Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Hanifiyyah: Ajaran Tauhid Sebelum Islam (2)

4 min read

Bincangsyariah.com

Sebelumnya: Hanifiyyah: Ajaran Tauhid… (1)

Di antara berbagai praktik penyembahan benda-benda selain Allah di kalangan orang Arab ini, ditemukan beberapa orang yang tetap teguh berada dalam ajaran tauhid Nabi Ibrahim (Hanifiyyah). Mereka memandang praktik penyembahan benda-benda selain Allah itu sebagai perbuatan nista.

Ibn Hisyam, sejarawan Muslim klasik, menyebut empat orang Mekah yang hidup sezaman dengan Nabi yang merupakan pemeluk Hanifiyyah: Waraqa bin Naufal, ‘Ubaidillah bin Jasy, Utsman bin al-Huwairits, dan Zaid bin Amr. Sekalipun demikian, para ahli tidak selalu sepakat dengan jumlah pemeluk Hanifiyyah. Ibn Qutayba menambah dua orang lain selain empat orang di atas: Umayya bin Abi al-Salt dan Abul Qais bin al-Aslat (nama aslinya adalah Saifi bin al-Aslat). Ada juga yang mencatat nama Abu Aqil Labid bin Abi Rabi’ah sebagai seorang hanif. Ada juga nama-nama lain yang disebut sebagai hanif, yaitu Quss ibn Sa’ida, Khalid ibn Sinan, Abu Amir Abdul Amr bin Saifi, dan Abu Qais Sirma.

Kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib juga diriwayatkan adalah salah seorang hanif Mekah yang tidak pernah menyembah Hubal, berhala utama yang dipajang di ka’bah. Abdul Muthalib hanya menyembah Allah. Sebagai orang yang diamanati sebagai penjaga Ka’bah dan tuan rumah jamaah haji, Abdul Muthalib menerima semua orang yang datang tanpa memandang apa sesembahan mereka. Karena itu juga, kaum Quraisy tidak memiliki permusuhan apapun dengan berbagai keyakinan orang lain, termasuk dengan orang Kristen dan Yahudi. Namun di mata Abdul Muthalib, Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Ia Maha Tinggi.

Abdul Muthalib menyadari dirinya sebagai pengikut iman Ibrahim daripada kepercayaan Quraisy atau suku-suku Arab lain saat itu. Melalui Abdul Muthalib jualah identitas Waraqah bin Naufal sebagai seorang Hanif terungkap. Waraqah adalah anak sepupu-kedua Abdul Muthalib.

Tidak terlalu salah jika kita berasumsi bahwa Abdul Muthalib mendidik anak-anaknya, termasuk Abdullah (ayah Nabi Muhammad) dan Abu Thalib (paman sekaligus pengasuh Nabi dan ayah Sayyidina Ali RA) dengan keyakinan tauhid Ibrahim.

Selepas Abdul Muthallib meninggal, tugas sebagai penjaga ka’bah sekaligus tuan rumah jamaah haji ada di tangan Abu Thalib. Dengan demikian, sebagaimana Abdul Muthalib, Abu Thalib juga berfungsi sebagai figur pemersatu bagi suku Quraisy. Dikisahkan, suatu hari beberapa pemimpin Quraisy meminta Abu Thalib agar menghentikan dakwah Nabi Muhammad. Abu Thalib tidak menggubrisnya hingga mereka mendesaknya dengan sangat keras. Dalam situasi dilematik itu, dia menyampaikan ancaman para pemimpin Quraisy kepada Nabi Muhammad, “Wahai putra saudaraku, janganlah engkau bebankan kepadaku apa yang aku tak sanggup menanggungnya.”

Baca Juga  Petunjuk Shalat Tarawih di Rumah: Tawaran Solutif dari Hadis

Nabi kemudian menjawab, “Aku bersumpah, demi Allah! Sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan dakwah ini sebelum Allah memenangkannya atau aku terbunuh karenanya.” Dengan air mata berlinang karena hati yang bercampur antara sedih dan rasa sayang-hormat kepada pamannya yang telah membesarkannya, Nabi Muhammad bangkit dan berbalik pergi. Seketika Abu Thalib memanggil dan merangkulnya, sambil berkata, “Wahai putra saudaraku, lanjutkan dan katakan apa yang engaku inginkan, karena demi Allah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Bagaimana kisah para hanif ini? Waraqa bin Naufal, sepupu Khadijah, istri Nabi Muhammad, kemudian menjadi Nasrani dan mempelajari berbagai naskah kuno sampai dikisahkan dia dikenal sebagai orang Arab yang memahami isi naskah-naskah Kuno. Ubaidillah bin Jasy menjadi seorang Muslim. Bersama dengan istrinya, dia adalah anggota rombongan umat Islam yang hijrah ke Abissinia.  Di Abissinia dia kemudian menjadi seorang Nasrani. Dia tetap seorang Nasrani saat dia meninggal. Utsman bin al-Huwairits pergi ke Bizantium. Seperti Ubaydillah, dia juga kemudian memeluk Nasrani. Sementara Zaid bin Amr tercatat tetap sebagai seorang Hanifiyyah hingga akhir hayatnya.

Kisah seorang hanif menjadi Muslim kemudian konversi menjadi Nasrani ini tidak perlu mengherankan jika kita memperhatikan setidaknya dua hal. Sejauh Nasrani adalah pengikut Nabi Isa ibn Maryam, maka perlu diingat bahwa Yesus atau Nabi Isa adalah mata rantai dari ketauhidan Nabi Ibrahim yang akhirnya sampai kepada Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Karena itu, banyak orang yang disebut sebagai Nasrani adalah pengikut tauhid Ibrahim dan mengakui Yesus atau Isa hanyalah Nabi dan Rasul mulia, yang maqam-nya di atas umat manusia biasa.

Baca Juga  Sunni versus Salafi: Kontestasi Pemikiran M. Said Ramadhan al-Buti dan Nasiruddin Albani

Kedua, teologi tauhid umat Nasrani era itu ini banyak berkembang di wilayah Romawi Timur (Bizantium) yang mencakup bentangan wilayah dari Konstantinopel hingga Afrika Utara, di mana Siria menjadi salah satu basis pentingnya. Oleh karena itu, sama sekali tidak mengherankan jika banyak ditemui seorang Nasrani di wilayah Siria yang sering dijumpai oleh kafilah dagang Arab, adalah sepenuhnya bertauhid.

Hal sebaliknya, seorang hanif belajar iman Nasrani kemudian menjadi Muslim, juga terjadi. Ini terjadi pada kisah keislaman Salman al-Farisi. Salman telah lama dikenal sebagai seorang hanif (atau setidaknya bertendensi hanif). Dia dikenal sebagai orang yang sering menertawakan praktik penyembahan berhala pada komunitasnya, karena menurutnya, bagaimana mungkin batu disembah dan dimintai karunia.

Didorong oleh keingintahuannya tentang doa dan pujian yang dilantunkan seorang pendeta di sebuah gereja Kristen, Salman meninggalkan keluarganya untuk pergi ke Siria guna berguru pada seorang Nasrani yang dikenal sangat memahami ajaran-ajaran Kristen. Ketika gurunya menjelang ajal, dia bertanya kepada gurunya, kepada siapa lagi dia harus belajar. Atas saran gurunya, Salman melanjutkan beguru kepada seorang laki-laki di Masu’il yang memiliki ajaran agama yang sama dengan gurunya. Guru kedua ini pun meninggal dunia. Sebelum meninggal, sang guru menyarankan kepada Salman untuk berguru kepada seseorang di Nisibis. Guru dari Nisibis ini pun meninggal, tapi sebelumnya telah menyarankan Salman untuk beguru ke kawannya di Ammuriyya. Ketika Guru dari Ammuriyya ini akan meninggal, dia mewasiati Salman tentang akan datangnya seorang Nabi dari Arab yang mengajarkan keimanan tauhid Nabi Ibrahim sebagaimana yang ia imani. Dari sinilah kemudian Salman menemukan Nabi Muhammad. Nama Salam al-Farisi kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad dan meninggal sebagai seorang Muslim.

Itulah yang bisa dipahami mengapa seorang Hanif Mekah seperti Waraqah bin Naufal adalah seorang Kristen Ebionit. Kristen Ebionit merujuk pada orang-orang yang memahami Yesus hanyalah manusia biasa yang karena keluhuran dan ketinggian ruhaniahnya dipilih oleh Allah sebagai nabi-Nya. Mereka menolak keyakinan ketuhanan Yesus. Yesus diangkat Allah sebagai al-Masih justru karena ia menaati hukum Yahudi sebagaimana yang diwartakan oleh Nabi Musa.

Baca Juga  Siapakah “Anak Jalanan” dalam Q.S. al-Tawbah [9]: 60?

Apakah semua pengikut Hanifiyyah pasti mendukung Nabi Muhammad? Tidak mesti. Setidaknya ini bisa dilihat dalam kasus seorang hanif, Ummayah bin Abis Salt. Di dalam salah satu syairnya: Wa ana a’lamu annal hanifiyyata haqqun; Wa lakina al-syakk yudakhiluni fi muhaamadin (Aku adalah orang yang sangat tahu bahwa ajaran Hanifiyyah itu sungguh-sungguh benar. Tapi keragunan menghampiriku terkait dengan (klaim kenabian) Muhammad). Bahkan, Abu Amir dan Abu Qays ibn al-Aslat di mana keduanya berasal dari suku Aus di Madinah, dinyatakan memusuhi Nabi Muhammad. Perlu diketahui bahwa kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib, adalah putra Hasyim dengan Salma bnti Amr, salah seorang perempuan suku Khazraj yang sangat berpengaruh. Suku Aus dan Khazraj selalu terlibat dalam persaingan berebut pengaruh.

Sampai di sini bisa dinyatakan bahwa ajaran tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim telah menyusuri sejarah panjang hingga sampai pada Nabi Muhammad. Suku Quraisy, dari mana Nabi Muhammad berasal, telah lama mencampur keyakinan tauhidnya dengan berbagai praktik penyembahan terhadap tuhan selain Allah. Akan tetapi, di tengah-tengah politeisme pagan masyarakat Arab waktu itu, tetap ada orang-orang Arab yang teguh dengan tauhid Nabi Ibrahim. Mereka ini disebut hanif (jamak, hunafa’). Ajaran tauhid yang disandarkan kepada ajaran Nabi Ibrahim (millah Ibrahim) ini disebut dengan Hanifiyyah. Ketauhidan inilah yang membuat orang-orang Hanifiyyah ini bisa menjadi seorang Muslim atau seorang Nasrani; atau menjadi Muslim kemudian konversi menjadi Nasrani; atau menjadi seorang Nasrani kemudian konversi menjadi Muslim; atau tetap menjadi seorang hanif tanpa terikat pada agama apapun.

 

Referensi

Lewis, Bernard. The Arabs in History. New York: Harper & Row, 1967.

Sayuti, Najmah. The Concept of Allah as The Highest God in Pre-Islamic Arabia (A Study Of Pre-Islamic Arabic Religious Poetry). Montreal: The Institute of Islamic Studes McGill University, 1999.

Siraj al-Din, Abu Bakr. Muhammad. Jakarta: Serambil, 2014.

Wang, Shutao. The Origins of Islam in the Arabian Context. University of Bergen, 2016.

 

Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi
Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo