya, sehingga lahir generasi yang unggul secara intelektual dan berakhlak mulia.
Sebagaimana pepatah yang menyatakan bahwa anak yang cerdas lahir dari rahim ibu yang cerdas, hal ini menunjukkan bahwa kualitas intelektual dan moral seorang perempuan sangat berpengaruh terhadap generasi yang ia lahirkan dan didik.
Pendidikan perempuan, dengan demikian, bukan hanya investasi pribadi, tetapi juga fondasi penting bagi lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi peradaban.
Lebih jauh, Ibnu Badis, ulama besar asal Aljazair (1889–1940), menyatakan:
“البيت هو المدرسة الأولى والمصنع الأصلي لتكوين الرجال، وتديّنُ الأم هو أساس حفظ الدين والخلق”
“Rumah adalah madrasah pertama dan pabrik utama untuk mencetak generasi terbaik, sedangkan religiusitas seorang ibu merupakan dasar terjaganya agama dan akhlak.”
Dari ungkapan tersebut tampak jelas bahwa fondasi paling strategis dalam pertumbuhan anak terletak pada sosok ibu sebagai madrasah pertamanya. Namun demikian, sebuah madrasah tetap membutuhkan pemimpin, yakni ayah sebagai kepala sekolah.
Dengan kerja sama yang harmonis antara keduanya, kurikulum terbaik berupa nilai-nilai, keteladanan, dan kasih sayang akan dirasakan langsung oleh anak dalam proses tumbuh kembangnya.
Akhirnya, pendidikan bagi perempuan menjadi bekal utama sebelum ia menjalani peran sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Dengan ilmu yang dimilikinya, perempuan mampu menjadi madrasah pertama yang menanamkan iman, akhlak, dan nilai-nilai kebaikan, sehingga melahirkan generasi penerus yang siap melanjutkan perjuangan dan menjaga arah peradaban sesuai tuntunan agama.
Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya