Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Pesantren dan Potensi Pengembangan Ekonomi

1 min read

Pondok pesantren adalah lembaga yang mandiri. Sejak berdirinya hingga sekarang, pesantren tetap tegak dan eksis dalam mengembangkan potensinya. Potensi ekonomi pesantren merupakan potensi terbesar NU. Kemandirian pesantren sejak berabad-abad yang lalu menunjukkan bahwa pesantren telah memiliki basis ekonominya secara mandiri.

Perlu diakui juga bahwa, kemampuan ekonomi pesantren masih bersifat tradisional karena belum adanya wadah informasi dalam mengembangkan potensi antar pesantren. Pesantren tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan.

Akan tetapi, pesantren juga mempunyai potensi yang besar dalam pengembangan ekonomi. Seperti dalam memproduksi barang sederhana seperti pakaian, rokok, sajadah. Selain itu pesantren juga mampu memberikan skil bertani, berternak dan berdagang.

Selepas dari pesantren, para santri dapat hidup mandiri dengan bertani, berternak, atau menjadi pedagang kecil. Seiring dengan perkembangan zaman, sudah saatnya pesantren mengembangkan kemandiriannya dengan memperluas basis ekonominya melalui potensi dalam memproduksi barang-barang sederhana.

Dengan memanfaatkan teknologi modern dan hasil-hasil penelitian dalam pengembangan unit produksinya yang kebanyakan masih tradisional. Perluasan akses jaringan dalam mengembangkan potensi atas produksi yang dihasilkan dapat dilakukan dengan membuka diri pada peluang produksi lain yang sangat dibutuhkan oleh para santri dan masyarakat. Sehingga, pesantren dapat menjadi basis pengembangan ekonomi umat.

Syahdan. Peran pondok pesantren sebagai pengembangan perekonomian umat menjadi sangat krusial. Sebagian masyarakat muslim masih menganggap bahwa pondok pesantren dengan kyainya menjadi referensi awal dalam kehidupan keberagaman maupun kemasyarakatan.

Dengan demikian, potensi dan integritas pondok pesantren yang tinggi harus mampu menyusun strategi dalam pengembangan ekonomi yang bernuansa islami. Sehingga pemberdayaan pesantren yang secara kuantitas maupun kualitas memiliki semua yang dibutuhkan dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Baca Juga  Guru Digital Menggantikan Model Guru Kelas, Kok Bisa?

Jika dilihat dalam hal kuantitas, setidaknya dalam jumlah pondok pesantren di Indonesia tersebar hampir disetiap penjuru tanah air. Sementara dari segi kualitas, kyai, santri maupun alumni pondok pesantren memiliki keunggulan dalam bidang pemahaman teori dan konsep-konsep ekonomi Islam yang mumpuni.

Sehingga keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan mayoritas terbesar di Indonesia diharapkan mampu mengoptimalisasi pendidikan di bidang ekonomi syariah.

Hal ini perlu dilakukan agar pendidikan pesantren dalam hal pengembangan ekonomi sinkron dengan perkembangan zaman, serta mampu menganalisa atas apa yang dibutuhkan masyarakat dan mampu memenuhinya.

Seperti memperdayakan santri melalui pelatihan-pelatihan dalam berbagai bidang garapan ekonomi di dalam pesantren maupun di luar pesantren, sehingga karya para santri memiliki daya saing yang tinggi di pasar luas. Selain itu, pesantren juga harus mampu menyusun strategi untuk memaksimalkan pendidikan dalam mengembangkan usaha.

Pengembangan usaha dapat melalui jaringan ekonomi antar pesantren, santri sebagai alumni pesantren, masyarakat dan pemilik modal. Jaringan ekonomi antar pesantren selain memberikan keuntungan secara ekonomi, juga mampu meningkatkan hubungan kerjasama antar pesantren.

Banyaknya jumlah pesantren dengan ribuan santri tentu banyak kebutuhan yang harus dipenuhi yang tidak mungkin dapat disediakan sendiri oleh pesantren tersebut. Oleh karenanya, jaringan ekonomi pesantren akan dapat menyediakan informasi produksi dan kebutuhan diantara pesantren, sehingga pasar dan distribusi produksi ekonomi dari pesantren akan semakin luas.

Dengan demikian pesantren akan semakin kuat dan mandiri, yang pasti juga akan dirasakan oleh para santri maupun alumni. Tingkat ketaatan dan keeratan ikatan emosional antara pesantren dengan alumni dapat memberikan keuntungan untuk semakin memperluas jalur distribusi dan pengembangan pasar.

Lebih dari itu, alumni dapat menjadi penghubung antara pesantren dengan masyarakat. Yang terakhir, kerjasama dengan pemilik modal menjadi bagian penting dalam pengembangan ini, karena selama ini ekonomi santri hanya dibangun dengan keterbatasan modal. Wallahu a’lam bisshawaab.

Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo