Kiprah Pesantren Di Era Kolonialisme Hingga Modern

3 min read

Perkembangan dunia pendidikan Islam yang ada saat ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika perkembangan dunia pesantren. Peran yang dimaksud adalah tidak hanya terbatas pada perluasan ilmu dan dakwah Islam ke seluruh dunia, melainkan juga dalam mengkontruksi jiwa perlawanan umat Islam terhadap penjajah.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional. Lembaga tersebut berdiri sejak 300-499 tahun yang lalu dengan menjangkau seluruh masyarakat muslim. Pesantren telah mendapat pengakuan sebagai lembaga pendidikan yang mana ikut andil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonial, pesantren merupakan lembaga pendidikan begitu berjasa bagi masyarakat muslim.

Sejarah Berdirinya pesantren dan perkembangannya

Sejarah pertumbuhan masyarakat muslim di Indonesia memiliki hubungan erat dengan sejarah pondok pesantren. Hal ini dapat dibuktikan melalui zaman kerajaan Islam yang pertama di Sumatera khususnya di wilayah Aceh pada awal abad tahun hijriyah. Kemudian pada waktu walisongo sampai awal abad dua puluh begitu banyak para wali dan ulama mendirikan desa baru menjadi lingkup pesantren.

Pada masa perjuangan mengusir penjajah di Indonesia, pondok pesantren mengambil peran dalam aspek pendidikan yang bertujuan untuk membuat masyarakat Indonesia maju dan cerdas dalam intelektualitas. Di sisi lain pesantren juga melakukan gerakan perlawanan terhadap kolonial yang dikomandoi oleh kyai seperti perjuangan pesantren Tebuireng dengan sosok khos KH. Hasyim Asyarie.

Seiring berkembangnya zaman, pesantren kini mengalami reformasi modernisasi. Berdirinya pesantren pada umumnya diawali dari sebuah pengakuan masyarakat akan keunggulan dan ketinggian ilmu seorang guru atau kyai. Bahkan adanya keinginan besar menuntut dan memperoleh ilmu dari para guru, pesantren yang dulu hanya sekedar pondok atau tempat tinggal yang digunakan supaya bisa tinggal berdekatan dengan seorang kyai atau guru, guna menimba ilmu kepadanya. Dengan demikian, pepatah mengatakan semakin tinggi ilmu seorang guru, semakin banyak pula orang dari luar daerah yang datang untuk memperoleh ilmu kepadanya dan berarti semakin besar pula kiprah pondok pesantrennya.

Baca Juga  Soal Toleransi 'Jangan Ajari Ikan Berenang di Air'

Secara bahasa Arab kata “Pondok” berarti funduq yang merupakan asrama. Tetapi berbagai wilayah Indonesia menyebut Pondok Pesantren dengan beragam variasi, misalnya di Jawa dan Madura umumnya menggunakan istilah pondok dan pesantren, di Aceh menyebutnya dengan istilah dayah, rangkang, atau meunasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau.

Pesantren dapat dikatakan “bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia, karena didirikan adanya tuntutan kebutuhan zaman. Hal tersebut dapat menjadi reformasi sejarah perkembangan pesantren yang dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah islamiyah, yaitu dengan menyebarluaskan serta mengembangkan ajaran Islam sekaligus mencetak generasi kader ulama dan da’i di penjuru dunia.

Pesantren dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam yang menjadi sentral dari perubahan masyarakat melalui aktivitas dakwah Islam, bahkan berpengaruh terhadap perkembangan pribadi sampai pada titik politik antara pengasuh pondok dan pemerintah. hal tersebut terjadi tidak hanya pada pesantren sekarang tetapi sudah sejak masa penjajahan Belanda dahulu.

Terkait dengan pembelajaran di pesantren, tidak hanya mengajarkan soal akidah dan tata cara beribadah semata, melainkan juga ibadah muamalah seperti menjalin persaudaraan dengan sesama manusia. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan nyata, butuh adanya keterjalinan yang baik antara sesama maupun dengan Tuhan, dengan begitu maka hidup akan seimbang.

Dalih Kebijakan Pemerintah Kolonial dan Perlawanan Pesantren

Pemerintah kolonial Belanda berupaya untuk melestarikan hegemoninya dengan berbagai macam cara. Sejalan dengan strategi yang dilakukan, maka kebijakan dalam bidang pendidikan menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi. Pendidikan Barat dijadikan formulasi faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia. Oleh sebab itu, kebijakan yang dilakukan berpihak pada kepentingan Belanda dan mendiskreditkan rakyat Indonesia yang notabene mayoritas adalah masyarakat Islam.

Baca Juga  Penyebaran Paham Ekstremisme Beragama di Sulawesi Selatan

Bagi umat Islam pemerintah kolonial merupakan pemerintahan kafir dan menjajah agama serta bangsa, hal tersebut telah diakui khususnya para santri. Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam saat itu mengambil sikap anti Belanda, bahkan terdapat masyarakat muslim yang menerima gaji dari pemerintah Belanda dianggap uang haram. Pemerintah Belanda memang melakukan seribu cara untuk mendiskreditkan pendidikan yang dikelola pribumi, tak terkecuali dalam hal ini pondok pesantren.

Menurut pemerintah kolonial Belanda, sistem pendidikan di pesantren terlalu jelek dan tidak mungkin menjadi sekolah modern. Oleh karena itu, ia melakukan aksi yaitu mendirikan lembaga pendidikan seperti sistem Barat serta tidak ada hubungannya dengan pendidikan yang telah ada. Tetapi justru membawa kekecewaan bagi masyarakat muslim, karena dengan dilakukannya sistem tersebut tidak lebih memberikan keleluasaan pendidikan pesantren yang telah dikelola orang-orang pribumi atau umat Islam.

Dinamika Pondok Pesantren Pasca Kemerdekaan dan Era Modernitas

Pada masa pasca kemerdekaan, sejarah pendidikan Islam di Indonesia berkembang cukup drastis yang terjadi pada masa Orde Lama hingga masa Orde Baru. Aspek berkembangnya kini menjadi pusat perhatian pemerintah baik dari segi swasta maupun negeri. Di sisi lain peran pondok pesantren mengalami pasang surut dalam memegang misinya sebagai pencetak generasi masyarakat muslim yang mampu dalam bidang agama.

Adapun salah satu ciri khas tradisi yang tetap dipertahankan dalam pesantren, yaitu pengajian kitab kuning. Kitab tersebut merupakan karya intelektual muslim yang sangat berharga. Pada era modernitas ini Kitab salaf memiliki keterkaitan dengan sang kyai, di sisi lain ia merupakan kodifikasi nilai yang di nut oleh para santri di pesantren. Artinya, keberadaan sang kyai adalah cerminan dari semua yang patut diteladani.

Baca Juga  Wajah Intoleransi di Tengah Wabah

Keteladanan para santri terhadap sang kyai menjadi salah satu ciri khas umum yang dapat dilihat dari kedekatan hubungan santri dan kyai. Selain ada tradisi ketundukan atau kepatuhan seorang santri kepada kyai, pola hidup sederhana (zuhud) juga menjadi bagian integral dari kehidupan santri, meskipun hal tersebut terlihat seperti mangacuhkan duniawi dan lebih mengutamakan hubungan dengan Allah. Justru pada masa modernitas, masyarakat menyambut baik keberadaan pesantren yang bertujuan untuk perbaikan akhlak dan moral generasi. Selain itu juga menjadikan lembaga untuk menimba ilmu agar berjiwa Islami, berakhlak terpuji, serta tingkat religiusitas yang tinggi.

Dengan demikian, memiliki karakteristik yang khas, Pesanten menjadi pusat pendidikan Islam yang survive dalam melestarikan tradisi pesantren di tengah arus perubahan zaman yang semakin berkembang (modernitas). Yang membedakan pesantren dengan pendidikan umum adalah kurikulumnya yang fokus pada ilmu agama seperti tafsir fiqih, hukum Islam, tasawuf, kajian Islam, dan juga teologi Islam.

Pondok pesantren memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan pendidikan pada umumnya. Keunikan yang pertama, masih memakai pola tradisional dimana adanya kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern sehingga adanya ikatan hubungan dua arah antara kyai dan santri. Kedua, sistem kehidupan di pondok pesantren sangan mengutamakan kesederhanaan, persamaan, idealisme, persaudaraan dan keberanian dalam hidup.