Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Nyantri: Menyelami Pendidikan dan Tradisi Pesantren

2 min read

Gambar: https://darulmuttaqin.org/2021/10/10/kegiatan-kerja-bakti-santri/

Hakikatnya, pesantren menjadi pusat pemeliharaan berbagai tradisi keilmuan kaum santri yang diproduksi oleh para generasi bangsa ini. Misalnya, mulai dari tradisi kesusastraan Nusantara hingga tradisi ilmu-ilmu sosial pesantren. Itu sebabnya, tradisi keilmuan sosial kaum pesantren dimulai dari perspesi tentang karakter umum dari penjajah dan kaki-kaki tangannya.

Buku-buku kaum santri, mulai dari Syekh Ahmad Chatib Minangkabau-guru Hadlratus Syekh Kiai Hasyim Asy’ari-dengan judul Dlaw al-Siraj yang berisi kumpulan syair dan hikayat tentang Perang Sabil yang ditulis oleh ulama-ulama Aceh, hingga buku Kiai Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-Orang dari Pesantren dan Berangkat dari Pesantren.

Di sana, tidak akan Anda jumpai teori tentang kebudayaan besar berhadapan tradisi kecil, dikotomi kota-desa, mentalitas konservatif dan tradisional atau kebudayaan primitif orang-orang desa sebagaimana halnya Marxian yang dimulai dari persepsi tentang musuh mereka, kapitalisme (Marx memulainya dari perpsektif Hegelian tentang tesis-antitesis-sintesis).

Pergumulan orang-orang pesantren dengan penjajahan, dimulai dari konsolidasi tesisnya, yakni dari tradisi pesantren.

Dari tradisi ini, ilmu-ilmu sosial menginspirasi sebuah dua aksi praksis, ideologi dan praksis-gerakan. Keduanya kemudian melahirkan sebuah gerakan sosial seperti sejumlah pesantren yang dekat dengan pabrik-pabrik gula di masa kolonial. Konteks geografis ini pula yang memunculkan keilmuan ilmu kaum santri tentang ekonomi-politik, pabrik gula, logika kapitalisme global, dan tentang perdagangan.

Syahdan, pesantren adalah tradisi hubungan antara guru dan murid. Sang guru tidak hanya melatih keterampilan sang murid, tetapi juga membentuk kepribadiannya. Karena praktik latihan dan proses berguru itu tidak dilakukan dengan cara duduk di dalam kelas dengan jadwal-jadwal pasti, maka pesantren juga merupakan sebuah komunitas, proses bermasyarakat menjalani kehidupan.

Kalau sebuah proses bermasyarakat dan menjalani hidup ini berjalan dengan sendirinya, guru tidak memberitahu apa yang harus dikerjakan, namun sekedar menegur kalau ada kesalahan, maka itu lah fungsinya sebagai sang ideolog.

Baca Juga  Fatwa MUI: Haram Golput pada Pemilu 2024

Dengan demikian, maka kaum pesantren, bagaikan musisi jazz saling berinteraksi dan kemudian membentuk satu kesatuan dalam proses tanpa ada pengarahan dan rencana sebelumnya. Semuanya dilakukan secara bersama dalam proses.

Tradisi dan praktik kebudayaan dalam lingkup pesantren lahir setiap hari, setiap kali dipentaskan dan dihadirkan. Segalanya menjadi baru dan aktual, karena secara spiritual ada usaha untuk melakukan adaptasi, aktualisasi, interpretasi.

Dalam tradisi pesantren ada tiga unsur pokok sebagai basis pendidikan: desa, kitab kuning, dan masjid-pondok-dalam tradisi Bali ada desa, kala, dan patra; tempat, waktu, dan suasana; demikian pula di Jawa, empan, papan, dan winiraos-yang merupakan prinsip panutan hidup, dan sekaligus merupakan jiwa kebudayaannya. Dalam pengembaraan spiritual itulah diperlukan seorang guru/kiai sebagai lokus pendidikan dalam tradisi dan komunitas pesantren.

Di tangan sang guru, pengembaraan itu tidak menjadi perintah-perintah yang pasti, tapi lebih pada isyarat-isyarat yang memancing para santri dan masyarakat pendukungnya untuk memasuki suasana mencipta dari sesuatu yang tidak pernah jelas sebelum benar-benar terjadi.

Improvisasi seperti halnya tajdid (pembaruan) atau almuhafazhah (pemeliharaan) merupakan institusi yang amat penting sekaligus merupakan tempat untuk mengaplikasikan desa-kala-patra sehingga suasana pendidikan menjadi aktual.

Nyantri, dengan demikian, adalah sebuah usaha untuk hidup bersama tradisi dan mengartikannya bukan sebagai hal yang saklek melainkan sesuatu yang hidup dan tumbuh sebagai bagian dari masa kini.

Di sisi lain, kaum pesantren mengajak orang memikirkan kembali (rethink) tentang segala sesuatu yang sudah diterima sebagai kesimpulan. Bukan untuk mengajak orang berbalik langkah atau mengingkari diri, tapi untuk mengaktualisasikan segala keyakinan-keyakinannya setiap saat.

Dalam konteks itu, sang kiai hadir sebagai seorang pembimbing (syuyukhiyah). Hal ini merupakan pengaturan strategi yang mebutuhkan akal dan rasa. Ada strategi bahasa, ruang, visual, psikologi, dan juga manajemen, bahkan juga strategi.

Baca Juga  Gagasan 'Muslim Progresif’ Omid Safi: Antara Tasawuf dan Humanisme

Umumnya, seorang kiai adalah seorang figur sentral (lokus) yang memiliki otoritas tak terbatas dan tak terbantah dalam proses produksi keilmuan dan tradisi. Dalam hal ini, hanya seorang pemimpin spiritual dengan keahlian dan keilmuan tertentu yang bisa menjadi seorang kiai dari panggung/lanskap kebudayaan, beragama, termasuk dalam hal berpolitik.

Oleh karena itu, tidak keliru jika dikatakan bahwa seorang kiai adalah seorang figur pemimpin yang mampu menciptakan teladan (uswah) bagi pengikutnya, termasuk memberikan pengalaman spiritual. Wallahu a’lam bisshawab.

Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo