Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo

Cerpen: Kepedihan yang Indah [Bag 2]

3 min read

Sepanjang perjalanan hatiku rasanya sangat ringan. Mama seperti ibu peri yang sentuhan tongkat ajaibnya mampu menghilangkan ketakutan dan kebimbangan yang berhari-hari memberatiku. Sapaan satpam komplek perumahanku malam ini terasa begitu ramah. Lampu di sepanjang jalan entah bagaimana terlihat begitu indah. Keramaian lalu lintas tampak di mataku seperti barisan karnaval yang penuh suka cita.

Di sepanjang perjalanan, otakku memutar kembali peristiwa awal yang membuatku galau beberapa hari ini. Hari itu hari pertama masuk SMA. Aku tak memiliki seorang pun teman karena tak ada kawan SMP-ku yang melanjutkan ke SMA ini. Aku seperti makhluk dari planet lain. Sesekali mengarahkan pandang pada para siwa-siswa baru lain sambil menebak-nebak, siapakah di antara kami yang pintar dan siapa yang bodoh.

Tak ada yang aneh di ruang kelas ini kecuali bahwa ini adalah ruanga kelas baru, suasana baru, dan kenyataan bahwa aku belum kenal semua anak-anak di kelasku. Tapi aku sama sekali tidak merasa khawatir. Sebentar lagi aku akan berkawan baik dengan semua anak di kelas ini, bahkan mungkin beberapa anak laki-laki akan menjadi gerombolan perkawananku.

Hari itu hari pertama masuk SMA. Tidak ada mata pelajaran kecuali pidato kepala sekolah yang menjelaskan tentang bla bla bla…entah apa yang diomongkan, aku tidak terlalu mengerti. Setelah pidato pak kepala sekolah, kami digiring ke kelas masing-masing untuk mendengarkan pidato lanjutan dari guru lain. Pokoknya, sepagian ini siswa-siswa baru dipaksa mendengarkan pidato para guru yang menjelaskan berbagai informasi yang mereka anggap penting untuk kami. Kami tidak sungguh-sungguh memerhatikan sekalipun kami diam. Tentu saja sebagai siswa baru kami diam.

Setelah istirahat siang, kami disuruh masuk kelas lagi. Kali ini yang harus kami perhatikan adalah penjelasan beberapa siswa senior tentang organisasi siswa intra sekolah sampai beragam aktivitas kesiswaan yang menurutnya perlu kami ikuti agar kami menjadi siswa kreatif. Lagaknya yang sok membuat aku sama sekali tidak berminat mendengarkan penjelasan-penjelasannya. Apalagi beberapa dari mereka yang laki-laki jelas mencuri-curi pandang untuk menandai mana saja cewek kelas kami yang cantik. Muak banget rasanya!

Baca Juga  Ngaji Sullam al-Tawfīq [1]: Mukadimah

Dimana-mana siswa laki-laki di kelas selalu merasa berkewajiban menjaga kawan-kawan cewek kelasnya dari gangguan laki-laki lain, termasuk dari kakak-kakak tingkat. Keliaran mata cowok kakak tingkat itu seperti sebuah tantangan terhadap kelelakianku. Aku benci sekali dengannya. Sangat benci!. Aku tahu bahwa kakak-kakak tingkat yang laki-laki sering mencari siwi baru yang cantik untuk dipacari. Yang sering menyakitkan hati adalah kita para cowok sudah menjaga cewek-cewek kelas dari godaan kakak tingkat, eh ternyata ceweknya justru memberi kode senang, dan beberapa bulan kemudian jadian. Kita rasanya sangat terhina.

Acara kelas hari itu ditutup dengan hiburan. Guru yang bertugas di kelasku mengundang siapa saja yang mau beraksi di depan kelas. Ini seperti acara talent show tingkat kelas. Saat itulah seorang gadis dengan sangat tenang maju ke depan, meminta izin mengambil gitar yang sudah disiapkan, dan bersiap bernyanyi. Dia memperkenalkan dirinya: “Nina”. Kelas yang semula riuh tiba-tiga hening saat jemari gadis itu mulai memetik dawai gitarnya. Sesaat kemudian suara lembutnya mengalunkan sebuah lagu.

Aku tertegun. Menikmati suguhan semesta yang begitu sempurna. Apa yang tergurat di langit sana hingga takdir mengirimkan seorang bidadari untuk bernyanyi di kelasku hari ini. Apakah itu suara manusia ataukah naviri surgawi? Apakah mata itu sungguhan ataukah sedang menggunakan softlens, karena bagaimana ada manusia dengan bola mata seindah itu. Apakah bulu mata itu sungguhan ataukah sambungan, karena bagaimana mungkin ada ujung bulu mata selentik itu. Itu pipi mengapa bisa bersemu merah seperti lazuardi tersaput jingga?

Sejak itu, tak ada satu pun orang yang tahu, Nina mengisi khayalan-khayalan kelakian-remajaku. Hatiku marah kalau ada yang menggodanya atau menjelekkannya. Aku tak terima, sungguh aku tak terima. Tapi aku sendiri bahkan menyapanya pun tak berani. Bahkan, aku terkesan menjauh darinya. Aku takut. Takut dia tahu apa yang kukhayalankan tiap malam tentangnya. Takut teman-teman kelasku tahu apa yang ada di hatiku. Kalau sampai tahu, gurauannya bisa tak tertahankan. Aku juga malu. Malu saja! Gabungan antara malu dan takut adalah kombinasi yang akan mengunci mulut laki-laki untuk menyatakan cinta sedahsyat apapun api cinta itu membakar hatinya.

Baca Juga  Angka 40 dalam Khazanah Keislaman

Satu-satunya momen aku menyapanya adalah saat semua siswa baru diminta untuk mengumpulkan foto diri. Entah kekuatan dari mana, aku mendekatinya dan meminta satu fotonya yang tersisa. Dia memandangnku dengan senyum dan menyodorkan fotonya. Oh Tuhan, senyum itu! Bibir itu! Mata itu! Keindahan pipi bersaput jingga itu!

Foto itulah yang kemudian kulukis menjadi sketsa wajahnya dan kupasang di kamar untuk menemani malam-malamku.

Naik kelas dua, kami berpisah jurusan. Dia memilih jurusan sosial, sedang aku di kelas IPA. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Tidak jarang aku sengaja duduk di dekat jendela kaca kelasku untuk sekedar dapat melihat Nina berjalan dari pintu gerbang sekolah ke ruang kelasnya. Sesekali ketika dia memergokiku sedang memandanginya, dia tersenyum padaku. Seperti biasanya, tatapan matanya dan ulasan senyumnya adalah keindahan yang meneduhkan. Saat-saat seperti itu, aku seperti pencopet yang tengah tertangkap basah. Aku hanya diam, membalasnya senyumnya dengan canggung, dan secepatnya memalingkan pandang ke arah lain untuk berpura-pura bahwa pandanganku tadi sepenuhnya tidak sengaja.

Malam ini, aku akan mengatakan dengan jujur perasaanku kepadanya. Aku ingin saat tuaku nanti, ketika aku terbangun dari tidur, Nina ada di sampingku.

***

“Papa…,” suara Nina melengking sambil mengucak-ucak matanya yang masih terlihat ngantuk. Aku segera menggendong putri kecilku turun dari tempat tidur. Dia memang selalu minta digendong untuk sekedar turun dari tempat tidurnya.

Aku melihat istriku berdandan di depan kaca rias, bersiap berangkat ke luar kota untuk menemui kliennya. Tika adalah istri yang nyaris sempurna. Apa sih yang diharapkan seorang suami selain seorang istri yang cantik dan baik. Kami memiliki perkawinan yang sempurna. Sebagai laki-laki, aku tak pernah mengkhianatinya.

Baca Juga  Bunyai Ainur Rohmah: Potret Otoritas Perempuan dalam Kepemimpinan Pesantren

Nina menggelayut manja di lenganku. Aku segera menggendongnya dan mendekapnya erat. Erat sekali!

I need you to remember our unspoken promise

I do not fear longing, but your sorrow haunts me

I do not fear solitude, but your loneliness haunts me

No one will hear of our desolation

(Autumn Strong [English version] by Koji Tamaki)

Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo