Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Hanifiyyah: Ajaran Tauhid Sebelum Islam (1)

4 min read

Bincangsyariah.com

Para sejarawan mengakui bahwa sebelum datangnya Islam, ada bentuk monoteisme (keyakinan satu Tuhan atau tauhid) di antara orang-orang Arab. Bukti-bukti keberadaan mereka terekam dengan jelas baik di dalam al-Qur’an maupun di berbagai puisi Arab pra-Islam. Keyakinan monoteis ini tidak terbentuk dalam sebuah agama tertentu, juga tidak bergabung dalam agama tertentu. Orang-orang monoteis ini meyakini bahwa mereka mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang diakuinya sebagai bapak spititualnya dan menjadikan Nabi Ibrahim sebagai teladannya. Ajaran tauhid Ibrahim ini disebut dengan istilah Hanifiyyah, dan pengikutnya disebut hanif (jamak: hunafa’)

Hanifiyyah adalah istilah yang diberikan kepada masyarakat Arab yang berkeyakinan tauhid. Istilah ini tidak merujuk pada keyakinan ketuhanan yang dianut oleh pemeluk Yahudi dan (sebagian) Nasrani. Penggunaan istilah hanif di al-Qur’an merujuk pada para pengikut agama Arab asli, yaitu ajaran tauhid Nabi Ibrahim.

Sekalipun orang-orang ini mungkin saja tidak menyebut dirinya beragama hanif, tapi mereka disebut dengan istilah itu karena mereka menolak praktik penyembahan ilah (tuhan) selain Allah. Jadi, agama orang Arab asli adalah tauhid jauh sebelum Islam datang, yang kemudian lambat laun bercampur dengan berbagai praktik syirik pagan. Sekalipun demikian, masih ditemukan orang-orang yang kukuh berpegang pada ajaran tauhid Ibrahim dan Isma’il, kakek buyut mereka.

Para pengikut Hanifiyyah tidak hanya dikenali sebagai kaum monoteis. Mereka juga dikenal orang-orang yang menjalani kehidupan shaleh, biasa melaka\ukan uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam rangka memahamai berbagai fenomena transendental. Menurut keyakinan Hanifiyyah, hanya ada satu Tuhan yang haqq, yaitu Allah, pencipta dan penjaga alam semesta.

Perlu dicatat bahwa nama Allah telah digunakan oleh orang-orang sejak sebelum kedatangan Islam. Nama Allah digunakan oleh orang Arab sejak dulu untuk hal-hal yang bersifat serius, misalnya bersumpah atau berdoa. Abdullah (hamba Allah) dengan berbagai nama lain yang bersinonim adalah nama yang sudah biasa digunkan oleh orang Arab sejak dulu. Ayah Nabi Muhammad yang wafat sejak Nabi masih dalam kandungan bernama Abdullah.

Baca Juga  Bagaimana Sih Agama-agama di Indonesia Memaknai Moderasi Beragama? [Bag 2]

Ini mengindikasikan sangat kuat bahwa masyarakat Arab telah memercayai Allah sebagai Tuhannya. Mereka juga meyakini bahwa pemilik ka’bah adalah Allah, sebuah tempat suci yang dikunjungi masyarakat Arab untuk melakukan ibadah haji setiap tahun. Nama Allah di era pra-Islam adalah sebuah manifestasi dari agama penduduk asli Arab, dan Hanifiyyah dianggap sebagai agama Nabi Ibrahim dan Isma’il.

Orang Arab utara yang merupakan anak cucu Nabi Isma’il telah tinggal di Mekah sembilan belas abad sebelum kelahiran Isa/Yesus. Mereka sebetulnya adalah Arab musta’riba (orang yang ternaturalisasi menjadi Arab). Ibrahim sendiri dalam sejarah diidentifikasi berasal dari Ur-Kasdim, yang terletak di selatan wilayah Mesopotamia. Sedang Hajar, istri Ibrahim yang melahirkan islamil, berasal dari Mesir.

Keturunan Nabi Isma’il ternaturalisasi menjadi Arab (musta’riba) karena pernikahan Nabi isma’il dengan anak perempuan Mudad bin Basyir, penguasa terakhir dari Suku Jurhum. Suku Jurhum adalah suku Arab Ariba. Arab Ariba adalah Arab asli yang merupakan keturunan Iram dan Liwidh, anak cucu Nabi Nuh dari garis anaknya yang bernama Sam. Karena itulah, keturunan Nabi Ismail dengan perempuan Arab Ariba (Arab asli) disebut musta’ribah (penduduk yang ternaturalisasi menjadi Arab).

Isma’iliyah, keturunan Nabi Islamil, ini kemudian populer dengan sebutan Adniniyyah, mengacu kepada salah satu keluarga isma’iliyyah yang sangat terkenal, yang benama Adnin. Adniniyyah ini tinggal di wilayah utara Yaman. Mereka dikenal sebagai orang-orang Arab utara. Suku terkenal dari kelompok ini adalah suku Quraisy yang tinggal di Mekah dan di wilayah-wilayah sekitarnya. Dua keluarga dari suku Quraisy yang paling dihormati adalah Abdul Manaf dan Abdud Dar karena peran penting mereka dalam proses ibadah haji setiap tahun.

Kepercayaan Hanifiyyah relatif tidak terpengaruh oleh agama Yahudi dan Nasrani. Ini tidak berarti bahwa orang Arab tidak menyadari adanya dua agama tersebut. Bahkan ada beberapa orang Hanif Mekah yang pada akhirnya menjadi seorang Nasrani atau Yahudi. Namun secara umum, Hanifiyyah membentuk sejarahnya sendiri, terlepas dari kedua agama yang sama-sama mengaku sebagai pelanjut Nabi Ibrahim.

Baca Juga  Kajian Hadis: Azan Dengan Redaksi Ajakan Shalat di Rumah Saja

Orang Arab sangat sadar dengan ajaran-ajaran Ibrahim dengan mana mereka mencantolkan ketauhidannya. Tapi ajaran tauhid ini lambat laun tertutupi dengan berbagai praktik syirik. Ada beberapa kemungkinan ajaran tauhid Nabi Ibrahim ini lambat laun terkotori dengan praktik-praktik penyembahan berhala.

Pertama, pemahaman kebanyakan orang Arab tidak bisa menerima Tuhan yang tidak bisa dilihat. Mereka kemudian membuat berbagai objek visual sebagai tempat tinggal Tuhan, yang kemudian diperlakukan sebagai Tuhan itu sendiri.

Kedua, adalah alamiah bagi manusia untuk menghargai atau menghormati benda-benda di sekelilingnya yang dirasa memberi perasaan nyaman dan perlindungan. Di wilayah gurun di mana badai pasir biasa terjadi, di mana pohon dan batu seringkali menjadi satu-satunya tempat berlindung, rasa hormat terhadap benda-benda yang melindungi ini lambat laun berkembang menjadi semacam keyakinan bahwa benda-benda tersebut adalah agen Tuhan (atau bahkan Tuhan itu sendiri).

Itulah mengapa orang-orang Arab kuno melakukan ritual suci ke benda-benda tersebut, bukan sebagai Tuhan, tapi hanya sebagai agen atau rumah atau tempat tinggal Tuhan.

Ketiga, orang-orang Mekah ketika bepergian (bayangkan, ini dilakukan di daerah gurun pasir saat itu), biasanya membawa batu yang ada di sekitar ka’bah. Batu ini berfungsi sebagai obat kangen atau referensi spiritual atau rasa terikat dengan ka’bah pada saat berada jauh dari Mekah.

Di manapun mereka berada, batu itu akan diletakkan di sutau tempat dan memperlakukannya sebagai benda suci sebagaimana ia melakukannya pada ka’bah. Lambat laun, batu-batu ini menjadi tuhan-tuhan lain selain Allah pemilik Ka’bah.

Praktik-praktik penyembahan batu di masyarakat Arab awalnya sangat berbeda dengan praktik penyembahan berhala. Penyembahan batu pada masyarakat Arab sebetulnya bukan penyembahan, tapi penghormatan kepada batu sebagai pengingat, penghormatan, dan keterikatan kepada Ka’bah, terutama saat mereka jauh dari Mekah.

Baca Juga  [Tadarus Litapdimas] Lebih 7000 Hadis Diriwayatkan Sahabat Perempuan

Akan tetapi, praktik-praktik ini pada akhirnya berbaur dengan praktik penyembahan berhala yang diperkenalkan oleh pihak luar. Sejarawan mencatat bahwa praktik penyembahan berhala dalam pengertian yang sesungguhnya baru terjadi di era kekuasaan Suku Khuza’ah, penguasa Mekah setelah Suku Jurhum.

Amr bin Luhayy, salah seorang pimpinan Suku Khuza’ah, adalah orang pertama kali yang meletakkan partung-patung di sekitar ka’bah untuk disembah. Dia meniru praktik penyembahan berhala kaum pagan yang ada di wilayah Siria.

Dikisahkan pada suatau hari dia sakit keras, kemudian diberitahu oleh seseorang agar mandi di sebuah sumber air panas di wilayah Siria. Dia menuruti saran tersebut dan sembuh. Di sana dia menyaksikan orang-orang menyembah berhala. Saat dia kembali ke mekah, dia membawa sebuah patung dari sana dan meletakkannya di sekitar ka’bah sebagai objek sesembahan. Sejak saat itu, orang-orang Mekah memiliki sesembahan baru selain Allah.

Hampir setiap keluarga memiliki patung sesembahan di rumah masing-masing yang akan disembayangi sebelum dan setelah pulang dari bepergian untuk mendapatkan karunianya. Suku Quraisy, suku Arab terkuat lainnya, yang menjadi penguasa Mekah mengganti Suku Khuza’ah mulai sekitar empat ratus tahun setelah Masehi, memiliki patung sesembahan bernama Hubal yang dilekkan di ka’bah. Mereka kemudian mengadopsi patung sesembahan lain yang diberi nama Asaf (Isaf) dan Na’ila yang diletakkan di dekat sumur Zamzam.

Sekalipun demikian, di mata orang Arab, Allah tetap dianggap sebagai Tuhan yang paling superior di antara tuhan-tuhan lain yang mereka sembah. Berhala-berhala itu sama sekali tidak sebanding dengan Allah. Oleh karena itu, sebanyak apapun berhala dibuat, Allah tidak pernah dipersonifikasi ke dalam berhala atau benda-benda tertentu yang disembah sebagaimana yang mereka lakukan kepada berhala. Di mata orang Arab, berhala-berhala itu atau tuhan-tuhan yang dipersonifikasi oleh berhala-hala itu secara absolut tidak bisa disamakan dengan Allah. Bersambung… []

Selanjutnya: Hanifiyyah: Ajaran Tauhid… (2)

Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi
Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo