Fazlur Rahman Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Musthofa Akyol dan Upaya Membuka Paradigma Muslim

2 min read

Judul buku: Reopening Muslim Minds: Kembali ke Nalar, Kebebasan dan Toleransi
Penulis: Mustafa Akyol
Penerbit: Noura Books
Cetakan: Januari, 2023
Tebal: 394 halaman

 

Dalam tradisi agama Islam, dan agama kuno lainnya, tarik-menarik antara akal dan wahyu menjadi hal biasa diperdebatkan. Perdebatan sengit di antara para filsuf dan pemuka agama Islam sudah terjadi sejak dahulu, bahkan sejak pertama Islam disampaikan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW. Penyangkalan terhadap yang sifatnya transenden, didorong oleh pikiran yang rasional. Sehingga, orang juga menganggap bahwa agama sebagai sesuatu yang melemahkan akal, disebabkan ajarannya yang dogmatik.

Namun, seiring berjalannya waktu, perdebatan di masa kontemporer menjadi hal yang sangat krusial. Titik permasalahannya bukan lagi tentang “kepercayaan” pada Tuhan, melainkan pada bagaimana hubungan agama Islam dengan manusia (Hablun Minallah wa Hablun Minannas). Apakah agama Islam dipahami secara substansial atau sebaliknya agama Islam dipahami secara tekstual. Dari situ kemudian saling berhubungan banyak permasalahan-permasalahan, baik yang terjadi di masa lalu atau di masa kontemporer.

Dalam buku Reopening Muslin Minds karya Mustafa Akyol, seorang jurnalis asal Turki, menuliskan rekam jejak perdebatan-perdebatan itu dengan sangat baik. Mustofa Aktol berupaya membuka pikiran umat Muslim dengan buku pentingnya ini, tentang masalah-masalah kontemporer yang membutuhkan solusi. Utamanya masalah yang terjadi di masa lampau yang sudah tidak relevan lagi digunakan pada saat ini. Sehingga diperlukan akal sebagai pendukung untuk memahami ajaran Islam secara substansial dari Al-Quran maupun Hadits.

Mustafa Akyol menemukan banyak sekali pemahaman umat Muslim selama ini yang membelenggu baik kepada nalar maupun kebebasan. Dengan kata lain, pemahaman tentang ajaran Islam tidak dipahami secara substansial, melainkan tekstual. Bahkan agama digunakan sebagai topeng dalam melakukan sesuatu yang dalam bumi manusia tidak pantas dilakukan. Oleh karena itu, Mustafa Akyol dalam bukunya ini berupaya untuk membuka pikiran umat Muslim untuk kembali pada nalar (dengan tidak menegasikan wahyu Tuhan), mengedepankan kebebasan dan toleransi.

Baca Juga  Satgas Covid Santri Menghadapi Serangan Covid Gelombang Ke-3 di Dunia Pesantren Kita (1)

Di dalam bukunya dijelaskan bahwa pemahaman umat Muslim pada sebuah ajaran tidak pernah juga terlepas dari sejarah yang membentuknya, misalnya pendapat yang dikemukakan oleh paham-paham atau tokoh keagamaannya. Paham sunni, muktazilah, khawarij dan paham-paham yang lain menjadi peta sejarah yang membentuk pemikiran serta politik umat Muslim saat ini. Dan perdebatan di antara paham-paham itu tidak pernah lekang di makan zaman. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma yang mengutamakan pada kebebasan dan toleransi.

Selain itu, banyaknya umat Muslim yang masih bersikap konservatif terhadap ajaran Islam. Padahal, ada banyak pemahaman atau hukum Islam yang sudah tidak lagi relevan digunakan saat ini. Misalnya dalam pelaksanaan pemotongan tangan pencuri yang dalam beberapa negara sudah tidak menerapkan hukuman tersebut. Dan kita seharusnya terlebih dahulu memberantas kemiskinan, sehingga tidak seorang miskin pun yang terpaksa mencuri (hlm. 123). Artinya, tidak sepenuhnya sebuah kesalahan dan konsekuensi hukumnya dilimpahkan kepada pelaku, tapi ada latar belakang mengapa seseorang itu melakukannya.

Pemikiran-pemikiran seperti itu yang banyak dijelaskan dalam buku ini, yang sangat penting dibaca oleh umat Muslim kontemporer. Apa yang selama ini tabu untuk dibahas bahkan ditakuti, Mustafa Akyol dengan berani menghadirkan pemikir dan filsuf kuno, menjelaskan secara jernih inti dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Sehingga Islam terus relevan dengan perkembangan zaman dan menjadi agama yang menjadi solusi bagi permasalahan umat manusia.

Hayy Ibn Yaqdhan dan Kemampuan Akal

Buku ini dimulai dengan mengutip kisah fiksi dari novel Ibn Tufail yang menceritakan perjalanan Hayy Ibn Yaqzhan dalam mencari jati dirinya, pengetahuan tentang dunia dan Tuhannya. Di mana ia sejak bayi tidak didampingi oleh ayah dan Ibunya atau manusia lainnya. Tidak  ada yang tahu asal-usul bayi itu. Ia hidup sendirian, menyatu dengan alam dan disusui oleh seekor induk kijang bernama Roe.

Baca Juga  Ada Apa dengan Bilboard Kepak Sayap Kebhinekaan?

Dari kesendiriannya itu ia belajar tentang makna kehidupan, pengetahuan tentang dunia alam, hingga keyakinannya terhadap adanya Sang Pencipta. Dengan melalui penyelidikan secara mandiri itu, Hayy Ibn Yaqzhan semakin bijaksana dan memiliki pengetahuan mendalam tentang banyak hal, yang semuanya itu ditempuh melalui akal, bukan pemahaman maupun doktrin yang diterima dari  orang lain. Semuanya dilakukan melalui penyelidikan dan perenungannya tentang kehidupan.

Dari kisah itu kemudian Mustafa Akyol menjelaskan di bab selanjutnya tentang permasalahan di dunia Islam kontemporer yang memerlukan akal sebagai pemecah masalah. Karena dari kisah Hayy Ibn Yaqzhan dapat diambil hikmah bahwa akal dapat mengantarkan kita pada kebenaran.  Begitu pula, Mustafa Akyol dalam bukunya ini, menganalisis dengan sangat subtil tentang bagaimana seharusnya permasalahan umat Muslim diselesaikan dengan cara bijaksana. Tanpa terikat secara mutlak terhadap pemahaman yang selama ini dianut di dunia Muslim, yang sebenarnya membutuhkan ruang pemahaman baru demi menciptakan kemaslahatan bagi seluruh manusia.

Buku ini mengandung banyak ilmu pengetahuan tentang hukum Islam—yang menurut saya Islam yang sesungguhnya (Rahmatan lil ‘alamin),  tentang bagaimana kita menciptakan hubungan antar sesama Muslim maupun non-Muslim dengan baik tanpa ada sikap intoleransi. Dan dalam buku ini kita diajak untuk berpikir tentang apa yang selama ini terlewatkan atau diabaikan oleh umat Muslim. Sehingga buku Mustafa Akyol ini, mengantarkan kita pada bagaimana cara bernalar dengan baik, tidak mengekang, dan toleran terhadap sesama manusia demi menciptakan kehidupan yang nyaman dan penuh kedamaian.

Fazlur Rahman Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta