Zainab Ummul Fuqarā’: Ibu Para Fakir dari Kota Seribu Wali

Jika mendengar kata Tarim, yang terlintas adalah sebuah kota kecil di Hadhramaut, Yaman, yang dijuluki sebagai Kota Seribu Wali. Dari tanah yang penuh berkah itu lahir ribuan ulama dan kekasih Allah yang cahaya ilmunya menerangi dunia Islam hingga ke Nusantara.

Namun, di balik kebesaran nama para wali tersebut, ada sosok perempuan agung, seorang perempuan yang digelari Ummul Fuqarā’, ibu bagi para fakir miskin. Beliau adalah Ḥubabah Zainab binti Aḥmad bin Muḥammad Ṣāḥib al-Mirbat (Pecinta Tarim, 2015).

Beliau berasal dari keluarga besar Ba‘Alawi, sebuah nasab mulia dan bersambung hingga Rasulullah Saw. Ayah beliau adalah Aḥmad bin Muḥammad Ṣāḥib al-Mirbat (Pecinta Tarim, 2015). Allah kemudian mempersatukan beliau dengan seorang ulama agung, al-Faqīh al-Muqaddam Muḥammad bin ʿAlī bin Muḥammad Ṣāḥib al-Mirbat, keturunan ke 16 Baginda Nabi Muhammad Saw, serta peletak dasar Thariqah Ba‘Alawi (Stamami, 2017). Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan suci yang kelak dikenal sebagai para wali besar termasuk Wali Songo (Alaydrus, 2022).

Gelar Ummul Fuqarā’ disematkan kepada beliau karena sifat kasih sayang dan kepeduliannya yang luar biasa terhadap orang-orang miskin. Beliau tidak pernah membiarkan seorang fakir datang tanpa pulang dengan penuh kegembiraan.

Apa pun yang dimiliki, selalu beliau berikan untuk mereka, hingga beliau menjadi sandaran, pelipur lara, dan tempat berlindung bagi kaum dhuafa di Tarim (Pecinta Tarim, 2015). Bahkan suaminya sendiri, al-Faqīh al-Muqaddam, pernah berkata bahwa khalifahnya adalah istrinya, Zainab Ummul Fuqarā’ (Stamami, 2017). Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan cinta seorang suami, tetapi sebuah pengakuan akan ketinggian maqam ruhani beliau.

Kehidupan beliau adalah teladan bagaimana seorang perempuan tidak hanya berperan di dalam rumah, tetapi juga menjadi penopang besar dalam perjalanan dakwah dan spiritualitas keluarga. Beliau adalah pendamping setia perjuangan suaminya, guru bagi keluarganya, sekaligus rahim bagi lahirnya para wali (Pecinta Tarim, 2015).

Dari rahim beliau, Allah menghadirkan keturunan yang terus menyebarkan ilmu dan cahaya Islam ke berbagai negeri, termasuk ke tanah Nusantara.

Setelah mendampingi suaminya dalam perjuangan, beliau wafat pada hari Sabtu, 12 Syawwal 699 H, sekitar enam belas tahun setelah wafatnya al-Faqīh al-Muqaddam (Stamami, 2017). Beliau dimakamkan di Tarim, dan hingga kini makamnya menjadi tempat ziarah dan doa, tanda cinta para murid, ulama, dan peziarah yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Warisan terbesar beliau bukanlah harta benda, melainkan teladan akhlak, kasih sayang, dan keberkahan nasab yang tak terputus. Beliau menunjukkan bahwa kelembutan seorang ibu bisa melahirkan kekuatan peradaban, bahwa kasih sayang seorang perempuan bisa menumbuhkan ribuan wali. Bukan hanya sebagai istri seorang ulama besar, tetapi sebagai perempuan salehah yang digelari Ummul Fuqarā’, ibu bagi kaum fakir, dan rahim bagi para wali Allah.

2

Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab, UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.