Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kuntowijoyo dari Mencari Tuhan sampai Khotbah di Atas Bukit

2 min read

Kuntowijoyo sebagai salah satu akademisi yang sepanjang hayatnya dihibahkan terhadap pengetahuan. Pergulatan intelektualnya telah mengilhami berbagai teori dan kajian mendalam tentang beberapa keilmuan; sejarah, sosiologi, sastrawan, dan budayawan. Karya-karyanya banyak ditemukan di berbagai media. Di antara pemikiran Kuntowijoyo yang masih relevan dikaji sampai akhir ini adalah ilmu sosial profetik. Yang mana dalam ilmu sosial profetik ini Kuntowijoyo menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai metode untuk berbijak pada realitas yang ada.

Ilmu Sosial Profetik merupakan senja ampuh yang digunakan untuk membedah persoalan-persoalan sosial masyarakat. Secara epistemologis Ilmu Sosial Profetik (selanjutnya disingkat ISP) berpendirian bahwa sumber pengetahuan itu ada tiga, yaitu realitas empiris, rasio dan wahyu. Ini bertentangan dengan paham positivisme yang memandang wahyu sebagai bagian dari mitos. Sementara secara metodologis ilmu sosial profetik jelas berdiri dalam posisi yang berhadap-hadapan dengan positivisme. ISP menolak klaim-klaim positivis seperti klaim bebas nilai dan klaim bahwa yang sah sebagai sumber pengetahuan adalah fakta-fakta yang terindera.

Namun ISP tidak hanya menolak klaim bebas nilai dalam positivisme tapi lebih jauh juga mengharuskan ilmu sosial untuk secara sadar memiliki pijakan nilai sebagai tujuannya. ISP tidak hanya berhenti pada usaha menjelaskan dan memahami realitas apa adanya tapi lebih dari itu mentransformasikannya menuju cita-cita yang diidamkan masyarakatnya. ISP merumuskan tiga nilai penting sebagai pijakan yang sekaligus menjadi unsur-unsur yang akan membentuk karakter paradigmatiknya, yaitu humanisasi, liberasi dan transendensi.

Dalam Ilmu Sosial Profetik, humanisasi artinya memanusiakan manusia, menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia. Kuntowijoyo mengusulkan humanisme teosentris sebagai ganti humanisme antroposentris untuk mengangkat kembali martabat manusia. Dengan konsep ini, manusia harus memusatkan diri pada Tuhan, tapi tujuannya adalah untuk kepentingan manusia (kemanusiaan) sendiri. Perkembangan peradaban manusia tidak lagi diukur dengan rasionalitas tapi transendensi. Humanisasi diperlukan karena masyarakat sedang berada dalam tiga keadaan akut yaitu dehumanisasi (obyektivasi teknologis, ekonomis, budaya dan negara), agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas) dan loneliness (privatisasi, individuasi).

Baca Juga  Beragama Secara Dewasa di Tengah Pandemi Corona

Lebih lanjut, seperti dalam tulisan Moh. Atikurrahman Mencari Tuhan di Zaman Modern: Neosufisme, Sastra Profetik dan Kuntowijoyo (2019) bahwa sastra profetik berdiri di atas tiga pondasi besar; humanisasi, liberasi (pembebasan), dan transendensi. Berbeda dengan Abdul Hadi WM, sastrawan dan budayawan yang lebih cenderung sastra profetiknya pada sastra transenden, di mana hubungan pada keimanan dan ketuhanan lebih dominan muncul dalam karya-karyanya.

Pada awal tahun 1980-an, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan acara bertajuk Temu Kritikus dan Sastrawan. Bagir (2002) menyebutkan dasawarsa 1980-an merupakan awal dari munculnya diskursus ”islamisasi ilmu” yang cukup dominan sehingga klimaksnya terjadi pada akhir dasawarsa. Pembahasan tentang sastra profetik dan transendental di Indonesia berkembang di era tersebut. Para sastrawan mencoba membincangkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan sastra profetik di berbagai forum dan seminar.

Dalam forum yang digagas DKJ dan Pusat Bahasa, Abdul Hadi mempresentasikan karya dengan Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber (1982). Dia menyebut gejala kesusastraan tahun 1970-an dan tahun 1980-an sebagai awal munculnya kecenderungan pengarang-pengarang yang memilih tradisi sebagai ilham pengkaryaan. Salah satu sumber tradisi yang disebut Hadi adalah kecenderungan sufistik. Berbeda dengan Hadi yang menggunakan terma ”sufistik”, Kuntowijoyo dalam Saya Kira Kita Memerlukan Juga Sebuah Sastra Transendental (1982), menyebut istilah ”transendental” sebagai padanan lain dari sufistik.

Istilah transendn sendiri bisa dalam pandangan Kuntowijoyo terdapat perbedaan radikal antara pengertian transenden pertama (tulisan 1982) dengan yang kedua (tulisan 2015). Abdul Hadi dalam Sastra transsendental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia (1999) mengatakan sastra sufistik sebagai sastra transcendental sebagai aliran penulisan dalam tradisi intelektual Islam, sastra sufistik dapat juga dikatakan sebagai sastra transcendental.

Baca Juga  Radikalisme No, Moderatisme Yes

Istilah sufistik memiliki keterbedaan yang spesifik dengan pandangan profetik. Sebab keduanya berasal dari kecenderungan yang berlainan. Sufistik yang dimaksud Abdul Hadi berakar dari gerakan tasawuf (spiritual) seperti dijabarkan di awal tulisan ini, suatu gerakan (sufisme) yang lebih menonjolkan hubungan dengan Tuhan dibandingkan aktifitas peribadatan. Sedangkan profetik adalah respon (pembaruan) yang membalik perilaku sufistik yang telah mapan, justru menekankan aktifitas peribadatan dan kesalehan sosial.

Namun secara sederhana dapat disimpulkan, istilah sufistik lebih mengacu pada sufisme lama (old-sufism). Sedangkan sufisme Kuntowijoyo merupakan representasi sufisme baru (neo-sufism). Sebuah gerakan pembaruan dalam etika sufisme, yang dalam konteks Nusantara memiliki geneologi dengan gerakan yang digagas oleh Ar-Raniri. Sedangkan transendensi dalam gagasan profetik Kuntowijoyo dapat dikategorikan sebagai kritik atas praktik sufisme yang mapan dengan langgam mistik. Kuntowijoyo dengan tegas “sastra profetik adalah juga sastra dialektik, artinya sastra yang berhadap-hadapan dengan realitas….”

Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta