Almi Novita Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Resistensi Komunitas Eks Hizbut Tahrir Indonesia Pasca-Pembubaran di UIN Sunan Ampel Surabaya [Bagian 1]

2 min read

Tahun 2017 nampaknya menjadi tahun yang cukup menegangkan bagi komunitas Hizbut Tahrir Indonesia yang sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 90-an. Ketegangan ini terjadi sejak pemeritah mensahkan Perppu (Peraturan pemerintah pengganti undang-undang) Nomor 2 Tahun 2017 mengenai organisasi kemasyarakatan yakni pembubaran ormas yang dianggap dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dikutip dari sebuah portal NU Online Pasca-dibubarkan, komunitas Hizbut Tahrir Indonesia tidak serta merta membubarkan komunitasnya, mereka bertransformasi menjadi Komunitas Royatul Islam (KARIM). Pergantian nama ini dikarenakan mereka tidak lagi dapat menyebutkan komunitasnya sebagai komunitas atau Ormas Hizbut Tahrir Indonesia secara transparan karena kini Hizbut Tahrir Indonesia telah menjadi salah satu Ormas terlarang di Indonesia dan setiap pergerakannya di pantau oleh pemerintah.

Meskipun demikian, komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia tak kehabisan cara untuk terus berdakwah, mereka justru semakin masif dalam menyebarkan setiap ajarannya, yakni menjalankan seluruh syariat Islam khususnya dalam lingkup kampus.

Pasca-pembubaran, mahasiswa dan staf kampus yang terafiliasi  Hizbut Tahrir Indonesia dikeluarkan dan di pantau aktivitasnya oleh pihak kampus sesuai dengan himbauan pemerintah, karena dikhawatirkan dapat menyebarkan unsur-unsur yang mengandung paham radikalisme kepada mahasiswa lainnya khususnya mahasiswa baru yang belum begitu paham mengenai aktivitas-aktivitas yang mengandung unsur radikalisme.

Hal menarik yang berhasil saya temukan sebagai bukti bahwa komunitas eks Hizbut Tahrir di lingkungan kampus khususnya di UIN Sunan Ampel Surabaya masih terus mengembangkan komunitasnya adalah:

Pertama, komunitas mahasiswa eks Hizbut Tahrir Indonesia di UIN Sunan Ampel Surabaya masih mengadakan kajian rutin setiap hari sabtu malam (kajian MALKIS/Malam Minggu Kajian Eksis) di sebuah kontrakan yang tertutup.

Kedua, komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia masih masif merekrut mahasiswa lainnya melalui kajian yang diadakan setiap sabtu malam atau hanya sekedar untuk berkunjung ke sebuah kosan yang dihuni oleh para simpatisan.

Baca Juga  Bulan Syakban: Mengingat Kembali Peristiwa Perpindahan Arah Kiblat

Ketiga, dalam setiap dakwah yang disampaikannya masih mengusung ide Khilafah Islamiyah sebagai solusi dalam menghadapi setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Keempat, para pengisi kajian rutin setiap minggu yang diadakan oleh komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia di UIN Sunan Ampel Surabaya di dominasi oleh mahasiswi S2 dan senior yang sudah sejak lama menjadi anggota Hizbut Tahrir Indonesia.

Kelima, simpatisan eks Hizbut Tahrir Indonesia masih membagikan buletin yang biasa dibagikan setiap hari Jumat setelah salat Jumat di masjid-masjid yang ada di Surabaya dan juga biasa dibagikan setelah mengikuti kajian-kajian yang mereka adakan.

Keenam, bagi mahasiswa ataupun staf kampus yang terafiliasi sebagai anggota Hizbut Tahrir Indonesia di berhentikan dari kampus. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya seorang dosen yang terafiliasi Hizbut Tahrir Indonesia dikeluaran oleh kampus sejak satu semester terakhir, pada tahun 2019.

Selain menggunakan Ayat Al-Qur’an sebagai landasannya, komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia juga menggunakan beberapa hadis dalam upaya meyakinkan masyarakat akan penegakkan Syariat Islam dalam bingkai khilafah, berikut salah satu hadis yang disampaikan dalam kajian MALKIS yang dianggap sebagai pesan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelum beliau wafat. Bahwa kepemimpinan yang tadinya dipimpin oleh Nabi, pasca wafatnya Nabi akan digantikan oleh seorang khalifah sebagai pemimpin. Hadits tersebut kemudian dianggap sebagai kabar yang disampaikan oleh Nabi yang mengandung pujian atas hadirnya khilafah.

عَنْ الَّنبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوسُهُمْ الأَنْبِيَاءَ، كُلّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَه نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ قَالُوْا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ أَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُم

Baca Juga  Islam Nusantara sebagai Brand (2)

“Nabi bersabda, “Dulu Bani Israil diurus dan dipimpin oleh Nabi. Setiap seorang Nabi meninggal, akan digantikan dengan Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku, dan aku ada banyak khalifah, “para sahabat bertanya: lalu apa yang Engkau perintahkan kepada kami?” Rasulullah SAW bersabda, penuhilah baiat yang pertama, yang pertama saja, dan berikanlah kepada mereka haknya. Sesungguhnya Allah akan meminta kepada mereka pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan”.

Selain itu, komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia juga membuat sebuah komunitas dakwah yang bergerak di bidang ekonomi, yakni: SOHIB (Sobat Hidup Berkah). Komunitas dakwah ini merupakan sebuah wadah yang sebagian besar materinya menjelaskan mengenai cara berdagang sebagaimana Rasulullah SAW. Komunitas sohib rutin mengadakan kajian setiap hari senin pukul 19.30 di tempat yang berpindah-pindah, terkadang di sebuah rumah makan, hotel, dan tempat-tempat perkumpulan lainnya yang ada di sekitar Surabaya dan Sidoarjo.

Dalam kajian sohib berbagai kalangan ikut berkumpul, mulai dari remaja, mahasiswa, ibu rumah tangga, para pembisnis muda dan masih banyak lagi. Banyaknya minat masyarakat yang ingin memperdalam ilmu agama menjadi salah satu alasan komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia tetap resilien untuk berdakwah mendakwahkan Syariat Islam kepada masyarakat luas melalui berbagai kajian yang dikemas secara menarik. Komunitas ini saya ketahui melalui salah seorang simpatisan eks Hizbut Tahrir Indonesia pada saat mengikuti kajian malkis.

Melalui kajian-kajian yang mereka dirikan menjadi bukti bahwa komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia resilien dan masif mendakwahkan ajarannya, yakni penegakkan syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Meskipun aktivitasnya dipantau dan risiko yang dihadapi komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia di UIN Sunan Ampel Surabaya cukup besar, namun mereka yakin bahwa suatu saat Islam akan kembali berjaya bersamaan dengan tegaknya khilafah sebagai ideologi komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia.

Baca Juga  Memaknai Pernyataan Gus Dur Sebagai Keturunan Tionghoa

Namun, hal ini tidak menjadi penghalang bagi komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia dalam berdakwah, karena Bagi komunitas eks Hizbut Tahrir Indonesia sebagai umat Islam yang taat mereka tidak boleh berhenti berdakwah, karena dakwah merupakan penyadaran umat akan urgensinya untuk kembali pada kehidupan yang Islami dan mewujudkan khilafah merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar dalam Hizbut Tahrir Indonesia. [MZ]

Bersambung–Klik di Sini

Almi Novita Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya