Achmad Murtafi Haris Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Pentingnya Mencermati Latar Depan Budaya, Bukan Sekadar Latar Belakang

3 min read

Beberapa waktu yang lalu isu sentimen kedaerahan muncul ke permukaan. Mulai dari ceramah Tengku Zulkarnain yang dianggap menyerang suku Jawa dan sambutan Puan Maharani saat penetapan calon gubernur Sumatera Barat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang berujung ricuh. Kalimat penutupnya ditengarai menuduh masyarakat Minang kurang Pancasialis. Meski yang kedua lebih dekat dengan isu ideologis, bukan stigma kesukuan, namun sama saja keduanya menyasar suku tertentu.

Dalam hal ini, warga Jawa tidak bereaksi terhadap ceramah Tengku Zul yang stigmatik. Sementara warga Minang bereaksi keras hingga sang calon gubernur mengembalikan surat pencalonan oleh PDI-P. Respons yang berbeda ini menimbulkan pertanyaan, adakah ia merupakan karakter komunal atau stereotip, bahwa orang Jawa pasif dan orang Minang reaksioner?

Pengalaman penulis bergaul dengan orang dari berbagai suku dan bangsa: orang Indonesia, Afrika, kulit putih, hitam, kuning, merah saat tinggal di asrama Universitas al-Azhar Kairo, semua pada dasarnya sama. Siapa pun terganggu kalau ada yang berisik.

Orang Afrika marah kepada orang Indonesia karena memasak pakai terasi yang baunya menyengat. Orang Mesir marah sama orang Afrika karena suka ngeyel. Yang pasti, pergaulan akan baik-baik saja hingga ada yang terganggu yang itu ukurannya adalah panca indra. Bau menyengat, hidung menolak; berisik, telinga menolak; kesenggol keras, kulit menolak; Seronok, mata menolak. Sikap kasar, keras, selagi tidak merugikan secara fisik dan bisa ditolerir, tidak perlu dibalas.

Apakah benar orang Jawa penyabar? Tidak. Amien Rais orang Solo tapi dalam berpolitik sangat keras terhadap lawan politik. Akbar Tanjung, yang Batak, sangat lembut. Seperti kata almarhum Matori Abdul Jalil, ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa zaman Gus Dur menjadi presiden dalam talkshow televisi yang dipandu Uni Lubis.

Baca Juga  Sejarah Lahirnya Hizbut Tahrir dan Masuknya di Indonesia hingga Pembubarannya

Dari sini penilaian umum tentang karakter masyarakat suku tertentu lebih merupakan stereotip atau pandangan subyektif yang miring terhadap kelompok lain. Fakta yang sebenarnya adalah bahwa setiap individu adalah pribadi yang unik yang tidak sama antara satu dengan yang lain.

Kemampuan individu dalam beradaptasi dengan yang lain adalah yang menentukan kualitas individu. Inilah latar depan manusia yang langsung dinilai orang. Bukan identitas suku, agama, ras dan golongan yang menjadi latar belakang seseorang.

Memang ada logat dan intonasi yang lebih rendah dan lebih tinggi dari gaya bicara masyarakat suku tertentu yang tidak bisa dipungkiri. Seperti logat Jawa Surabaya dan Yogyakarta tentu beda. Logat Surabaya lebih ngegas dibanding Yogya. Nada bicara Batak dan Minang pun demikian, yang pertama lebih ngegas dari yang kedua.

Meski demikian, dalam pergaulan luas masing-masing menyesuaikan satu sama lain sehingga tidak terlalu nampak perbedaan antar-sesama. Yang oktafnya terlalu tinggi diturunkan dan yang rendah dinaikkan. Inilah yang penulis sebut dengan Ethical Equilibrium.

Dalam berbangsa dan bernegara, setiap warga negara lintas suku, agama, ras, dan bahasa harus belajar menyamakan suara agar tidak terdengar sumbang atau nyaring sendiri sehingga bikin berisik yang lain. Seperti saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di waktu upacara, maka terlebih dahulu ada penyamaan suara.

Secara alamiah, etika standar nasional terbentuk dari sinkronisasi aneka karakter dan tradisi daerah. Saling bersalaman, mengelus samping pundak kawan untuk memberi sugesti, berbicara dengan baik-baik dan dengan suara yang tidak keras dan sejenisnya adalah contoh dari serapan lokal yang dibawa ke tingkat nasional.

Ethical Equilibrium meski tidak bersifat formal dan baku, kecuali jika petinggi negara memutuskan untuk mewajibkannya sebagai kode nasional, ia menjadi tolok ukur kedewasaan dan kematangan seseorang.

Baca Juga  Tasawuf di antara Orisinalitas dan Produk Impor

Dalam budaya Melayu terdapat gelar Datuk yang bagi siapa pun yang menyandangnya, mustahil baginya berperilaku tidak layak. Hal ini lantaran bahwa perilaku mulia dan kemampuan membawa diri adalah syarat awal untuk meraih gelar itu.

Ini tentu sejalan dengan ajaran agama Islam di mana Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Bukhari). Mereka yang telah sampai pada posisi tersebut atau para public figure seharusnya telah inheren (menyatu) dalam dirinya sifat-sifat mulia. Tidak membiarkan dirinya terbawa emosi dan lepas kontrol mengabaikan standar kepatutan.

Ada dua teori dalam proses pembentukan budaya nasional dalam kaitan dengan keanekaragaman latar belakang warga atau Multikulturalisme. Ada teori Wadah Peleburan atau Melting Pot yang mana warga dengan pelbagai identitas melebur dalam satu budaya nasional hingga tidak lagi nampak identitas budaya lokal atau komunal masing-masing. Di sini identitas ras, suku dan agama meleleh oleh identitas nasional.

Contoh dari Melting Pot adalah Amerika Serikat di mana warganya yang merupakan gabungan bangsa-bangsa dunia melebur jadi satu hingga tidak lagi nampak perbedaan budaya warganya.

Banyaknya warga keturunan Cina di Amerika hingga disebutkan bahwa di antara tiga bayi lahir, satu adalah bayi ras Cina, tidaklah membuat identitas Cina menguat tapi meleleh oleh identitas nasional Amerika.

Teori kedua adalah Mangkuk Salad atau Salad Bowl. Tidak seperti teori pertama, teori ini tetap mempertahankan identitas bawaan: ras, suku dan agama sehingga ia tidak meleleh oleh kuatnya identitas nasional.

Dalam mangkuk salad terdapat banyak sayuran dan buah-buahan yang tidak diblender tapi masing-masing dibiarkan bersanding dengan lainnya dan hanya dengan tuangan mayonais, maka salad itu pun bisa dinikmati dengan lezat.

Baca Juga  Logika Kolonial dan Cibiran Atas Penanganan Pandemi

Warna-warni budaya di sini dianggap seperti aneka bahan alam yang jika disandingkan satu sama lain akan menciptakan tercipta keindahan sosial.

Jika di Amerika tidak nampak perbedaan budaya warga meski mereka sebenarnya adalah bangsa-bangsa yang berbeda, karena tampilan mereka sama dari baju, celana dan gaya rambut yang mereka miliki.

Tidak demikian halnya dengan United Kingdom. Di sana nampak identitas budaya yang beragam. Khususnya mereka yang keturunan India, Pakistan, Sikh dan Arab dengan busana dan style masing-masing. Mereka mengaku sebagai warga UK tapi dengan penampilan yang tidak tidak sama.

Indonesia, apakah meniru model Melting Pot atau Salad Bowl? Pilih Wadah Pembauran atau Mangkuk Salad?

Sepintas nampak bahwa Indonesia lebih condong ke yang pertama yaitu Wadah Peleburan. Hal ini ditandai dengan hilangnya aneka busana daerah dari keseharian mereka. Busana daerah hanya muncul di peringatan Hari Kartini setahun sekali.

Baju daerah tidak lagi digunakan kecuali diperintahkan untuk digunakan. Seperti kewajiban pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah daerah Ibukota Jakarta untuk menggunakan baju Betawi pada hari Rabu.

Demikian juga di daerah lain hampir baju daerah tidak lagi digunakan kecuali di saat acara seremonial. Antara keduanya, baik Melting Pot mau pun Salad Bowl tidak ada yang lebih unggul.

Yang paling penting adalah terwujudnya kesadaran berbangsa dan bernegara yang baik. Kesadaran yang mampu mendorong setiap warga memiliki keseimbangan etis demi harmoni sosial dan kemajuan negara.

Editor: MZ

Achmad Murtafi Haris Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya