



Pertanyaan dalam judul tulisan ini tampak hampir bertentangan dengan dirinya sendiri, karena menemukan biasanya mengandaikan adanya pencarian: seseorang mencari kunci yang hilang, mengikuti peta menuju tujuan yang belum diketahui, atau menyelidiki suatu pertanyaan karena ia sudah menduga bahwa jawabannya ada di suatu tempat di depan sana.
Namun, bahasa pengalaman religius berulang kali menggoyahkan model penalaran semacam ini, karena orang yang berjumpa dengan Tuhan tidak selalu merupakan orang yang sengaja berupaya mencari-Nya. Terkadang perjumpaan itu justru terjadi ketika pencarian telah ditinggalkan, dialihkan, atau bahkan tidak pernah dimulai secara sadar.
Akan tetapi, letak kesulitannya ada pada kata “ditemukan”. Menemukan sesuatu biasanya berarti bahwa hal tersebut sudah berada di suatu tempat secara terpisah dari si pencari, sementara tindakan menemukan itu sendiri merupakan upaya memperkecil jarak antara pencari dan apa yang dicari.
Model semacam itu cukup tepat untuk objek-objek di dunia ini, tetapi menjadi tidak adekuat secara filosofis jika diterapkan pada Tuhan, karena Tuhan tidak bisa begitu saja dianggap sebagai objek lain yang lokasi tersembunyinya perlahan-lahan ditemukan oleh manusia.
Jika Tuhan adalah sesuatu yang bisa ditempatkan dalam ranah ontologis yang sama dengan segala hal lainnya, maka menemukan Tuhan sama saja dengan menemukan satu entitas lagi di antara entitas-entitas lain, meskipun entitas yang satu ini jauh lebih agung tanpa batas secara teologis.
Dengan demikian, masalah teologis ini berubah menjadi masalah epistemologis, yakni mungkin Tuhan tidak ditemukan dengan cara yang sama seperti benda-benda lain ditemukan.
Al-Qur’an menyajikan kosakata yang menarik mengenai kedekatan dan perjumpaan, dengan menyebutkan bahwa Tuhan lebih dekat kepada manusia daripada urat nadi lehernya sendiri (QS. Qaf [50]: 16), tetapi pada saat yang sama menolak untuk mereduksi realitas ilahi menjadi sesuatu yang dapat disamakan dengan ciptaan (QS. al-Syura [42]: 11).
Paradoks ini penting karena mengisyaratkan bahwa ketidakhadiran ilahi bagi seseorang tidak bisa sekadar dipahami sebagai jarak geografis. Seseorang tidak bisa mencapai Tuhan hanya dengan menempuh perjalanan jauh, melihat secara mendalam, atau mengumpulkan informasi yang cukup, seolah-olah Tuhan sedang bersembunyi di balik tirai kosmis.
Jika demikian halnya, maka seseorang yang mengaku tidak sedang mencari Tuhan mungkin saja sudah berada dalam suatu hubungan dengan Yang Ilahi yang mendahului niat religius yang ia sadari.
Kemungkinan ini menjadi sangat menarik ketika ditinjau melalui pengalaman manusia sehari-hari. Seseorang mungkin merasakan rasa syukur yang mendalam saat memandang orang tuanya yang sedang tidur, mengalami rasa takjub yang tak terlukiskan di bawah langit malam, merasakan betapa rapuhnya eksistensi saat menggendong bayi yang baru lahir, atau tiba-tiba menyadari betapa bergantungnya hidup ini pada kehendak lain setelah kehilangan orang yang dicintai.
Tak satu pun dari pengalaman tersebut dengan eksplisit merupakan bentuk keyakinan, dan tak ada pula yang patut secara otomatis dilabeli sebagai “pengalaman religious”. Namun, pengalaman-pengalaman tersebut dapat menggoyahkan anggapan bahwa realitas sepenuhnya tercakup oleh apa yang dapat diukur, dimiliki, atau dijelaskan.
Dengan demikian, sesuatu bisa saja dijumpai sebelum diberi nama. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa setiap pengalaman akan rasa takjub diam-diam merupakan perjumpaan dengan Tuhan, lantaran klaim semacam itu akan menjadikan konsep Tuhan begitu lentur hingga mustahil disanggah, mengubah setiap momen yang menggugah emosi selalu menjadi bukti teologis.
Penjelasan yang cermat harus tetap mempertahankan pembedaan antara pengalaman itu sendiri dan penafsirannya. Rasa takjub bisa tetap menjadi rasa takjub tanpa harus menjadi bukti; transendensi bisa saja dirasakan keberadaannya tanpa harus menjadi kepastian; dan sebuah perjumpaan bisa tetap ambigu secara intelektual bahkan ketika perjumpaan itu menjadi penentu secara eksistensial.
Mungkin justru pada titik ambiguitas inilah pertanyaan tersebut menjadi paling memikat. Seseorang yang tidak sedang mencari Tuhan bisa saja menjumpai sesuatu yang menginterupsi kategori-kategori yang selama ini ia gunakan untuk memahami dunia.
Namun, apakah interupsi tersebut patut disebut sebagai Tuhan bergantung pada tindakan penafsiran selanjutnya, yang melaluinya sebuah pengalaman memperoleh makna teologis. Dalam pengertian ini, Tuhan bisa saja dijumpai sebelum Dia dikenali, persis seperti wajah yang mungkin tampak sebelum identitas pemiliknya diketahui.
Akan tetapi, ada kemungkinan lain yang justru lebih menggelisahkan, yaitu mungkin Tuhan dapat ditemukan justru karena sang pencari berhenti berusaha memiliki-Nya sebagai objek pengetahuan.
Pencarian religius terkadang bisa berubah menjadi bentuk penguasaan lain, di mana Tuhan diubah menjadi sekadar jawaban, doktrin, keadaan mistis, atau kepastian yang dapat dimiliki secara psikologis.
Sang pencari kemudian mencari Tuhan sembari tanpa sadar menuntut agar Tuhan menjadi sesuatu yang dapat ia genggam. Kegagalan dalam menemukan Tuhan, dengan demikian, mungkin bukan disebabkan oleh pencarian yang kurang gigih, melainkan oleh pencarian yang didasarkan pada ontologi yang keliru.
Untuk menemukan Tuhan, secara paradoks, mungkin diperlukan kemampuan untuk menerima apa yang tidak dapat dimiliki.
Hal tersebut tidak meniadakan pencarian, tetapi justru mengubahnya. Seseorang yang berhenti mencari Tuhan sebagai suatu objek mungkin mulai menyadari kemungkinan bahwa kehadiran ilahi tidak datang sebagai penemuan yang spektakuler, melainkan menjadi dapat dikenali melalui perubahan cara berhubungan dengan keberadaan itu sendiri.
Dunia tetaplah dunia, kematian tetaplah kematian, ketidakpastian tetaplah ketidakpastian, tetapi pertanyaan mengenai makna keberadaan sesuatu memperoleh kedalaman yang tidak bisa dijawab dengan tuntas secara sederhana.
Mungkin saja, Tuhan memang dapat ditemukan oleh seseorang yang tidak sedang mencari-Nya, karena perjumpaan terdalam dengan Tuhan bisa jadi terjadi sebelum sang pencari memiliki konsep tentang Tuhan yang diperlukan untuk mengenali apa yang telah dijumpainya.
Barangkali pertanyaan yang lebih sulit bukanlah apakah Tuhan dapat ditemukan oleh seseorang yang tidak sedang mencari-Nya, melainkan apakah kita akan mengenali Tuhan jika Dia hadir dalam wujud yang tidak menyerupai apa yang selama ini kita bayangkan dan konseptualisasikan selama proses pencarian kita.
Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com