Hasan Mahfudh Santri PP Qomaruddin Gresik, editor Jurnal Mutawatir. Dapat disapa melalui twitter @mahfudhsahin

Ka’bah Sepi: Mencari Ilahi dengan Menziarahi Alam dan Diri

3 min read

https://asset.kompas.com/data/todaysphoto/2018/foto/73f614858444241bddf143/p_15834801003b0-saudi-health-virus.jpg

Hari raya tahun ini terasa sepi. Pasca vonis positif salah satu warga desa kami yang mudik dari Surabaya, memaksa Satgas Covid-19 memutuskan lockdown lokal desa selama empat hari sejak H-1. Hal ini mengingatkan pada Masjid Haram yang diputuskan terbatas dan tentu sepi.

Anehnya, entah mengapa saat bersamaan tiba-tiba ada rindu untuk kota Jogja. “Yogyakarta terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”. Ah, Joko Pinurbo bisa saja.

Bisa jadi, kerinduan ini didasari atas pertemuan antara sepi dan masker yang kini ditemukan dan diwajibkan dipakai untuk semua. Yah, sepi sering mengajak intropeksi, juga tak sesekali bernostalgia. Teringat peristiwa, kebersamaan, teman, dan tak lupa secangkir kopi.

Tepat tahun 2010 ingatku. Indah Merapi pagi hari tiba-tiba terlihat ngeri. Tampaknya malam hari telah terjadi erupsi. Hampir seluruh wajah tersembunyi, tak berani menatap mentari pagi. Menyisakan kedua mata, persis seperti ninja hatori. Bedanya, hari itu kita masih bebas bercengkrama, meski hanya sebatas ngopi.

“Benda, benda apa yang paling diperlakukan tidak adil oleh manusia?” Sembari menenteng buku pertanyaannya menantang. Namanya Agus, warung kopi tempat favoritnya. Kali ini di tangannya novel Kuntowijoyo berjudul Mantra Pejinak Ular. “Itu tolong masker dilepas dulu, pesen kopi dulu sana” jawabku seadanya. Waktu itu kami bertiga, temenku yang lain hanya melempar senyum sambil melanjutkan membaca. “eh, aku serius.. siapa yang bisa?” Pertanyaannya mendesak. “air..” Jawabku cepat. “Salah, yang benar batu.”

“Coba pikirkan, batu itu digunakan serampangan oleh manusia. “otak batu” untuk menyebut kebebalan otak manusia. “Kencing batu” untuk menyebut penyakit pada saluran kencing manusia. Nah, batu disimbolkan negatif kan? Nggak enak jadi batu”. Mendengar penjelasan ini Adi, temanku satunya diam-diam mulai ikut memperhatikan. Buku Arkeologi Pengetahuan karya Michel Foucault ditutup rapat-rapat.

Baca Juga  Sahabat Nabi yang Selalu Mengakui Kemunafikannya

“Padahal kalau mau jujur, kita berhutang banyak sama batu. Rumah-rumah, jalanan, hotel, dan bangunan pada umumnya pasti bermula dari batu. Pasir adalah wujud terkecil dari batu. Belum lagi semen dan batu bata itu sendiri. Jelas-jelas sangat bermanfaat bagi kehidupan. Sudah sedemikian manfaat, kadang batu dianggap benda yang tajam dan berbahaya kan?” jelas ini pertanyaannya retoris dan tidak butuh jawaban. Sekali dua kali ia menghisap rokok samsunya.

“Sekarang kita naik sedikit, lihat saja bagaimana batu ini diperlakukan oleh manusia. Akik maupun batu mulia digunakan perhiasan, baik lelaki maupun perempuan. Belum lagi intan permata. Jelas batu-batu jenis ini sangat berharga dan diperlakukan istimewa.”

“Dalam konteks lainnya, batu punya nilai spiritual dan magis. Arca, candi Borobudur, candi Prambanan, dan candi-candi lainnya itu kan materinya batu, tapi tentu tidak sekedar batu. Terakhir, saat manusia meninggal dunia, ia akan ditandai oleh apa? Batu juga, kan? Batu nisan”. pandai dia menutup cerita dengan konteks kematian.

Masih tentang batu, kalau boleh merenung sejenak maka kita akan mendapati bahwa “batu” kerap menyertai sejarah peradaban umat Islam. Ketenaran Muhammad sebagai seorang yang adil dan bijaksana dimulai dari peristiwa peletakan batu hitam (Hajar Aswad) yang sempat diperebutkan para pemuka Quraish. Batu juga yang menjadi saksi mukjizat Musa ketika dengan tongkatnya mampu memancarkan sumber-sumber air. Dalam peristiwa lain, batu menjadi saksi wahyu pertama Nabi Muhammad, bukankah Gua Hira adalah perwujudan batu besar yang di dalamnya dapat dihuni manusia? Di dalam Gua lah nabi bersembunyi dari kejaran Quraish Makkah ketika Hijrah. Peristiwa Ashabul Kahfi juga erat kaitannya dengan Gua. Saking seringnya Gua hadir pada peristiwa-peristiwa Nabi, Ian Richard Netton lantas memaknainya sebagai simbol pertolongan Allah. Alhasil, tidaklah heran jika Alquran sering mengajak kita untuk berfikir salah satunya dengan mengamati kemegahan gunung, bentuk terbesar dari batu.

Baca Juga  Haul KH. Abdul Jalil dan Tradisi Baninan

Fenomena Ka’bah sepi memang terasa pilu. Terlebih terjadi sepanjang bulan suci bahkan saat fitri kali ini. Ka’bah merupakan batu pertama yang diletakkan Nabi Ibrahim atas titah ilahi. Meski beberapa kali direnovasi, kesucian dan kemuliaan Ka’bah tak pernah terganti. Selain dilegitimasi secara normatif, Ka’bah kaya akan sisi historis.

Cerita tentang batu dapat kita jadikan renungan bersama bahwa material bendawi yang ada di muka bumi ditentukan nilai dan manfaatnya oleh manusia. Tentu melalui sejarah, peradaban bahkan ajaran keagamaannya. Begitu pula Ka’bah. Mengunjunginya berarti kita tidak hanya sekadar menikmati keindahan bangunannya. Lebih dari itu, perenungan atas sejarah, nilai dan keagungan Allah lah jauh lebih penting. Umar bin al-Khattab dalam sebuah riwayat pernah menyatakan ketika hendak mencium Hajar Aswad:

Demi Allah, aku tahu kamu hanyalah sebuah batu. Sekiranya aku tidak melihat sendiri Rasulullah menciummu, pasti aku tak akan menciummu.”

Sikap Sayyidina Umar ini mengajak kita untuk tidak berhenti pada benda, bahkan yang dianggap mulia. Semua benda dan seluruh peristiwa yang terjadi di muka bumi dapat bernilai jika kita sampai pada penemuan atas kebenaran. Dan, yang sering terlupa bahwa dalam diri manusia pun terdapat tanda-tanda kebenaran itu. Selain menjalankan perintah, ziarah ke Mekkah-Madinah tak lain untuk menemukan keagungan dan kebenaran Allah. Tapi jangan lupa, kita dapat berziarah ke dalam jiwa, juga tak lain untuk menemukan kebenaran kalam-kalam ilahi. Inilah yang dimaksud dari sebuah pesan singkat Maulana Rumi “Jangan kau meresa sepi, seluruh dunia ada dalam dirimu”.

Potensi diri untuk menemukan kebenaran dan mendekat kepada Allah juga termaktub dalam firmannya Q.S. Fussilat: 53;

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa (Al-Quran) itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Terakhir, saat pandemi seperti sekarang boleh saja Ka’bah sepi, tapi tidak di hati para abdi. Biar mulut tertutup masker, tapi hati bertahmid bertakbir. Para pedagang thawāf, berputar mencari rezeki. Pekerja wuqūf, berdiam serta mengabdi. Tak sedikit yang tahallul, memotong gaji untuk berdonasi. Para perawat ihrām, berputih-putih melindungi diri. Mereka sa’i, berlari menolong yang terancam mati. Para kiai mabīt, bersimpuh memohon keselamatan negeri. Semuanya melempar jumrah, melempar ego juga emosi.

Baca Juga  Kata Maaf adalah Amalan Hati yang Istimewa

Tentu, saya sangat meyakini (haqq al-yakīn) bahwa setiap individu Muslim pasti merindukan kondisi Ka’bah seperti biasanya. Haji adalah ibadah yang sangat dirindu dan dinanti-nanti. Hati siapa yang tak ingin ziarah ke Raudhah, menengadah dan memohon pada tempat-tempat suci di haromain. Allah…. Ampuni dan segerakanlah wabah ini.

Dalam keadaan penuh kecemasan seperti ini, ada baiknya kita bersama optimis, memandang kebesaran dan keagunganNya. Membaca alam, juga memaknai kembali arti diri.  Karena pada setiap wujud dan peristiwa, kebenaran dan keagungannya terpancar dan bersemayam di dalamnya. [AA, MZ]

Hasan Mahfudh Santri PP Qomaruddin Gresik, editor Jurnal Mutawatir. Dapat disapa melalui twitter @mahfudhsahin

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *