Muhammad Faiq Fahrezi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Berjuang Meraih Cinta Allah dan Rasul-Nya (2)

2 min read

Mahabbatu Ar-Rasul

Melalui tulisan ini, penulis mengajak untuk senantiasa cerdas membaca tanda, karena Allah dalam menciptakan segala sesuatu pasti memasang tanda yang harus kita lihat, baca, dan kita renungkan. Imam Sahal bin Abdullah At-Tustari berkata, “Tanda cinta Allah adalah cinta Al-Qur’an. Tanda cinta Al-Qur’an adalah cinta Rasulullah SAW. Tanda cinta Rasulullah SAW adalah cinta sunnahnya. Tanda cinta sunnah adalah cinta akhirat. Dan tanda cinta akhirat adalah tidak hubbu dunya (mencintai dunia).

Menarik untuk diperhatikan tausiyah Imam Sahal bin Abdullah At-Tustari tersebut. Pertama tanda cinta Allah adalah cinta Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kebenaran. Kebenaran adalah nilai yang senantiasa diupayakan manusia untuk diwujudkan, dinyatakan, dan dilaksanakan. Dalam sejarah perkembangan budaya manusia, mewujudkan kebenaran selalu diupayakan. Debat di televisi, diskusi di kampus-kampus, workshop dan sarasehan-sarasehan di lembaga-lembaga kajian adalah upaya mencari kebenaran.

Inilah yang melahirkan filsafat dan pengetahuan baru sebab manusia memang cinta pada kebenaran. Dalam dunia kampus dikenal berbagai Teknik manusia menemukan kebenaran intuisi, kebenaran imajinasi, kebenaran ilmiah, dan kebenaran wahyu. Kebenaran intuisi diyakini oleh paranormal bahwa perasaan yang ia tangkap tatkala melakukan perenungan adalah kebenaran. Kebenaran imajinatif diyakini oleh para sastrawan bahwa daya khayalnya adalah sebuah kebenaran yang lebih luas sebab dapat menjangkau wilayah yang di luar yang telah nyata.

Kebenaran ilmiah diyakini oleh ilmuwan bahwa ini adalah satu-satunya kebenaran yang paling autentik sebab didasarkan oleh kajian ilmiah, disusun dari uji serta didukung oleh pendekatan yang rasional dan objektif. Kebenaran wahyu diyakini oleh kalangan rohaniwan sebagai satu-satunya kebenaran hakiki sebab bersumber dari Sang Pencipta.

Budaya manusia meyakini bahwa semuanya adalah sumber kebenaran yang paling benar. Mereka lupa bahwa bukankah kebenaran intuitif menyandang kelemahan sebab paranormal ternyata toh tidak dapat melihat sosok dirinya sendiri (semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak nampak)?. Bukankah kebenaran imajinatif juga mengusung kelemahan sebab imajinasi seseorang juga dibatasi oleh imajinasi orang lain?

Baca Juga  Tentang Cinta dan Pernikahan

Bukankah kebenaran ilmiah juga mengusung kelemahan sebagaimana kasus Pilpres yang objeknya sama akan tetapi hasil quickcount bisa berbeda? Dan, bukankah kebenaran wahyu sebagaimana kita ketahui bahwa sedikitnya telah ada 3 kitab yang telah diturunkan kepada umat manusia, (Taurat, Zabur, dan Injil), akan tetapi fakta sejarah juga mencatat bahwa ketiga-tiganya megalami pemalsuan akibat ulah nafsu manusia.

Begitulah kebenaran yang diupayakan manusia akan selalu disertai sejuta kelemahan. Begitulah kebenaran, termasuk kebenaran, wahyu yang telah disertai campur tangan manusia (Taurat, Zabur, dan Injil) akan senantiasa disertsi dengan pemalsuan, dan distorsi yang disengaja. Kebenaran-kebenaran yang tercipta, sepanjang manusia yang menciptakannya, maka pasti nisbi hasilnya, sebab nafsu yang menyertainya.

Di situlah perbedaanya dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kebenaran yang bersumber dari Allah SWT, Zat Yang Maha Benar. Al-Qur’an diwahyukan kepada manusia yang paling benar dan tidak pernah bedusta, Muhammad SAW. Bahkan, berdasarkan kejadian pemalsuan atas kitab-kitab sebelumnya, maka Allah sendiri yang siap menjaga keautentikan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah salah satu-satunya sumber kebenaran hakiki sepanjang masa dan takkan mungkin manusia akan dapat menandinginya, apalagi memalsukannya.

Kedua, tanda cinta Al-Qur’an menurut At-Tustari adalah cinta Rasulullah SAW. Ini dapat dipahami sebab Rasulullah SAW adalah pemilik wahyu sekaligus aplikasi dari wahyu itu sendiri. Bagaimana seseorang dianggap mencintai sifat benda tanpa mencintai bendanya?

Ketiga, tanda cinta Rasulullah SAW menurut Imam At-Tustari adalah cinta sunnah-sunnahnya. Ini dapat dipahami sebab Rasulullah SAW adalah sosok manusia yang memiliki amalan-amalan yang menjadi jatidirinya. Bukti cinta seseorang terhadap orang yang dicintainya tergambar dari hasratnya untuk menyamai perilaku dan jatidiri orang yang dicintai. Kecenderungan untuk memiliki kesamaan sifat itulah yang mengantarkan kebersamaan untuk saling mencintai. Hal itu sejalan dengan sabda baginda Rasulullah SAW

Baca Juga  Kisah Seekor Anjing Pembela Rasulullah dan Para Sahabat

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ (رواه البخاري)

Seseorang itu akan bersama-sama orang yang dicintai (HR Bukhari).

Keempat, tanda cinta sunnah Rasulullah SAW menurut Imam At-Tustari adalah cinta akhirat. Hal ini dapat dipahami sebab salah satu ajaran Rasulullah SAW ialah kehidupan akhirat itu lebih kekal dan abadi. Sementara itu, kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang pasti akan dijalani oleh seluruh manusia. Sebagai Rasul yang memiliki umat maka beliau mengajak umatnya mencintai akhirat yang dibuktikan dengan kesediaan mereka untuk menjalankan amal ibadah agar memiliki modal kehidupan di akhirat dalam nuansa bahagia bersama selamanya.

Kelima, tanda cinta akhirat adalah tidak hubbu dunya (mencintai dunia). Hal ini dapat dipahami ajaran penggapaian kebahagiaan akhirat. Bagaimana seseorang dapat mencapai kebahagiaan akhirat bila ia tidak menjalani kehidupan dunia ini dengan sebaik-baiknya.

Kaya adalah persoalan hati bukan semata-mata persoalan benda atau materi. Baginya bisa jadi, harta yang melimpah yang dimiliki seseorang tidak menjadi jaminan seseorang itu merasa kaya, sebab hatinya masih bergantung pada benda atau materi, lebih-lebih bila hatinya masih bergantung pada selain Allah. Oleh sebab itu, kaya adalah persoalan hati, yaitu hati yang merasa cukup karena telah memiliki Allah. (mmsm)

Muhammad Faiq Fahrezi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya