Fikri Mahzumi Aktivis Muslim Moderate Institute UIN Sunan Ampel Surabaya

Dhikr al-Mawt [3]: Mengingat Kematian

2 min read

Kalau mendengar ada orang yang bunuh diri, rasanya hati ini berontak. Kok ada manusia yang bosan hidup? Namun, perlu diketahui ternyata kematian itu bagi sebagian orang menjadi harapan. Tapi jangan salah. Orang-orang ini bukan kepingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Harapan terhadap kematian mereka ini merupakan bentuk dari kerinduan (syawq) kepada Allah, atau keprihatinan (khawf) terhadap nasib mereka di dunia, apakah akan memperoleh akhir yang baik (husn al-khatimah).

Dalam kitab Dhikr al-Mawt, Ibn Abi Dunya menghimpun riwayat-riwayat tentang orang-orang yang mendambakan ajal mereka.

Diriwayatkan bahwa Abu Bakar b. Bakrah pernah mengagetkan khalayak ketika beliau mengatakan lebih baik mati daripada hidup. Alasannya ternyata, beliau takut berjumpa dengan sikon di mana orang tidak lagi bisa menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tidak ada kebaikan yang dapat diperbuat di hari itu.

Abu Hurairah dalam suatu riwayat pernah mengucapkan hal yang serupa, bahwa beliau telah merindukan perjumpaan dengan Allah. Beliau ketika menjelang ajal berdoa, ya Allah saya senang segera bisa berjumpa dengan-Mu, semoga Engkau pun senang menyambutku. 

Ada juga sahabat nabi yang lain. Namanya ‘Irbad b. Sariyah, beliau ini sudah sepuh. Dalam doa-doanya beliau bermunajat agar segera bertemu ajalnya. Pada suatu kesempatan di Masjid Damaskus, beliau salat lalu berdoa seperti doa yang sering dipanjatkan agar ajal segera menjemputnya. Tiba-tiba datang seorang pemuda ganteng berjubah hijau. Lalu bertanya kepada sahabat ‘Irbad, kenapa Anda berdoa seperti itu? Jawab beliau, apa doa yang benar? Pemuda itu mengajarkan doa kepada ‘Irbad, Ya Allah baguskanlah amalku, dan dekatkan ajalku.

Karena penasaran dengan pemuda itu, sahabat ‘Irbad lalu bertanya, siapa Anda ini? Pemuda tersebut berkata, saya adalah perasaan yang menghantarkan kesedihan di hati seorang mukmin. Ketika sahabat ‘Irbadh menoleh ke arah pemuda itu, ia tidak menemukan seorang pun.

Baca Juga  Abu Nuwas, Sang Sufi yang Akhirnya Bertobat

Kisah lain yang diriwayatkan Ibn Abi Dunya dalam kitab Dhikr al-Mawt tentang orang-orang yang mendambakan kematian seperti kisah Umar b. Abdul Aziz. Ketika itu ada beliau dalam kondisi yang gawat ketika seseorang dengan sengaja meracuninya. Maka didatangkanlah seorang tabib. Lalu tabib itu mengatakan bahwa Umar b. Abdul Aziz telah diracuni seseorang. Mendengar perkataan tabib tersebut, Umar b. Abdul Aziz berkata, saya merasakan kala racun itu sampai di perutku. Tabib itu kemudian menyarankan agar beliau meminum penawar racun karena takut kalau racun itu membahayakan nyawanya.

Umar b. Abdul Aziz merespons saran tabib itu dengan mengatakan, saya pasrah kepada Allah. Ketahuilah, andai penawar itu berada di cuping telingaku, saya tidak akan menggerakkan tanganku untuk meraihnya dan meminumnya. Lalu beliau berdoa, ya Allah pilihlah Umar ini untuk berjumpa dengan-Mu. Selang beberapa hari, Umar b. Abdul Aziz pun mangkat.

Kisah-kisah di atas tentang orang-orang pilihan yang mendambakan kematian bukan berarti menunjukkan keputusasaan mereka dari kehidupan. Mereka ini berharap mati bukan karena ‘bosan hidup’ seperti sebagian orang yang memilih bunuh diri karena keputusasaan. Harapan atas kematian lebih termotivasi karena kerinduan kepada Sang Khalik.

Dalam pandangan orang-orang saleh, perjumpaan dengan Allah adalah anugerah yang agung. Pandangan ini memang tidak wajar bagi orang awam. Sebab di sana ada kesan keputusasaan dari kehidupan yang dianugerahkan Tuhan. Padahal, maksud dari kerinduan terhadap kematian bukan semata berharap mati, namun lebih karena alasan bahwa kematian akan membebaskan seseorang dari nafsu duniawi untuk menuju kehidupan akhirat yang abadi. Karenanya dalam tasawuf dikenal dua istilah kematian, yaitu: kematian dari syahwat duniawi dan kematian ragawi karena tercabutnya ruh.

Sejumlah sufi merinci kematian dari syahwat duniawi ke dalam sembilan jenis: pertama, kematian merah (al-mawt al-ahmar). Syekh Abdul Qadir Jailani menjelaskan, yaitu kondisi di mana seseorang telah mematikan hawa nafsu, hasrat duniawi, dan tabiat negatif yang berasal dari tarikan setan.

Baca Juga  Apakah Berilmu Menjamin Dekat dengan Allah?

Kedua, kematian putih (al-mawt al-abyadh). Menurut penjelasan Kamaluddin al-Qasyani, di mana seseorang telah mematikan nafsu perutnya dengan berlapar diri, sehingga pada dirinya terpancar cahaya putih karena ketajaman pikiran yang meningkat dalam kondisi perut yang lapar. Ketiga, kematian hijau (al-mawt al-ahdar). Yaitu kematian karena kanaah atas pemberian Allah. Keempat, kematian hitam (al-mawt al-aswad). Ketika seseorang memilih tabah atas kesulitan dan derita karena melihat Allah sebagai penentu takdir.

Ibn Arabi menambahkan tiga jenis kematian yang lain, yaitu: kelima, kematian pilhan (al-mawt al-ikhtiyârî). Ketika seseorang hasrat duniawinya. Keenam, kematian asli (al-mawt al-ashlî). Ketika seseorang hanyut dalam wujud Allah (wihdat al-wujûd). Ketujuh, kematian negasi (al-mawt al-‘arîdh). Ketika seseorang tertarik pada Dzat Maha Hidup, sehingga hilanglah kehidupannya.

Ali Syalaq menambahkan dua jenis kematian yang dikenal para sufi, yaitu: kedelapan, kematian kecil (al-mawt al-ashghar). Tidur bagi sufi merupakan kematian kecil. Kesembilan, kematian maknawi (al-mawt al-ma‘nawiyah), yakni seseorang yang merasakan ketiadaan dirinya ketika bersama Allah (fanâ’ fî Allah). Wa Allah A‘lam.

Fikri Mahzumi Aktivis Muslim Moderate Institute UIN Sunan Ampel Surabaya