Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Kisah Cinta Sufi (5): Khusrau dan Syirin – Takdir Memang Tak Selalu Seperti yang Diharapkan

2 min read

https://www.arabamerica.com/12-ways-express-love-arabic/
https://www.arabamerica.com/12-ways-express-love-arabic/

(Disadur dari Tales from the Land of the Sufis, karya Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamnia)

Permainan nasib seperti permainan judi. Engkau tak bisa sungguh-sungguh menebak nomor keberuntunganmu. Itulah yang dialami dua kekasih malang ini. Satu hari setelah kepergian syapur ke Persia untuk menjemput Syirin, datang utusan dari Persia yang mengabarkan wafatnya Raja Hurmuz. Khusrau diminta segera pulang ke Madain untuk naik tahta menggantikan ayahnya. Khusrau pun segera berangkat.

Sebelum wafat, Raja Hurmuz merasa sangat senang kepada syirin yang cerdas dan humor-humornya yang selalu bisa menghidupkan suasana. Syirin pun menikmati persahabatan dan perlindungan dari seorang ayah. Persahabatan dari Raja Hurmuz selama ini bisa sedikit mengusir rasa sepi karena perasaan rindunya kepada Khusrau. Tapi setelah Raja wafat, perasaan sepi itu tambah berlipat-lipat.

Apalagi beberapa pelayan yang dikirim ke rumahnya kurang bersahabat. Di antara pelayan itu ada beberapa perempuan yang jatuh cinta ke Khusrau tapi tidak mendapat balasan. Hal ini membuat mereka dibakar cemburu dan khawatir jika Syirin akhirnya berjumpa Khusrau, mereka semakin tidak punya kesempatan untuk memikat cinta sang Pangeran tampan itu.

Mulailah berbagai kejailan dilakukan. Mulai dari penyediaan air mandi yang terlalu panas hingga menyengat kulit Syirin, meletakkan kotoran di hidangannya, hingga merusak keliman bajunya. Sesabar apapun Syirin menghadapi perlakuan ini, hari-harinya jelas telah hancur. Saat-saat seperti ini, dia menyesali keputusannya minggat dari Armenia tanpa memberitahu bibinya. Perasaan rindu untuk pulang ke Armenia tak tertahankan. Apalagi, Khusrau toh sudah ada di sana.

Ketika Syapur menjemput, dia lebih dari skedar siap. Esok harinya, Syirin kembali ke Armenia dengan ditemani Syapur. Perjalanan panjang itu sama sekali tak melelahkan. Hasrat pertemuan dengan Khusrau membuat energinya serasa tambah berlipat-lipat. Di sepanjang jalan, tidak ada pembicaraan apapun selain Khusrau. Tidak ada apapun yang memenuhi angannya selain apa yang akan dilakukan saat nanti bertemu dengan Pangeran pujaannya.

Baca Juga  Idul Adha, Mengasah Kepekaan Sosial Kita

Sayangnya, mereka berdua tidak tahu bahwa Khusrau tengah berangkat ke Persia untuk dinobatkan menjadi raja. Dia tidak berpapasan dengan rombongan Khusrau karena mereka mengambil jalan pintas, bukan jalan utama yang dilalui Khusrau.

Mahin sangat lega melihat keponakannya datang dalam keadaan selamat dan sehat. Ia menyambutnya dengan pelukan hangat seperti seorang ibu yang sudah lama merindukan putri tersayangnya. Syirin pun meminta maaf dan menjelaskan alasan kepergiannya.

Dengan senyum bijaksana, mahin berkata, “Nasib menampilkan permainan lucu. Saat engkau mencari-cari pangeranmu, dia ada di sini. Ketika engkau di sini, dia berada di Persia.

Dia melanjutkan, “Aku tahu artinya cinta. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Hanya berjanjilah satu hal, kelak jika engkau berjumpa dengannya, berhati-hatilah! Bibi khawatir dia hanya mengejar kenikmatan dunia dan hanya mengejar kecantikanmu untuk memuasi kesenangannya sendiri.”

Syirin hendak menyanggah, tapi Mahin segera menggerakkan tangannya untuk meminta Syirin agar mendengarkan nasehatnya. Ah, gadis yang sedang jatuh cinta memang tidak sabar menerima nasehat.

“Aku tahu dia adalah seorang pemuda yang tampan, menawan, dan cakap,” kata Mahin. “Bibi sama sekali tidak keberatan. Bibi hanya minta satu hal, jangan menuruti apapun yang dia minta kecuali jika ia mengajakmu menikah”

Syirin pun patuh dan berjanji kepada bibinya.

***

Akhirnya, Khusrau dinobatkan sebagai Raja Persia. Dia kini sudah berada di puncak kejayaannya. Ini posisi yang didamba banyak orang, yang bahkan rela melakukan peperangan dengan mengorbankan ribuan nyawa manusia. Tapi apakah dia menikmati posisinya? Semestinya ya. Tapi tidak bagi Khusrau yang dilanda rindu. Hari-harinya hanya dilalui dengan kerinduan kepada Syirin. Kapankah rindu ini menuai jumpa?

Bahram, salah satu senior perwira istana, yang selama ini mengincar tahta kerajaan Persia, diam-diam melakukan manuver untuk menyingkirkan Khusrau. Dia menulis kepada para perwira senior bahwa Khusrau, melalui pesuruhnya, telah membunuh sang Raja karena sakit hati. Dinyatakan juga bahwa Khusrau sama sekali tidak cakap mengurus negara. Apalagi, dia sedang jatuh cinta kepada gadis asing. Intinya, Khusrau tidak tahu apa-apa selain bermain cinta.

Baca Juga  Bahaya Ilmu Jika Tidak Diamalkan

Usulan Bahram untuk melakukan kudeta disetujui para perwira lain. Angkatan bersenjata pun dikerahkan untuk mengambil alih menguasai ibukota kerajaan. Khusrau yang menyadari bahwa dia tidak lagi memperoleh dukungan dari sahabat-sahabat ayahnya, memutuskan melarikan diri. Dan, tak ada tempat lain yang dituju selain Armenia.

Kali ini, tak ada kesedihan, pun tak ada penyesalan. Di Armenia, dia akan berjumpa gadis yang dirinduinya, yang karenanya, dia difitnah dan dikudeta. Pertemuan itu tidak ada lagi yang menghalanginya.

Cinta tak meminta apapun kecuali yang menjadi haknya” [MZ]

(BERSAMBUNG)

Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *