Anis Humaidi Dosen IAIN Kediri

Pandemi Covid-19 dan Cita Rasa Ramadan Baru

2 min read

Ramadan kali ini terasa sangat berbeda dengan ramadan-ramadan sebelumnya. Biasanya, akhir syakban orang-orang sudah ramai menyambut datangnya bulan suci, bulan penuh berkah. Mereka saling mengundang untuk kenduri (megengan). Kini, berkatnya saja yang diantar ke rumah-rumah, tanpa seremoni, tanpa makan bersama. Makam yang biasanya ramai dikunjungi, kini keramaian itu sedikit berkurang. Banyak yang memilih tahlilan dari rumah dengan alasan tidak mau risiko terpapar corona.

Malam pertama bulan Ramadan, yang biasanya toa masjid dan musala bersaut-sautan menyuarakan bilal dan imam memimpin salat tarawih, kini berubah menjadi sunyi. Bahkan, suara orang tadarusan (membaca Alquran setelah tarawih) pun hanya terdengar sayup-sayup dari satu masjid yang jauh nun disana. Ini semua karena corona. Dialah yang menjadi kambing hitam atas ini semua. Orang-orang tidak berani ke masjid, dilarang pemerintah, demi menghindari penyebaran corona. Pada akhirnya, rumah-rumah Allah menjadi sepi.

Umat Islam memiliki perasaan yang berbeda-beda dalam menjalani ibadah bulan ramadan kali ini. Ada yang bersedih karena tidak bisa melakukan ritual-ritual keagamaan seperti megengan, salat tarawih berjemaah di masjid, tadarus bersama, tidak bisa membuat acara buka bersama, Qiyamu lail bersama, sahur Bersama, dan seambreg seremoni lainnya sebagaimana Ramadan-ramadan sebelumnya. Mereka merasa bahwa syiar Islam pada bulan suci kali ini berkurang. Sebagai umat Islam yang mencintai agamanya, kegelisahan itu wajar dan sah-sah saja.

Namun ada juga segelintir orang yang dengan kondisi saat ini, mereka justru bisa menemukan hakikat keberagamaannya. Bukankah seseorang dalam bergama ini ingin dekat dengan Allah, sang pembuat agama? Tapi kenapa justru seremoni-seremoni keagamaan menjadikan mereka kehilangan rasa dalam beragama, dan menghalangi dirinya dengan sang Pembuat Agama itu sendiri? Karena pandemi Covid-19 inilah mereka dipaksa menemukan cita rasa beragama baru. Kalau bulan Ramadan sebelumnya mereka tersibukkan dengan berbagai seremoni yang bisa menganggu kedekatannya dengan sang Kekasih, kini seremoni itu sedang menghilang.

Baca Juga  Father Parenting Ala Luqman dalam Al-Qur’an

Yang biasanya menjadi imam tarawih di masjid besar dan banyak jamaahnya, kini ia salat tarawih sendiri atau bersama keluarga di rumah. Ternyata kini ia merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam salat tarawihnya. Ia bisa khusyuk mengingat Allah dalam kesepiannya, ahkan bisa beraudiensi dengan-Nya. Karena hatinya bersih, pikirannya tidak terbebani memimpin jemaah yang banyak, dan mengingat surat apa yang mesti dibaca pada rakaat berikutnya. Barangkali inilah yang dimaksudkan oleh ahli hikmah dengan ‘ramai dalam sunyi’. Dalam kesunyiannya, ia bisa meramaikan hatinya, memuji dan mengagungkan Tuhannya.

Pada Ramadan sebelumnya, ada orang yang menghabiskan waktunya setelah salat tarawih untuk membaca Alquran bersama-sama, di masjid, dengan menggunakan pengeras suara, agar orang lain ikut mendengar, bahkan sampai larut malam. Ini juga niatan yang mulia. Tapi apakah benar selalu menghasilkan sesuatu yang positif? Yang terjadi bisa juga kontra produktif. Mungkin saja tidak semua orang menikmati bacaannya, atau bahkan bisa menggangu kenyamanan orang yang sedang beristirahat. Kini, ia membaca Alquran sendiri dengan menikmati maknanya dan seakan-akan berdialog dengan Tuhannya. Karena pikirannya bersih dan tidak tersibukkan dengan selain Allah. Saat ini dia juga merasa lebih menikmati kebersamaannya dengan Tuhan. Tidak seperti ramadan sebelumnya yang sunyi dalam keramaian. Suasana lahirnya ramai (membaca Alquran beramai-ramai), namun batinnya sunyi (kosong tidak bisa mengingat Tuhan dan mentadaburi kalam-Nya, karena hatinya merasa sedang didengarkan oleh orang lain dan harus sempurna bacaannya).

Sebagian orang ada yang memiliki kebiasaan mengumpulkan teman-temannya untuk diajak buka bersama. Karena merasa telah memberikan buka kepada orang lain yang berpuasa, akhirnya mereka sudah melakukan seremoni sesuai dengan Sunnah Rasul: “Barangsiapa yang memberi makanan kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu dan tidak berkurang sedikitpun”. Ini pun tidak salah. Namun akan lebih tepat jika yang diajak berbuka tidak hanya teman-temanya dari kalangan yang mampu, sementara disekitarnya masih banyak orang yang kesusahan untuk mendapatkan makan. Setelah pandemi Covid-19, mereka tidak bisa mengumpulkan teman-temannya lagi. Kini ia dipaksa berbagi dengan orang-orang yang terdampak dan ia merasa lebih nyaman hatinya karena hanya ingin mendapat perhatian dari Allah, bukan teman-temannya lagi.

Baca Juga  Hakikat Cinta Imam Ibnu Atha’illah

Sebagian juga ada orang yang suka mengumpulkan orang lain untuk di ajak qiyamul lail sampai puluhan rakaat. Perilaku ini bukannya jelek. Bisa jadi dalam rangka menggiatkan dan mendidik masyarakat. Namun apakah iya, sama rasanya salat malam berjemaah dengan salat malam sendiri di kesunyian malam? Tentunya hati yang tidak bisa mengingkarinya, bahwa menghadap Allah dalam keadaan sunyi dan sendiri akan lebih intim dan nikmat dari pada ramai-ramai. Bisa digambarkan pasangan yang sedang memadu kasih, ia akan merasa lebih nyaman bila tidak ada orang lain yang melihat. Merasa lebih tenang ketika berada dalam kesunyian. Bagi pecinta sejati, adalah pantangan mengumbar kemasraannya dihadapan publik, agar terlihat mesra dengan yang dicinta.

Saat ini ia merasakan kenikmatan itu yang sebelum masa pandemi Covid-19 sensasi tersebut jarang sekali didapatkan. Dengan demikian ternyata bagi sebagian umat Islam ada yang merasakan bahwa Allah menjadikan corona ini hanyalah sebagai alasan agar kekasih-Nya mau ‘berbisik dan intim’ dengan-Nya. Bagi orang yang bisa merasakan keintiman tersebut, ia akan merasa berada pada sebuah kenikmatan rohani yang tiada tara. Seandainya rasa ini hilang sekalipun setelah selesainya wabah ini, maka kenangan indah ini akan tetap terukir dalam kalbu setiap orang yang pernah merasakannya dan ia ingin mengulanginya kembali sekalipun dalam suasana sudah normal kembali. Batapa berharganya pengalaman rohani ini, dengan demikian juga betapa berharganya wabah ini dalam konteks “kemesraan” dengan Tuhan. [FYI, MZ]

Anis Humaidi Dosen IAIN Kediri

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *