Muhammad Faiq Fahrezi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Berjuang Meraih Cinta Allah dan Rasul-Nya (1)

2 min read

Berjuanglah dengan penuh kesabaran agar kita mencintai Allah. Jika kita mencintai Allah, Allah akan mencintai dan memerintahkan seluruh makhluk-Nya untuk mencintai kita. Sejalan dengan pesan suci Al-Qur’an Allah SWT berfirman dalam Surah Ali-Imran: 31:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali-Imran: 31)

Kata kunci nya ialah “cinta”. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti kata “cinta” dengan suka sekali, kasih sekali, ingin sekali dan terpikat. Keempat arti kata “cinta” tersebut menunjukkan makna kualitatif, maksudnya orang yang memiliki rasa cinta tidak hanya suka, kasih, dan ingin, akan tetapi disertai dengan kualitas kesungguhan dan keseriusan. Lebih-lebih bila “cinta” diberi arti terpikat maka terkandung makna keterpautan antara objek yang mencinta dengan yang dicinta.

Kesungguhan, keseriusan, dan keterpautan dalam “cinta” dibuktikan dengan dua hal, yaitu ketaatan pada perintah yang di cinta dan kerelaan berkorban orang yang mencinta. Pemenuhan atas dua indicator “cinta” tersebut bukanlah didasarkan oleh keterpaksaan melainkan dilandasi kerelaan dan keikhlasan, sehingga pecinya akan merasa memperoleh kebahagiaan. Karena itu, dalam pandangan tasawwuf, cinta adalah tahapan kedekatan ilahiah (maqamat) yang dirindukan untuk diraih sufi manakala ia ingin menggapai kebahagiaan sejati.

Indikator pertama atas pemilik “cinta” yaitu ketaatan pada perintah yang dicinta telah dinyatakan secara eksplit dalam ayat diatas yang bernunyi

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ

Katakanlah Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.

Ayat tersebut menyatakan secara tegas bahwa bila kita memiliki cinta dengan benar, maka secara kualitatif kita akan menaati perintah Allah secara ikhlas, yaitu dibuktikan dengan kemauan mengikuti segala perintah-Nya. Asbabun nuzul ayat ini ialah, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan kepada orang Yahudi, jika mereka benar menaati Allah maka hendaklah mereka mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW yaitu dengan melaksanakan segala yang terkandung dalam wahyu yang diturunkan Allah kepadanya.

Baca Juga  Imam Ahmad bin Hanbal Takluk dengan Istighfar Tukang Roti

Ayat ini memberikan keterangan yang kuat untuk mematahkan pengakuan orang-orang yang mengaku mencintai Allah pada setiap saat; sedang perbuatannya berlawanan dengan ucapannya itu. Mustahil dapat berkumpul pada diri seseorang cinta kepada Allah dan pada saat yang sama membelakangi perintah-Nya. Siapa yang mencintai Allah; tapi tidak mengikuti jalan dan petunjuk Rasulullah, maka pengakuan cinta itu adalah palsu dan dusta. Sebagaimana sabda beliau Rasulullah SAW

مَنْ عَمِلَ  عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهٌوَ رَدٌ (رواه مسلم)

Siapa melakukan amal tidak berdasarkan perintah Kami maka perbuatan itu ditolak (HR Muslim)

Barang siapa mencintai Allah dengan penuh ketaatan, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengikuti perintah Nabi-Nya; serta membersihkan dirinya dengan amal saleh, maka Allah mengampuni dosa-dosanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Agoes Ali Masyhuri menguraikan bahwa Berjuang Meraih Cinta Allah dan Rasul-Nya disampaikan pada saat penulis melakukan kunjungan dan sowan kepada beliau di kediamannya yang berada di daerah Lebo Sidoarjo pada hari Minggu (09/02/2020).

Indikator kedua atas pemilik “cinta” ialah kerelaan berkorban orang yang mencinta. Ilustrasi tentang cinta muda-mudi, antara seseorang pemuda yang mencintai seorang gadis, memberikan gambaran yang nyata pada kita tentang kualitas cinta. Tentu saja sang pemuda akan tela berkorban dalam bentuk apapun demi gadis yang dicinta. Bahkan pemuda akan melakukan apa saja seperyi yang diminta oleh gadis pujaannya.

Mencintai Allah adalah modal hidup yang teramat mahal, tidak mudah meraihnya. Untuk mewujudkan hal itu perlu upaya dan kerja yang sungguh-sungguh, takwa kepada Allah dalam keadaan apapun, mencintai Rasul beserta seluruh keluarganya, mencintai orang-orang saleh, menunaikan seluruh kewajiban, memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, rela berkorban dalam kebajikan, indah dan lembut dalam bergaul dengan sesame, merawat hati dan ucapan.

Baca Juga  Amalkan Doa Asmaul Husna, Rasakan Faedahnya Yang Dahsyat

Di sini penting kita yakini bahwa orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah akan mudah dicintai dan diterima oleh orang banyak. Semuanya terjadi bukan karena sogokan materi melainkan karena mereka takut kepada Allah dan merasakan kehebatan Allah. Akhirnya Allah membalas dengan menjatuhkan ke hati sanubari mereka rasa cinta, penghargaan, dan keterikatan batin dengan orang-orang yang bertakwa. Sejalan dengan pesan suci Al-Qur’an

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

Hai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al-A’raf: 26).

Tidak ada seorang pun yang tidak luput dari keburukan. Andai manusia tidak memperindah diri dengan pakaian yang menutup auratnya, niscaya aurat yang tampak akan semakin memperjelas keburukan manusia. Belum lagi bila ditambahkan dengan keburukan perilaku dan kebodohan. Jika semua ada, sungguh lengkap sudah keburukan manusia hingga tidak seorang pun yang berkenan mendekatinya.

Saking Mahakasihnya Allah kepada manusia, Allah membimbing kita untuk mempercantik penampilan dengan gaun yang dapat menutup aurat yang tampak, yaitu ketakwaan. Hanya ketakwaanlah yang dapat memperindah pemakainya, menghiasinya dengan kharisma hingga ia dapat meraih cinta dari seluruh makhluk. (mmsm)

Muhammad Faiq Fahrezi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya