



Tasawuf dan Revolusi Spiritual Ala Kiai Said
Di sebuah sore bertepatan dengan tanggal 14 Ramadhan, Side Project, sekelompok anak band milenial menyanyikan sebuah tembang berjudul: “Tak Kan Berpaling dari-Mu” yang dipopulerkan oleh Rossa.
Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
Dan mulai turun setetes air langit
Dari tubuhnya
Tanpa sadar nikmatnya alam karena kuasa-Mu
Yang takkan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini
Terima kasihku pada-Mu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata
Hanya diri-Mu yang tahu
Besar rasa cintaku pada-Mu
Oh Tuhan anugerah-Mu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku takkan berpaling dari-Mu
Andai bukan karena mengantar Live Talkshow di TV9 Nusantara yang menghadirkan nara sumber top, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, mungkin saya tak terlalu peduli mencermati syair lagu yang ternyata nendang banget. Cocok dengan tema yang akan dibawakan Kiai Said: “Tasawuf sebagai (jalan lebar menuju) Revolusi Spiritual.”
“Tasawuf itu tentang bagaimana hati menjadi tempat bersemayam yang indah bagi kebenaran. Dan haqqul haqiqah.(puncak dari segala kebenaran) adalah Allah ‘Azza Wa Jalla,” demikian kata Kiai Said
Setiap manusia hanya punya satu janji pada Tuhan yang telah memberikan segalanya, yakni beriman kepada-Nya dan kemudian cobalah tetap dalam pelukan iman itu walau tak harus langsung sempurna.
قل أمنت بالله ثم استقم
(Qul Amantu Billah tsummastaqim)
“Katakanlah, Aku beriman pada Allah lantas konsistenlah di situ…”
Tuhan Maha tidak memaksa hamba-Nya untuk langsung baik seperti para nabi. Manusia pemilik hati yang sering ragu, dipermainkan bisikan nafsu dan godaan sayatin (bentuk jamak setan).
Maka bersyukurlah dalam Islam ada syariat Ramadhan, yang kata Kiai Said merupakan treatment radikal untuk tarbiyah ruhaniyah (pendidikan spiritual). Dimulai dari pemasungan terhadap nafsu demi mendidiknya (tarbiyatun-nafs) agar bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Inilah kenapa kemudian Ramadhan adalah kabar gembira bagi kita untuk berselancar dalam reparasi hati, menyelam dalam samudera tasawuf, karena revolusi sedang terjadi, yaitu revolusi spiritual.
Saya begitu menikmati talkshow jelang maghrib sore itu. Kiai Said mencoba mengajak kita kembali ke realita kehidupan modern yang sedang kita jalani. Baginya Kekacauan efek dari modernitas sedang terjadi. Apakah itu tumbuhnya masyarakat yang asyik mencari dunia hingga mengabaikan Tuhan, baik atas nama kapitalisme atau liberalisme; atau justru sebalikanya, mereka yang justru atas nama Tuhan menebarkan kekacauan melalui radikalisme bahkan terorisme.
Efek modernitas ini hanya akan bisa dihadapi bila kita menjaga hati tetap enjoy, cool, damai, santun, sejuk. Dan itulah tasawuf. Tasawuf adalah segala tentang stabilitas hati yang terinstal secara sempurna pada Tuhan. Karenanya tasawuf lebih dari sekadar tata krama dan sopan santun, atau ilmu hikmah dan kanuragan.
Tasawuf adalah soal bagaimana kita membuang segala sifat hati yang culas dan hanya merasa bisa, di saat yang sama mengisinya dengan sifat-sifat baik nan indah, bisa merasa, tulus dan ihsan.
Lantas, pertanyaannya, kapan hati seorang yang sedang menuju kebeningam hati (salik) mampu menjadi seperti para sufi?
Kiai Said melukiskan, nanti bila hati kita seperti air yang menjernihkan.
الصوفي لا لون له لونه لون ايناءه
(As Shufi, la launa lahu. Launuhu launu ina-ihi)
“Hati sufi laksana air bening yang tak pernah membawa warna. Warnanya adalah warna tempat dimana ia berada. Hati sufi itu bening, menyatu dengan lingkungan, selalu tahu diri di mana dia berada”
Yassalam… mendengarkannya Saya merasakan benar-benar ngaji dari rumah pada Kiai Profesor Tasawuf ini. Saya meminta rekaman talkshow itu kepada tim Programing TV9 Nusantara untuk dikirim kepada beliau Kiai Said. Dan tentu saja saya kirim ke beberapa WhatsApp Group para sahabat, bolo-plek, dengan diawali kutipan syair lagu Rosa tadi: Tak Kan Berpaling Dari-Mu.
Dan tak lupa, saya selipkan pesan ‘curcol’ ini di WA Group tadi:
Bila rindu pada manusia
terhalang besi distancing
maka siapa lagi
kalau bukan Tuhan
tempat terindah
untuk merindu
Tuhan
sampaikan sapaku
kepadanya (AA)
Alumnus PP Miftahul Huda Gading Pesantren Malang, CEO TV9 Nusantara