Arivaie Rahman Pegiat Tafsir dan Khazanah Nusantara; Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Trio Abdurrahman: Genealogi Tiga Tuan Guru di Indragiri Hilir

3 min read

Ada yang menarik dari relasi dan jaringan ulama di Kawasan pesisir Timur pulau Sumatera, tepatnya di Indragiri, Riau. Trio Abdurrahman sangat besar pengaruh dan peranannya dalam pengembangan ajaran Islam di daerah ini pada pertengahan abad ke-20.

Trio Abdurrahman yang dimaksud adalah Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari, Syekh Abdurrahman Ya’qub Reteh, dan Syekh Abdurrahman Sungai Pinang. Ketiganya tidak sebatas hanya memiliki kesamaan nama, tetapi juga keselarasan kiprah dan keterkaitan jaringan keilmuan.

Abdurrahman yang pertama adalah Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad Afif al-Banjari (1867-1939). Sosok ini merupakan yang tertua sekaligus yang paling terkenal dibanding dua Abdurrahman berikutnya. Saking populernya, ia dijuluki sebagai “Tuan Guru Sapat”. Sebab, ia bermukim, mendirikan masjid, dan membangun pusat pengajaran Islam di daerah Sapat, Indragiri Hilir, lebih tepatnya di kampung Hidayat. Nama ini diambil dari bahasa Arab “Hidayah” yang artinya petunjuk.

Tokoh pertama ini merupakan keturunan ulama besar di Tanah Banjar abad ke-18, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, pengarang kitab Sabilal Muhtadin. Ia bermigrasi ke pesisir Sumatera pasca meletusnya Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari menghadapi kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Sebelum ke Indragiri, Ia menetap di Pulau Bangka, tempat ayahnya yang bermigrasi. Kemudian, Ia memutuskan bermigrasi lagi ke Indragiri. Di wilayah ini, mulanya ia membuka lahan pertanian, karena kealimannya kemudian diangkat oleh Sultan Indragiri sebagai Mufti Kerajaan.

Meski pada awalnya Ia tolak, akhirnya jabatan ini diterima dengan beberapa alasan khusus, seperti tidak ingin digaji dan tidak bersedia tinggal di Ibu Kota kerajaan. Jabatan mufti didudukinya selama 27 tahun menurut perhitungan kalender Hijriah 1327-1354 H.

Tuan Guru Sapat sangat produktif, tidak kurang 18 buah kitab berhuruf Arab-Jawi berbahasa Melayu berhasil dihimpunnya. Di antara karya yang paling terkenal adalah Aqaid al-Iman, Amal-Ma’rifah, dan Syair Ibarat Khabar Kiamat. Sampai hari ini karya-karya yang diterbitkan oleh Mathba’ah Ahmadiyah Singapura tersebut masih eksis dan menjadi pegangan, terutama sebagai kurikulum kajian Majelis Taklim di Indragiri Hilir.

Baca Juga  Kontribusi Alquran dalam Mengarusutamakan Budaya Literasi

Keberhasilan membuka institusi pendidikan di Kampung Hidayat Sapat, memancing minat orang-orang yang ingin menimba ilmu kepada Tuan Guru Sapat hingga Ia memerlukan bantuan pengajar. Di antara guru yang pernah mengajar dan mendidikasikan ilmunya di institusi ini adalah Syekh Abdurrahman bin Ya’qub Reteh atau dikenal dengan julukan “Tuan Guru Reteh”. Tuan Guru inilah yang merupakan Abdurrahman kedua.

Syekh Abdurrahman Ya’qub merupakan ulama kelahiran Bangkar, Reteh, tahun 1912. Ia memiliki nama asli Mansur, begitu pula nama ayahnya, bukan Ya’qub tetapi Rajab. Nama Abdurrahman dan Ya’qub baru melekat sekembalinya ia dan ayahnya pulang dari Mekah. Melalui ayahnya yang merupakan lulusan pendidikan Islam di Kedah Malaysia, Abdurrahman Reteh kecil mengawali pelajaran Agamanya.

Selanjutnya Abdurrahman Ya’qub pernah belajar pada H. Zuhri dan H. Lahya di Teluk Dalam, Sapat. Dari keduanya Abdurrahman Reteh mempersiapkan bekal ilmu untuk selanjutnya berangkat ke Mekah tahun 1927. Di Mekah, Ia belajar di Madrasah Shaulatiyah sekitar 5 tahun dan di Dar al-Ulum al-Diniyah, bahkan ia sempat mengajar pendidikan tingkat dasar di Dar al-Ulum. Ia kembali ke tanah air tahun 1937.

Ia tidak langsung pulang ke Reteh, melainkan ke Teluk Dalam, Sapat. Ia lantas diminta oleh Tuan Guru Sapat untuk menjadi pengajar ilmu-ilmu agama di tempat itu. Pasca wafatnya Tuan Guru Sapat 1939, barulah Abdurrahman Ya’qub hijrah ke Enok dan mendirikan Madrasah Dar al-Ta’lim (1941).

Tahun 1946, Ia bersama keluarganya pindah ke Sungai Gergaji, Keritang. Di tempat ini Ia mendirikan Madrasah Nurul Wathan, sayangnya Madrasah ini terbakar namun dapat didirikan kembali tahun 1954. Pada tahun 1966 Abdurrahman Ya’qub pindah lagi ke Pasar Kembang Keritang, di tempat yang baru ini Ia kembali membangun Madrasah bernama sama “Nurul Wathan”. Sekali lagi sayangnya, Tuan Guru Reteh ini sering sakit-sakitan, dan wafat dalam usia 54 tahun, tepatnya di tahun 1970.

Baca Juga  Tentang Tiga Teori Kedatangan Paham Syiah ke Indonesia

Tuan Guru Reteh termasuk ulama yang produktif dalam menulis, beberapa karangannya adalah Amtsilah al-Mukhtashar, Qawa’id al-Nahwiyah, Ahwal al-Waratsah, Nail al-Amani, Kitab Fiqh, dan Kitab Tauhid. Konon, karya-karya ini sebagiannya telah berhasil dicetak di Bukittinggi dan Singapura. Dari karya-karya tersebut ia sangat terkenal di bidang Astronomi atau Ilmu Falak, terutama dalam karyanya Nail al-Amani.

Berbeda dengan Syekh Abdurrahman Ya’qub, Abdurrahman yang ketiga adalah Syekh Abdurrahman bin Bakri Sungai Pinang, lebih populer disebut “Pak Uan”. Ia tidak menjadi guru di Kampung Hidayat, melainkan menjadi pelajar atau murid. Pak Uan diperkirakan lahir sekitar tahun 1914 di Sungai Guntung, Indragiri Hilir.

Pak Uan pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Sa’adatuddaren, sebuah institusi pendidikan Islam tertua di Jambi. Di tempat ini ia menyelasaikan pendidikan tingkat I’dad (Kelas Persiapan) selama 3 tahun dan tingkat Hadhari (Kelas Lanjutan) 3 tahun pula, jadi ia belajar di tempat tersebut selama enam tahun 1928-1934.

Setelah selesai di Madrasah Sa’adatuddaren, ia kembali ke Indragiri Hilir dan melanjutkan pengajiannya kepada Tuan Guru Sapat. Ia sangat betah belajar di Kampung Hidayat, bahkan hingga hingga kewafatan Tuan Guru Sapat 1939. Bahkan setelah itu, karena kecintaanya kepada ilmu, ia berguru kepada kakak seniornya Tuan Guru Abdul Murad Sungai Piai.

Kiprah Pak Uan memang tidak diragukan lagi terutama mempelopori pendidikan di Indragiri Hilir. Tahun 1955 ia pernah mendirikan Madrasah di Tanjung Pasir, setelah sepuluh tahun berkecimpung di tempat itu kemudian ia pindah ke Tanjung Baru (1965) dan mendirikan Madrasah lagi, terakhir ia pindah ke Singai Pinang Enok (1966). Ia mengabdi di Sungai Pinang hingga wafat pada tahun 1975. Oleh sebab itu ia digelari sebut sebagai Syekh Abdurrahman Sungai Pinang.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (9): Belajar Agama Semakin Mudah Dengan Teknologi

Tiga Tuan Guru bernama Abdurrahman ini dalam kehidupan dan kiprahnya telah memberikan sumbangsih besar dalam dunia pendidikan Islam lokal di Indragiri Hilir. Jasanya masih dirasakan hingga sekarang ini. Seorang Abdurrahman sebagai pelopor (Syekh Abdurrahman Siddiq, 1867-1939), seorang Abdurrahman lagi sebagai Pengajar (Syekh Abdurrahman Reteh, 1912-1970), dan seorang lagi sebagai Pelajar di Kampung Hidayat Sapat (Syekh Abdurrahman Sungai Pinang, 1914-1975).

Meskipun kedudukannya secara senioritas berbeda, tetapi kiprah mereka sangat mirip, yakni terus mendirikan dan membina institusi pendidikan Islam di Indragiri Hilir hingga akhir hayat. Sebuah prestesius yang sulit dilupakan dan sulit dicari gantinya. [HM]

———————

Sumber bacaan:

A.Muthalib, Tuan Guru Sapat: Kiprah dan Perannya dalam Pendidikan Islam di Indragiri Hilir Riau pada Abad XX, (Yogyakarta: Eja Publisher, 2009).

Imran Effendy, Pemikiran Akhlak Syekh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari, (Pekanbaru: LPNU Press, 2006).

Kholil Syu’aib dan Zulkifli M. Nuh, Jaringan Intelektual Ulama Riau: Melacak Silsilah Keilmuan Syaikh Abdurrahman Ya’qub, dalam Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. 17, No. 2, 2019.

Zulkifli M. Nuh, Alimuddin Hassan, dan Kholil Syu’aib, Tuan Guru Reteh Syekh Abdurrahman Ya’qub: Kiprah, Peran, dan Pemikirannya dalam Bidang Pendidikan Islam, dalam POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam, Vol. 4, No. 1, 2018.

Arivaie Rahman
Arivaie Rahman Pegiat Tafsir dan Khazanah Nusantara; Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta