Tasawuf Dan Revolusi Spritual Ala Kiai Said

https://1.bp.blogspot.com/-2LTkzrWpiwQ/XYmrI7cx8lI/AAAAAAAAW1Y/cL9XO4ghboMekN1xLgfdzIDD8i6AkY7BACLcBGAsYHQ/s640/cidera%2Bmata.jpg

Tasawuf dan Revolusi Spiritual Ala Kiai Said

Di sebuah sore bertepatan dengan tanggal 14 Ramadhan, Side Project, sekelompok anak band milenial menyanyikan sebuah tembang berjudul: “Tak Kan Berpaling dari-Mu” yang  dipopulerkan oleh Rossa.

Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang

Dan mulai turun setetes air langit

Dari tubuhnya

Tanpa sadar nikmatnya alam karena kuasa-Mu

Yang takkan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini

Terima kasihku pada-Mu Tuhanku

Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata

Hanya diri-Mu yang tahu

Besar rasa cintaku pada-Mu

Oh Tuhan anugerah-Mu tak pernah berhenti

Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam

Dan satu janjiku takkan berpaling dari-Mu

Andai bukan karena mengantar Live Talkshow di TV9 Nusantara yang menghadirkan nara sumber top, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, mungkin saya tak terlalu peduli mencermati syair lagu yang ternyata nendang banget. Cocok dengan tema yang akan dibawakan Kiai Said: “Tasawuf sebagai (jalan lebar menuju) Revolusi Spiritual.”

“Tasawuf itu tentang bagaimana hati menjadi tempat bersemayam yang indah bagi kebenaran. Dan haqqul haqiqah.(puncak dari segala kebenaran) adalah Allah ‘Azza Wa Jalla,” demikian kata Kiai Said

Setiap manusia hanya punya satu janji pada Tuhan yang telah memberikan segalanya, yakni beriman kepada-Nya dan kemudian cobalah tetap dalam pelukan iman itu walau tak harus langsung sempurna.

قل أمنت بالله ثم استقم

(Qul Amantu Billah tsummastaqim)

“Katakanlah, Aku beriman pada Allah lantas konsistenlah di situ…”

Tuhan Maha tidak memaksa hamba-Nya untuk langsung baik seperti para nabi. Manusia pemilik hati yang sering ragu, dipermainkan bisikan nafsu dan godaan sayatin (bentuk jamak setan).

Maka bersyukurlah dalam Islam ada syariat Ramadhan, yang kata Kiai Said merupakan treatment radikal untuk tarbiyah ruhaniyah (pendidikan spiritual). Dimulai dari pemasungan terhadap nafsu demi mendidiknya (tarbiyatun-nafs) agar bisa kita kendalikan sepenuhnya.

Inilah kenapa kemudian Ramadhan adalah kabar gembira bagi kita untuk berselancar dalam reparasi hati, menyelam dalam samudera tasawuf, karena revolusi sedang terjadi, yaitu revolusi spiritual.

Saya begitu menikmati talkshow jelang maghrib sore itu. Kiai Said mencoba mengajak kita kembali ke realita kehidupan modern yang sedang kita jalani. Baginya Kekacauan efek dari modernitas sedang terjadi. Apakah itu tumbuhnya masyarakat yang asyik mencari dunia hingga mengabaikan Tuhan, baik atas nama  kapitalisme atau liberalisme; atau justru sebalikanya, mereka yang justru atas nama Tuhan menebarkan kekacauan melalui radikalisme bahkan terorisme.

Efek modernitas ini hanya akan bisa dihadapi bila kita menjaga hati tetap enjoy, cool, damai, santun, sejuk. Dan itulah tasawuf. Tasawuf adalah segala tentang stabilitas hati yang terinstal secara sempurna pada Tuhan. Karenanya tasawuf lebih dari sekadar tata krama dan sopan santun, atau ilmu hikmah dan kanuragan.

Tasawuf adalah soal bagaimana kita membuang segala sifat hati yang culas dan hanya merasa bisa, di saat yang sama  mengisinya dengan sifat-sifat baik nan indah, bisa merasa, tulus dan ihsan.

Lantas, pertanyaannya, kapan hati seorang yang sedang menuju kebeningam hati (salik) mampu menjadi seperti para sufi?

Kiai  Said melukiskan, nanti bila hati kita seperti air yang menjernihkan.

الصوفي لا لون له لونه لون ايناءه

(As Shufi, la launa lahu. Launuhu launu ina-ihi)

“Hati sufi laksana air bening yang tak pernah membawa warna. Warnanya adalah warna tempat dimana ia berada. Hati sufi itu bening, menyatu dengan lingkungan, selalu tahu diri di mana dia berada”

Yassalam… mendengarkannya Saya merasakan benar-benar ngaji dari rumah pada Kiai Profesor Tasawuf ini. Saya meminta rekaman talkshow itu kepada tim Programing TV9 Nusantara untuk dikirim kepada beliau Kiai Said. Dan tentu saja saya kirim ke beberapa WhatsApp Group para sahabat, bolo-plek, dengan diawali kutipan syair lagu Rosa tadi: Tak Kan Berpaling Dari-Mu.

Dan tak lupa, saya selipkan pesan curcol ini di WA Group tadi:

Bila rindu pada manusia

terhalang besi distancing

maka siapa lagi

kalau bukan Tuhan

tempat terindah

untuk merindu

 

Tuhan

sampaikan sapaku

kepadanya (AA)

0

Alumnus PP Miftahul Huda Gading Pesantren Malang, CEO TV9 Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.