Ahmad Syahrul Ansori Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.

Khutbah: Kisah Dibalik Hari Raya Kurban dan Pola Komunikasi Yang Baik Antara Orang Tua dan Anak

2 min read

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ.

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يٰبُنَىَّ إِنِّيۤ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيۤ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّابِرِينَ

Jemaah salat Iduladha rahimakumullah,

Merayakan hari yang mulia ini, selain bukti keteguhan penghambaan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. kepada Allah Swt., kiranya perlu juga kita meneladani pola komunikasi dan ketaatan seorang anak, Ismail a.s, kepada sang ayah, Ibrahim a.s.

Dalam dalam surah al-Shaffat ayat 102 Allah Swt. berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يٰبُنَىَّ إِنِّيۤ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيۤ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّابِرِينَ

Maka saat anak itu sampai (pada umur) sanggup bekerja bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Isma’il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.

Terlepas dari perdebatan siapakah yang disembelih antara Nabi Ismail atau Nabi Ishaq, ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang komunikasi baik antara ayah dan anak, untuk tujuan agung dan mulia.

Baca Juga  [Idul Fitri] Andai Kita Masih Punya Waktu

Hadirin rahimakumullah,

Saat Nabi Ibrahim mendapatkan perintah melalui mimpi untuk menyembelih sang putra yang sebenarnya telah diidam-idamkan sejak dulu, tidak ada keraguan dalam hati Nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah tersebut. Karena, ia menyadari betul bahwa mimpi para nabi adalah bagian dari wahyu.

Sebagaimana perintah yang diterima, beliau diperintahkan untuk menyembelih saat sang sang putra menginjak usia “sanggup bekerja” sebagaimana disebutkan dalam permulaan ayat tersebut.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ

Maka saat anak itu sampai (umur) sanggup bekerja dengannya

Menurut Syaikh Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya, Tafsri Al Munir, bahwa masa yang dimaksud pada permulaan ayat tersebut adalah umur 13 tahun, saat Ismail sudah menjadi pemuda yang siap bekerja.

Pada saat tiba usia tersebut, meskipun dengan sangat jelas ingin melaksanakan perintah Allah, beliau tidak langsung atau serta merta melakukannya. Namun, Nabi Ibrahim tetap mengajak putranya berdiskusi terkait perintah tersebut.

Hadirin salat Iduladha yang dirahmati Allah Swt.,

Sungguh betapa kita harus belajar dari Nabi Ibrahim dalam hal komunikasi dalam sebuah keluarga. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat al-Shaffat ayat 102:

قَالَ يٰبُنَىَّ إِنِّيۤ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

Ibrahim bertanya, “Wahai anakku sungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?

Dari ayat tersebut, kita dapat melihat betapa luar biasanya Nabi Ibrahim dalam mendidik sang putra dengan memberikan contoh komunikasi yang baik; tanpa memaksa. Alih-alih langsung mengeksekusi sang putra, beliau justru malah bertanya pendapat sang putra tentang perintah yang beliau dapatkan lewat mimpi tersebut.

Ma’asyiral muslimin yarhakumullah,

Bak gayung bersambut, sang putra menjawab pertanyaan sang ayah dengan penuh ketaatan dan penghambaan diri,

قَالَ يٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيۤ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّابِرِينَ

Baca Juga  [Khutbah Idul Adha] Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Perjuangan Kita Melawan Covid-19

Ismail menjawab. “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Syekh Wahbah Zuhaili menjelaskan percakapan tersebut bahwa seakan-akan Nabi Ismail menjawab dengan penuh keyakinan, “Silakan laksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah, wahai Ayahku. Sekalipun menyembelihku, aku rida dan ku kira mimpi (perintah) itu adalah sebuah ketetapan Allah Swt.”

Berkat loyalitas, keikhlasan, dan keridaannya, Allah pun rida kepada kedua orang tersebut (Ismail dan Ibrahim alaihima salam). Alquran pun juga mengabadikan keistimewaan Nabi Ismail ini dalam surah Maryam ayat 54-55,

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِٱلصَّـلوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً(55)

Ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur`ān). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi, dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridai di sisi Tuhannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Komunikasi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah komunikasi antara ayah dan anak, komunikasi yang didasari kepasrahan dan kepatuhan sepenuhnya kepada Allah Swt., Zat Yang Maha Mengatur segalanya.

Ketika keduanya menjalankan perintah dan memasrahkan diri pada Allah Swt., Allah meridai mereka bahkan Nabi Ibrahim kemudian dianugerahi sebuah karunia yang darinya lahirlah para nabi.

Pola komunikasi yang baik serta contoh langsung dalam sebuah keluarga termasuk salah satu cara yang baik untuk membimbing dan mendidik keluarga, khususnya anak. Bukankah sudah selayaknya nilai-nilai kebaikan juga disampaikan dengan cara yang baik pula.

Selain itu, kisah antara Nabi Ibrahim dan Ismail juga mengajarkan kita bahwa antara orang tua dan anak, meskipun sudah menjadi figur pria/perempuan dewasa, perlu menjalin komunikasi yang baik.

Baca Juga  [Jumat] Tiga Hikmah Hidup di Balik Musibah Covid-19

Ma’asyiral muslimin,

Semoga khutbah singkat bermanfaat bagi khatib dan jemaah salat, mari kita berharap kepada Allah Swt. agar memberi pertolongan kepada kita, agar dapat menjalankan perintah Allah Swt. dengan sebaik mungkin dan agar dapat menerima ketetapan Allah Swt.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Ahmad Syahrul Ansori Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.