Andri Rosadi Dosen Antropologi UIN Imam Bonjol, Padang

Tetangga, Cermin Toleransi Agama Kita

1 min read

sumber: cidiss.co

London Tenggara, suatu pagi, terdengar ketukan di pintu rumahku. Aku segera membuka pintu. seorang perempuan paruh baya sambil tersenyum menyapaku: “Hi, how are you? I hope you are fine today. I am your neighbor.”

“My neighbor?” aku balik bertanya dengan kening berkerut, namun dengan sikap yang ramah.

“Yes, we are from the church. We always say as the neighbor to everyone,” dia menjawab dengan sangat ramah. Aku tertawa dan akhirnya kami berbincang panjang. Di akhir percakapan, ia bertanya apakah ada pakaian bekas, mainan anak-anak dan barang-barang yang masih layak pakai namun tidak lagi digunakan. Barang-batang itu, menurutnya, akan disumbangkan ke berbagai negara miskin di belahan dunia lainnya.

Lain waktu, di Sydney, yang terletak di Southern Hemisphere, pengalaman itu kembali berulang. Pagi-pagi sekitar jam 10, pintu rumahku diketuk seseorang. Ketika pintu kubuka, dua orang perempuan paruh baya berdiri di depan pintu sambil tersenyum ramah. Tanpa menanyakan apa agamaku, dia langsung mengajakku berbincang.

“What is the most important element of joy in your life?” Dia membuka percakapan.

Aku langsung mengerti bahwa mereka dari gereja. Aku langsung menjawab, “As a Muslim, being very close to God is the most important one in my life.” Dia tersenyum dan langsung membuka al Kitab.

“We have the same answer,” katanya sambil tersenyum dan membuka al Kitab, menunjukkan ayat yang berisi poin tentang element of joy itu.

Kami lalu berbincang dan akhirnya Al Kitab itu ia berikan padaku. Al Kitab itu kuletakkan secara terhormat di rak bukuku hingga aku menyelesaikan studi di kota itu. Tak ada sedikitpun feeling of being offended di hatiku, sebab aku sadar, Aussie secara kultural adalah Kristiani, dan dengan itu, ada kebebasan cultural yang lebih luas yang bisa mereka nikmati dibanding para pendatang yang asing, termasuk Islam.

Baca Juga  Kiprah Pesantren Di Era Kolonialisme Hingga Modern

Dalam konteks inilah, mengucapkan Selamat Natal ke semua orang, regardless of their religion, bukanlah suatu tindakan ofensif, sebab itu tak lebih dari basa-basi cultural. Selama tiga tahun menjaga toko di Sydney, sebagian pelangganku tahu bahwa aku seorang Muslim, namun mereka tetap mengucapkan Merry Christmas kepadaku setiap Natal tiba, sebab hal itu bagian dari refleksi memori identitas utama yang bersemayam dalam hati mereka.

Apakah kebebasan yang sama dinikmati oleh kaum Muslim? Bagiku, kaum Muslim yang menuntut kebebasan dan hak yang sama dengan yang dinikmati oleh kaum Kristiani tersebut tak lebih dari sikap yang tak tahu diri. Oleh sebab itu, 30 menit setelah menyampaikan khutbah Idul Adha, aku langsung masuk kerja tanpa perlu protes sana sini, apalagi koar-koar bahwa Aussie tidak toleran pada Islam. Ya, tak ada waktu libur keagamaan bagi penganut semua agama, kecuali Christmas, yang dirayakan tidak hanya oleh umat Kristiani, tapi juga para ateist kulit putih, sebab mereka secara cultural pada hakikatnya tak bisa dilepaskan dari latar budaya peradaban Kristen Eropa. Supervisor tesisku, seorang kulit putih dan ateis yang taat, selalu merayakan Christmas dan aku sekeluarga pernah diundang ke rumahnya.

Pada akhirnya, di atas kebebasan dan persamaan, ada konteks sosio-kultural sebagai produk evolusi sosial suatu masyarakat. Di dalamnya, bersemayam tenunan memori kolektif mereka. Dalam memori itu, ada elemen utama yang menjadi software identitas personal dan sosial. Jika elemen utama di Aussie adalah Kristen, di ranah Minang, elemennya adalah Islam, atau lebih tepatnya: “Islam intoleran” dan “radikal’, kata para pemuja kebebasan absurd itu.

Entahlah…namun, cintaku yang dalam untuk mereka yang tulus memahami, bukan yang gampang menghakimi. []

Andri Rosadi Dosen Antropologi UIN Imam Bonjol, Padang