Qada’ dan Qadar Dalam Pandangan Gus Baha’

Takdir merupakan ketetapan yang Allah berikan kepada setiap manusia yang ada didunia dimulai dari sejak dalam kandungan sampai kembali lagi kepada Allah swt yakni kematian. Namun sebagian besar orang banyak yang menyalahkan tadir atau bahkan yang tidak percaya dengan takdir, mengapa demikian? Hal itu sebabkan karena manusia itu “ujub”. Yang dimaksud ujub yakni seseorang yang secara besar merasa paling terdzolimi.

Dalam kata lain dia merasa dia paling baik, paling sholeh, paling taat ibadahnya namun dia kecewa dengan takdir tuhan bahwa dia akan terbawa kearah neraka. “Dia yang dari kecil nyantri sampai besar menjadi kyai tapi selanjutnya malah masuk neraka” pemikiran orang yang seperti ini dinamakan Ujub dalam konteks ini.

Manusia yang janggal dengan ketetapan (Qada’ dan Qadar) yang ditetapkan Allah kepada kita karena menganggap bahwa dirinya itu penting, sehingga dia merasa paling berkuasa dan kecewa jika takdir yang diinginkan yakni masuk surga malah masuk neraka, ya karena itu tadi karena adanya unsure ujub dalam diri manusia seperti itu.

Padahal jika dipikir secara logika Allah punya segalanya dialam semester ini, tidak ataupun adanya dirimu itu tidak penting bagi Allah, sehingga malu jika kita harus berlagak penting dihadapan Allah swt. Sifat ujub manusia disini yang menganggap semua amalannya akan sia-sia telah diterangkan dalam hadits riwayat

Qada’ dan qadar itu keputusan Allah mengenai masa depan hamba Nya, kita sebagai hambanya harus bisa memuji Allah bahwa Allah tau semuanya, bahwa Allah maha segala-galanya dan hanya Allah yang berhak untuk dipuji, bukanlah diri kita. Kita tidak layak  untuk mendapatkan pujian, karena kita hanyalah serpihan dari apa yang ditetapkan Allah swt.

Kita sebagai hambanya yang taat alangkah baiknya kita tidak ikut-ikutan dengan keputusan Allah. Yang perlu dilakukan adalah berusaha agar menjadi yang terbaik untuk diri kita, untuk urusan kedepannya penilaian hanya dari Allah SWT.

Manusia-manusia yang kecewa dengan takdir tuhan mereka itu berpikir pada level kedua. Dimana level kedua itu contohnya nabi Dzakaria yang sudah sangat tua tidak memiliki anak dan istrinya mandul Ia berkata “Ya Allah kulo sampun tua, ya gimana caranya saya bisa punya anak? Gusti mosok saget?.

Sedangkan untuk membangun akhidah kita harus berada pada level pertama yakni percaya dari apa yang mungkin menjadi tidak mungkin. Contoh level pertama yakni Allah menjadikan manusia dari yang awalnya tidak ada, itu merupakan kebesaran Allah SWT. sehingga level pertama harus dijadikan patokan dalam kehidupan, dan jangan memakai level kedua karena akan mengarah kepada kemusrikan (tidak percaya Allah).

“Brengel” atau ngelawan juga merupakan penyakit manusia yang merasa kecewa dengan takdir Allah. “Ya allah saya loo sudah sholat lima waktu ditambah sholat sunnah sampai dahi saya mengitam, tapi kok njenengan masukkan saya ke Neraka ya Allah, kenapa?” itu adalah ucapan orang yang “Brengel” dimana itu adalah penyakit kuno yang jadul dosa yang paling kuno. Ngelawan itu bukan hanya dosanya manusia saja tapi dosanya malaikat juga ngelawan.

Seperti halnya manusia diciptakan sebagai Kholifah Fil Ard (Pemimpin dibumi) yang padahal manusia itu sudah dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang berpotesi sebagai perusak dibumi, dan disitu malaikat protes kepada Allah “ya Allah Engkau kok menjadikan Khalifah dari manusia, segolongan yang berpotensi membantah, yang berpotensi perusak dibumi dan mengalirkan darah, padahal kita setiap hari membaca tasbih sama-sama khalifah kan lebih pantas kita” itu adalah dosa “brengkel” atau ngelawan malaikat.

Sehingga untuk itu kalau menuju Allah mendekatkan diri kepada Allah itu perlu memakai ilmu, jangan memakai perasaan. Dimana perasaan itu tempatnya hawa nafsu, dan hawa nafsu itu tidak memakai daya pikiran lagi, yang jika kita menuruti hawa nafu bisa-bisa terpelosok dalam kemusyrikan. Sehingga untuk itulah pentingnya menuntut ilmu.

Allah merupakan dzat yang maha kuasa diatas segala kuasa. Sehingga apapun keputusan Allah apapun takdir yang diberikan Allah kepada kita, yaa itu terserah Allah, karena Allah maha mengetahui diantara segala kaumnya. Kita sebagai manusia sebagai makhluknya hanya perlu mensyukuri dan menikmati dari segala takdir yang telah diberikan Allah kepada kita semua. Tidak perlu perotes, tidak perlu komplain mengenai takdir kita yang diberikan Allah kepada kita. Allah tahu apa yang terbaimk untuk kita. Sehingga kita tidak perlu ragu akan takdir dan nikmat yang diberikan Allah swt kepada kita semua. Sesuai dengan hadits

Anas bin Malik ia berkata: “Ketika ayat berikut ini turun: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, Tsabit bin Qais sedang duduk dirumahnya dan berkata: “Aku ini termasuk ahli neraka. Dia menjauhi diri dari Nabi saw. Kemudian Nabi bertanya kepada Saad bin Muaz: Hai Abu Amru, bagaimana keadaan Tsabit? Apakah ia sakit? Saat menjawab: Sesungguhnya ia adalah tetanggaku aku tidak melihat pada dirinya suatu penyakit. Lalu Saad mendatang Tsabit dan menuturkan perkataan Rasulullah. Lalu Tsabit berkata: Ayat ini telah diturunkan, bahwa kalian tau bahwa aku adalah orang yang palin g keras suaranya, melebihi suara Rasulullah. Jadi aku ini termasuk ahli neraka. Kemudian Saad menuturkan hal itu kepada Rasulullah saw, lalu Rasullullah saw, bersabda: (Tidak demikian), tetapi sebaliknya ia termasuk ahli surga” (Shahih Muslim No. 170)

Begitulah kira-kira pemikiran Gus Baha’ mengenai Qada’ dan Qadar. Manusia hanya bisa berusaha dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita. (mmsm)

2

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.