Azhar Fikri Al Azzam Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Nasib Seorang Menteri yang Pendengki

2 min read

http://4.bp.blogspot.com/-oI65WV3D5rU/UxFr2GA3SLI/AAAAAAAAAdI/h1O-F3_y3tU/s1600/Cityship…_AnotherView.jpg

Suatu hari ada seorang Arab Badui (pedalaman) yang datang menghadap Al-Mu’tashim. Arab badui tersebut selalu berada dekat dengannya hingga Al-Mu’tashim menjadikannya sebagai sahabat dekatnya. Dia dapat masuk ke dalam istana Al Mu’tashim dengan leluasa, tanpa harus meminta ijin.

Al Mu’tashim mempunyai seorang menteri yang memiliki sifat dengki. Menteri itu ingin sekali membuat tipu daya pada Arab badui itu karena kedengkiannya. Sang menteri berkata dalam dirinya “jika aku tidak membuat makar kepada Arab Badui ini untuk membunuhnya, pasti dia akan berhasil mengambil hati Amirul Mukminin dan menjauhkanku darinya.”

Akhirnya menteri tersebut berpura-pura baik kepada Arab Badui itu. Dia mengundangnya untuk datang kerumahnya, lalu sang menteri memasakan makanan untuknya. Dia memasukan banyak sekali bawang putih ke dalam masakannya. Sang menteri berkata “jangan terlalu dekat dengan Amirul Mukminin karena dia pasti akan terganggu dengan bau mulutmu. dia pasti akan mencium bau bawang putih dari mulutmu dan dia merasa terganggu. Amirul mukminin tidak suka aroma bawang putih, maka tutuplah mulutmu dengan kedua tanganmu.”

Kemudian menteri itu pergi menemui Amirul Mukminin dan berbicara dengannya, dia berkata “wahai Amirul Mukminin, sungguh Arab Badui berkata tentang dirimu kepada orang-orang, bahwasannya Amirul Mukminin mempunyai mulut yang bau, semua orang pasti mencium bau itu”

Suatu Ketika Arab Badui tersebut bertemu dengan Amirul Mukminin, dia menutupi mulutnya dengan ujung lengannya karena khawatir Amirul Mukminin mencium bau mulutnya. Dia berkata dalam dirinya, “bearti apa yang dikatakan menteriku benar.”

Akhirnya Amirul Mukminin menuliskan sebuah surat kepada salah satu pegawainya yang berisikan “Apabila ada orang yang datang kepadamu dengan membawa surat ini, maka bunuhlah dia.” Amirul Mukminin memanggil Arab Badui itu dan menyerahkan surat itu kepadanya.

Baca Juga  Membaca Tasbih: Cara Elegan Menghadapi Kehidupan yang Rumit

Amirul mukminin berkata “pergilah kamu ketempat sifulan dan berikan jawabannya kepadaku.” Akhirnya Arab badui itu melaksanakan perintah Amirul Mukminin Al Mu’tashim.

Ketika sampai didepan pintu, dia bertemu dengan menteri pendengki itu, dan ia bertanya kepada Arab Badui tersebut, “hendak kemanakah kamu pergi?” dan Arab Badui itu menjawab, “Aku akan mengantarkan surat dari Amirul Mukminin ini kepada si fulan.” Lalu mentri itu berkata dalam dirinya “pasti Arab Badui ini mendapat harta yang sangat banyak dari kedekatannya dengan Amirul Mukminin Al-Mu’tashim.”

Lalu mentri itu berkata kepada Arab Badui itu, “wahai orang Badui, apa yang engkau katakana jika ada orang yang ingin membantu mengantarkan surat itu dan memberimu uang sejumlah dua ribu dinar?” Arab Badui itu menjawab “Sungguh engkau orang yang sangat mulia, dan sangat bijaksana. Jika engkau benar-benar bisa dipercaya maka lakukanlah!” lalu mentri itu berkata, “baiklah, kalau begitu berikan surat itu kepadaku!”

akhirnya Arab Badui itu memberikan surat dari Amirul Mukminin itu kepadanya dan menteri tersebut meberikannya uang sebesar dua ribu dinar. Kemudian menteri itu pergi dengan membawa surat tersebut kepada orang yang dituju. Ketika pegawai yang dituju membaca surat itu, dia segera melaksankan perintah Amirul Mukminin yang ada didalam surat tersebut, dan dibunuhlah menteri itu.

Waktu terus berjalan, hari berganti hari, bulan-bulan telah berlalu, teringatlah Amirul Mukminin Al-Mu’tashim tengtang Arab Badui dan Menterinya. Dia diberitahu bahwa sang menteri telah meninggal dan Arab Badui itu kini tinggal di kota Madinah. Amirul mukminin merasa heran dengan hal tersebut dan memerintahkan pengawalnya untuk memanggil Arab Badui itu.

Setalah sekian lama menunggu akhirnya datanglah si Arab Badui itu ke hadapan Al-Mu’tashim. Amirul Mukminin Al-Mu’tashim bertanya tentang keadaanya. Dan arab Badui itu menceritakan tentang kesepakatannya dengan sang mentri, dari awal hinnga akhir.

Baca Juga  Ramadan sebagai Upaya Membangun Kasalehan Diri

Amirul Mukminin bertanya, “apakah engkau yang berkata tentangku bahwa mulutku bau?” Arab Badui itu menjawab “aku berlindung kepada Allah dari melakukan sesuatu yang aku tidak tau, semua itu adalah tipu daya dari menteri itu.”

Dia juga memberitaukan kepada Amirul Mukminin bagaimana dia masuk ke rumah sang menteri dan memakan makanan buatannya dan juga peringatan dari menteri itu. Lalu Amirul Mukminin berkata semoga Allah melaknat pendengki.

Alangkah Maha Adilnya Allah, sang menteri menipu temannya, namun malah ia yang terbunuh.” Kemudian mengangkat Arab Badui itu menjadi menterinya. Sedangkan nasib si pendengki, dia telah meninggal karena kedengkiannya

dari kisah tersebut, kita dapat ambil hikmah, penyakit dengki dapat membuat orang berusaha menghilangkan kenikmatan yang ada apa orang lain. Penyakit dengki dapat melahirkan perbuatan-perbutan tercela seperti: membenci orang tanpa alasan, melecehkan orang, membuka aib dengan kedustaan, dan masih banyak lagi, semata-mata karena kedengkian.

Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala sesuatu yang kita kerjakan selama didunia ini, maka jangan sekali-kali kita berpikir bisa terbebas dari pengawasan Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Adil kepeda seluruh makhluknya, maka lakukanlah kebaikan niscaya Allah akan membalas kebaikan tersebut, dan janganlah sekali-kali melakukan keburukan, niscaya Allah juga akan membalas keburukan yang kita lakukan. Waallahu ‘Alam. [AH]

 

Azhar Fikri Al Azzam Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *