Mukhammad Zamzami Santri PP Mambaus Sholihin Gresik; Executive Editor Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 1]

3 min read

Source: kasnazan.com
Source: kasnazan.com

Sosok Ibnu Taimiyyah selama ini memang populer sebagai salah satu ulama yang antisufi dengan segala atribut pemikirannya. Banyak Salafi modern menyanggah hubungan apapun antara Ibnu Taimiyyah dan sufisme, sebuah pandangan yang mudah ditemukan ketika mencari data di jagat maya.

Ibnu Taimiyyah dianggap puris (pemurni ajaran) yang menjadi sumber inspirasi pembaruan di abad modern dalam mereformasi ajaran agama dari biang takhayul, khurafāt, dan bid‘ah. Produk purifikasi pemikirannya—yang pada awalnya kurang mendapatkan tempat di fase-fase awal kemunculannya—kemudian pada abad 18 dan 19 banyak direproduksi oleh Muhammad b. ‘Abd al-Wahhāb dan segenap komunitas Wahabi yang menempatkan figurnya sebagai inisiator mazhab Salafi yang antisufi [David Commins, The Wahhabi Mission and Saudi Arabia]

Ibnu Taimiyyah memang dikenal sebagai “lawan tangguh” bagi setiap kelompok atau pemikiran yang dianggap meruntuhkan autentisitas Islam, sebut saja sekte Syiah ekstremis (ghulāt al-Shī‘ah), Mu‘tazilah, filsuf paripatetik (mashāīyah), sufi falsafi, dan kelompok-kelompok yang mempunyai pemikiran religius berlebihan.

Barangkali tidak ada yang lebih baik dari seorang Henri Laoust yang mampu merangkum figur dan pemikiran Ibnu Taimiyyah dan menggambarkannya sebagai the most logically implacable foe (musuh paling rasional) bagi siapa saja “mengaburkan” Islam dari wujud aslinya [Dikutip dari Diego R. Sarrio, “Spiritual anti-Elitism: Ibn Taymiyya’s Doctrine of Sainthood (Walāya)”].

Terkait kritik Ibnu Taimiyyah terhadap doktrin tasawuf falsafi, Alexander Knysh mengilustrasikan pencapaian Ibnu Taimiyyah sebagai sesuatu yang cukup telak “menghantam” pemahaman wahdat al-wujūd Ibn ‘Arabī. Pun juga dengan doktrin sufisme al-Hallāj dan Abū Yazīd al-Bistāmī juga dikritiknya secara membabi buta [‘Umar Farūkh, al-Tasawwuf fī al-Islām].

Sikap keras Ibnu Taimiyyah terhadap pemikiran Ibn ‘Arabī dan pengikutnya dianggap sebagian kalangan sebagai upaya mengeliminir seluruh dimensi pemikiran sufistik. Bahkan ada beberapa ulasan dengan tanpa argumen yang komprehensif dengan menempatkan sosok Ibnu Taimiyyah dan kelompoknya, Salafi, sebagai kelompok antisufi saja—sebagaimana yang disinggung ‘Alī Sāmī al-Nashshār dalam kitabnya Nash’at al-Fikr al-Falsafī fī al-Islām.

Karena digambarkan sebagai oposisi terhadap sufisme, tentu ini mengaburkan usahanya dalam memformat tasawuf yang mempunyai distingsi dengan dua model populer tasawuf, Sunnī dan Falsafī. Ovamir Anjum mendukung hal ini dan berpendapat bahwa Ibnu Taimiyyah—dan tentu saja muridnya, Ibn Qayyim al-Jawzīyah—mendukung tasawuf tanpa mistisisme. Bagi Anjum, sebenarnya Ibnu Taimiyyah ingin memulihkan tradisi tasawuf yang paling awal dan autentik ketika mistisisme dianggap sudah mengaburkan autentisitas pengetahuan al-Qur’ān dan Sunnah [Ovamir Anjum, “Sufism Without Mysticism? Ibn Qayyim al-Ğawzīyah’s Objectives in Madārij al-Sālikīn”]. Baginya, sesungguhnya bentuk tasawuf awal Islam adalah cabang pengetahuan yang kuat karena dilekatkan pada kerangka teologi tradisionalis.

Baca Juga  Muhammad Ali dan Dakwah Islam Damai di Amerika

Sufisme Ibnu Taimiyyah

Mendiskusikan relasi Ibnu Taimiyyah dengan tasawuf cenderung membingungkan dan kontradiktif. Meski di satu sudut ia banyak mengkritisi doktrin sufisme mazhab falsafi, namun di sisi yang berbeda ia nampak tidak dapat mengingkari keagungan tasawuf. Akibatnya, ia sering tampak merendahkan tasawuf, mencela kaum sufi di eranya, dan menafikan keutamaannya. Namun, pada saat yang sama—dalam ulasan Thomas F. Michel—Ibnu Taimiyyah justru bangga menjadi pengikut tarekat Qādirīyah yang berafiliasi pada sosok Syeikh ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī.

Muhammad Hisyam Kabbani juga mencatat bahwa posisi Ibnu Taimiyyah sebagai pakar bidang akidah (teologi) sejajar dengan posisinya sebagai ‘ālim yang fasih bidang tasawuf sekaligus seorang sufi. Bagi Kabbani, baik orientalis dan kaum salafi yang menyebut Ibnu Taimiyyah sebagai antisufi sesungguhnya tidak mempunyai titik pijak jelas sebagaimana yang dikembangkan oleh D.B. MacDonald dan Louis Massignon [Lihat Mustafā Hilmī, Ibnu Taimiyyah wa al-Tasawwuf, 25 dan 32] yang menahbiskan Ibnu Taimiyyah sebagai musuh para sufi dan kehidupan spiritualnya.

Beberapa akademisi sanggup membuktikan sebaliknya; di mana Ibnu Taimiyyah dianggap bisa menerima tasawuf dan dasar-dasar ajarannya. Sesungguhnya Ibnu Taimiyyah tidak menyerang tasawuf, karena ia hanya mengkritisi segala macam penyimpangan terhadap praktik bertasawuf [Baca ‘Abd al-Mun‘im al-Hifnī, al-Mawsū‘ah al-Sūfīyah]. Lebih jauh lagi, berbagai indikasi menyebut bahwa ia tidak hanya mengaku sufi, tetapi ia juga suka mengenakan khirqah (mantel) kewalian dalam tradisi Tarekat Qādirīyah.

Ibnu Taimiyyah adalah sosok yang sangat mengagumi ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī, orang yang secara khusus disebut “guru sufiku” (shaykhunā) dan “tuanku” (sayyidī) dalam kitab Fatāwā-nya. Kecenderungan sufistik dan ketakziman Ibnu Taimiyyah kepada al-Jīlānī juga dapat dilihat dalam komentar Ibnu Taimiyyah terhadap Futūh al-Ghayb, karya al-Jīlānī. Futūh al-Ghayb memuat 78 khotbah, dan lima khotbah di antaranya dikomentari Ibnu Taimiyyah.

Baca Juga  Ijtihad Umar bin Khattab Melawan Teks, Benarkah?

Pada karya tersebut tergambar pandangan Ibnu Taimiyyah bahwa tasawuf adalah kebutuhan utama umat Islam. Sufisme al-Jīlānī, baginya, selalu berpedoman pada akidah yang benar; keyakinan tradisionalis para ahli hadis atau Ahl al-Sunnah wa al-Hadīth sebagaimana anjuran mazhab Hanbalī [Baca: Arjan Post, “A Glimpse of Sufism from the Circle of Ibn Taymiyya].

Dalam sebuah manuskrip karya Jamāl al-Dīn Yūsuf b. Badr al-Dīn Hasan b. ‘Abd al-Hādī al-Hanbalī (w. 909 H./1503 M) yang berjudul Bad’ al-‘Ulqah bi Labs al-Khirqah, disebutkan bahwa Ibnu Taimiyyah menyatakan: qad kuntu labistu khirqat al-tasawwuf min taraf jamā‘ah min al-shuyūkh min jumlatihim al-syeikh ‘Abd al-Qādir al-Jīlī, wa hiya ajallu al-turuq al-mashhūrah (saya sudah mengenakan jubah ketasawufan dari sekelompok syeikh sufi, di antaranya Syeikh ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī, tarekat [Qādirīyah] ini adalah tarekat yang mashur). Diriwayatkan ungkapan tersebut diperjelas oleh Ibnu Taimiyyah dengan menambahkan kalimat: fa-ajallu al-turuq tarīq sayyidī ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī (tarekat paling agung adalah tarekat tuanku ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī). Berikut ini silsilah ketarekatan Qādirīyah Ibnu Taimiyyah.

Silsilah Keanggotaan Tarekat Ibnu Taimiyyah: ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī (w. 561 H./1165 M)—Abū ‘Umar b. Qudāmah (w. 607 H. 1210 M.)—Muwaffaq al-Dīn b. Qudāmah (w. 620 H./1223 M.)—Ibn ‘Abī ‘Umar b. Qudāmah (w. 682 H. 1283 M.)—Ibnu Taimiyyah (w. 728 H./1328 M.)—Ibn Qayyim al-Jawzīyah (w. 751 H./1350 M.)—Ibn Rajab (w. 795 H./1393 M.)

Dalam genealogi sanad ketarekatan di atas Abū ‘Umar b. Qudāmah dan Muwaffaq al-Dīn b. Qudāmah menerima khirqah secara langsung dari ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī. Dalam ulasannya, ‘Abd al-Hādī mengutip ucapan Ibnu Taimiyyah yang menegaskan afiliasi sufinya pada tarekat Qādirīyah dan ragam tarekat lainnya [Baca: Kabbani, Self-Purification, 131]. Ketiga syeikh Ibn Qudāmah—Abū ‘Umar, Muwaffaq al-Dīn, dan Ibn Abī ‘Umar—merupakan sumber rujukan yang diakui dalam mazhab Hanbalī [Baca: George Makdisi, “The Hanbali School and Sufism”].

Baca Juga  Cinta Lebih Penting dari Tahta

[Bersambung]

Mukhammad Zamzami Santri PP Mambaus Sholihin Gresik; Executive Editor Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya