Dicky Zulfikar Mohammad Sarjana Teknik yang Menyukai Tema Keislaman; Berdomisili di Balikpapan

Cara Pandang Gus Dur atas Kemiskinan dan Pemecahannya

3 min read

Sumber: https://bincangmuslimah.com/

Buah pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid yang paling membuat saya kagum adalah tentang pembelaannya kepada mereka yang lemah, tertindas, dan tak punya kekuatan. Di dalam kehidupan, banyak mereka yang kesehariannya kurang beruntung., terutama dirundung masalah ekonomi dan kemiskinan. Ajaran islam memang mengajarkan tentang sedekah dan zakat, namun sepertinya belum bisa juga mengentaskan masalah kemiskinan di negara kita.

Ada perspektif dari Gus Dur yang membuat saya terus berpikir tentang ini. Orang-orang terdahulu, berpikir bahwa kemiskinan merupakan sebuah nasib pemberian Tuhan. Maka yang dilakukan adalah memberi sebagian materi kepada orang miskin itu, agar bisa mempertahankan hidupnya, sambil menunggu nasib baik yang akan menghampirinya. Pemikiran Gus Dur mengkritik keadaan ini. Mari kita simak satu-persatu.

Di dalam islam, penanggulangan masalah kemiskinan diuraikan dengan lebih kompleks. Yang pertama adalah, menampilkan sosok kebaikan itu diukur dengan hidup berkecukupan, yaitu dapat menghidupi diri sendiri dan keluarga yang ditanggung. Kedua, sabda Nabi Muhammad SAW, menyebutkan “Tangan di atas (yang memberi) lebih baik dari tangan yang menengadah (menunggu pemberian).” Tangan yang memberi ini bisa diartikan bahwa hidupnya berkecukupan. Maka, implikasi dari pandangan ini adalah dorongan kepada mereka yang miskin agar bisa meningkatkan kualitas hidupnya menjadi berkecukupan.

Ketiga, islam memiliki visi pemerataan harta kepada yang membutuhkan, yaitu kepada anak yatim, orang miskin, dan lainnya, agar harta kolektif itu tidak berputar pada orang kaya saja. Dalam hal ini, jelas islam menginginkan keadaan serba berkecukupan bagi masyarakatnya, dengan tidak mematikan inisiatif dan kreativitas individual masing-masing warga. Dalam konteks inilah, seharusnya umat islam bisa sadar, bahwa nasib itu layak diperjuangkan, bukan sekedar untuk diterima. Namun yang terjadi kini adalah adanya jurang lebar antara yang kaya dengan yang miskin.

Baca Juga  Pribumisasi Islam, Warisan Gus Dur Untuk Menjaga Indonesia (1)

Lalu apa penyebabnya? Gus Dur menguraikan, salah satunya adalah karena masalah pelembagaan agama yang dipandang terlalu legal-formalistik dalam pengaturan hidup. Akibatnya, akan membawa islam kepada sikap sangat ideologis dalam pengaturan masyarakat. Dengan situasi seperti itu, akan mempersempit ruang gerak manusia sebagai subjek kehidupan. Pengaturan masyarakat secara kelembagaan, akan cenderung memberlakukan manusia sebagai objek kehidupan. Perlakuan seperti itulah yang akan semakin menindas orang miskin.

Ada kecenderungan lain yang dapat menyebabkan masalah utama kemiskinan menurut Gus Dur. Yaitu, konsep tasawuf. Ini pandangan yang sangat menarik bagi saya, karena pandangan Gus Dur tentang ini sangat unik jika dibandingkan dengan ulama NU yang lain. Menurut Gus Dur, tasawuf adalah spiritualitas mistik yang dimanifestasikan dalam pola ritualistik. Hal ini malah dapat menjauhkan kaum muslimin dari pemecahan masalah kemiskinan. Tasawuf justru cenderung mengajak manusia melupakan kesulitan, bukan memecahkannya.

Gabungan antara sikap legal-formalistik dan tasawuf ini, dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan kaum muslimin lupa akan masalah utama yang dihadapi manusia, yaitu kemiskinan. Ini akan menjadi tantangan besar bagi umat muslim. Apalagi saat ini di Indonesia digemparkan dengan gerakan islam politik yang sebenarnya jumlah mereka lebih sedikit dari mayoritas, namun terlihat banyak karena kiprah mereka terus menggaung di media sosial. Kalau keadaan kaum muslimin disibukkan oleh politik, maka akan semakin jauh dari solusi untuk memberantas akar kemiskinan.

Filsafat, memang tidak dapat tumbuh subur dalam pola pengaturan masyarakat secara legal-formalistik. Tetapi, justru filsafat itulah yang mendalami hakikat manusia sebagai subjek kehidupan, bukan objek yang bersikap pasif saja. Kebanyakan teori-teori sosial yang diajukan kaum pemikir muslimin cenderung untuk menghindar dari inti permasalahan yang dihadapi, yaitu bagaimana mendudukkan manusia sebagai individu dalam kaitannya dengan masyarakat di mana ia tinggal. Hanya dari filsafat, yang sanggup melakukan kontemplasi semacam itu. Begitulah yang pernah dijelaskan Gus Dur.

Baca Juga  Kontribusi Gus Dur dalam Mewujudkan Indonesia Damai

Lebih jauh, Gus Dur menerangkan bahwa tasawuf sendiri dapat diarahkan kepada keprihatinan kepada dunia dan memunculkan rasa solidaritas sosial yang dapat membawa perubahan terhadap masyarakat itu sendiri. Saya sepakat dengan pemikiran ini, karena sejauh yang saya pahami, tasawuf banyak mengedepankan nilai-nilai individu kepada Tuhan, seperti ritual uzlah. Gus Dur dapat melihat big picture dari ajaran tasawuf dan ingin mengaplikasikan ajaran tasawuf dengan nilai-nilai sosial. Dalam benak saya, mungkin salah satu contoh adalah dengan menyebarkan hikmah para Sufi yang bijak, seperti sebuah kutipan dari Maulana Jalaluddin Rumi, “Musik yang haram itu adalah beradunya sendok dan garpu orang kaya di meja makan yang terdengar oleh tetangganya yang miskin”. Nilai kepedulian dan solidaritas sosial nyata ada dalam ajaran tasawuf.

Gus Dur memiliki buah pemikiran yang sangat bagus untuk terus ditelaah bersama. Dalam menyikapi masalah tersebut, beliau mengajak umat muslim memulai upaya refungsionalisasi kehidupan beragama mereka. Jika itu terjadi, maka banyak sekali yang harus dipelajari, dipahami kembali, dan dikembangkan lebih jauh. Umat muslim dapat belajar dari kalangan umat beragama lain, dalam menanggulangi kemiskinan. Dari usaha tersebut, dapat muncul kebersamaan dalam menanggulangi masalah kemiskinan, tanpa mengganggu independensi masing-masing. Berangkat dari dialog inilah, maka struktur masyarakat bisa ditata kembali.

Gus Dur memang selalu mengedepankan dialog-dialog dalam pergerakannya. Beliau ini juga dikenal sering berdialog dengan orang yang terpinggirkan seperti nelayan, petani, dan lain-lain. Dalam suatu kisah yang saya dengar di kanal youtube Humor Sufi bersama Kirun, menceritakan bagaimana Gus Dur sering berangkat ke pelosok Jawa Timur hanya untuk mengunjungi kaum yang lemah dan tertindas. Gus Dur adalah pendengar yang baik. Tak ada jarak antara Gus Dur dengan rakyat kecil.

Baca Juga  Membela Gus Dur: Dari Toleransi Hingga Kontroversi

Suatu kisah yang tak kalah menarik, yaitu perhatian Gus Dur terhadap ekonomi rakyat kecil. Ceritanya, Gus Dur sering berziarah ke makam seorang wali yang tidak terlalu dikenal orang. Lama-lama, masyarakat penasaran dengan makam tersebut, mereka akhirnya ikut berziarah juga. Semakin banyak pengunjung, di sekitar makam tersebut makin ramai orang berjualan. Dari sini bisa dilihat, roda ekonomi berputar, dengan tindakan Gus Dur yang sederhana itu, tetapi bisa membuat rakyat kecil menerima manfaatnya.

Kiai tentu selalu dimintai umatnya untuk memberi solusi dalam permasalahan hidupnya. Jika dianalogikan, tindakan Gus Dur di atas adalah solusi konkret dalam masalah ekonomi bagi rakyat kecil. Sikap Gus Dur ini bisa menjadi contoh bagi para pendakwah zaman sekarang, bahwa dalam menyampaikan ceramah, seharusnya para pendakwah itu bisa memberi solusi yang baik bagi umatnya, bukan malah menyusahkan umat. Hidup ini sudah semakin susah, jangan lagi menambah beban, karena islam mengajarkan kemudahan bagi umatnya.

Pemikiran Gus Dur dalam mengentas kemiskinan ini yang perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Masyarakat zaman sekarang semakin kompleks, staminanya tergerus oleh kesibukan politik dan permasalahan radikalisme yang tidak kunjung selesai ditangani pemerintah. Sedangkan ekonomi kian memburuk setiap harinya, semakin timbul kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin. Tugas kita sebagai generasi selanjutnya tidaklah mudah dalam mempersempit kesenjangan tersebut. Namun, berangkat dari pribadi Gus Dur yang tidak pernah menyerah, seyogianya kita juga mampu meneladani beliau dan melanjutkan tugas mulia ini. Mari selalu menyebarkan nilai-nilai Gusdurian dalam kehidupan kita sehari-hari dengan mengedapankan dialog antar masyarakat. (MMSM)

Dicky Zulfikar Mohammad
Dicky Zulfikar Mohammad Sarjana Teknik yang Menyukai Tema Keislaman; Berdomisili di Balikpapan