Imam Fawaid Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UINSA; Aktif di Komunitas Tikar Merah Surabaya, Kelas Puisi Bekasi, Komunitas Taman Literasi

Puisi: Bulan Yang Turun Ke Jendela

1 min read

e6116-sholat-blogedukasi.jpg
e6116-sholat-blogedukasi.jpg

Bulan Yang Turun ke Jendela

Mestinya ada yang membentuk cahaya
Di jendela sebagai peta musim
Sebab gelap tak akan kekal sebagai yang petang

Mestinya anakku lebih pandai meminjam tangis
Menjadikan segala suara sebagai ruang bunyi
Sebab yang lahir sebagai bayi adalah cahaya yang tumbuh di rahim

Mestinya ada yang memperbaiki pantulan cahaya
Agar gelap-terang tidak gugur di jendela-jendela
Tapi di mata yang lebur bersama aroma padi: petani

Sebagai doa keselamatan, mestinya menghindari suara karat
Dan sungai yang mampet di ingatan, agar yang subur bisa berkembang
Dan yang redup bisa terang, yang sumbang bisa akrab dengan alam dan telinga

[Surabaya: 2020]

Totosan Nyala

Malam itu, ada kunang-kunang membangun jembatan
Jembatan yang nyala, berbinar menembus rumah serta jalan
Dan aku memilih menjadi kata tanpa kedinginan
Ribuan penyair merakit tubuhku menjadi sebatang puisi

Malam itu, orang-orang bangun dari tidur panjang
Dari segala yang dikenang dalam dunia yang lain
Mereka menandai dirinya dengan alamat purnama
Beriringan menuju mata di sebuah taman

Malam itu kian ramai, menirukan suara angin di sawah
Menciptakan sansai dari mulut ke mulut, merindukan hujan
Sebagai pelukan, sebagai kedingan yang tak pura-pura
Dan aku kembali menjelma kata, kata yang tak pernah tanggal

[Batang-Batang, 2020]

Merawat Kangen dalam Perjalanan

Pertemuan kita mengalir dalam tiket pesawat
menjadikan aku lebih berani mengusir kesepian hari ini
pun kesendirian yang suntuk, di pikiran hanya ada kekosongan
aku ingin melepas baju di tubuhmu
menghanyutkan perjalanan ke dada masing-masing
supaya kita bisa mesra di dalamnya

sebab alamat yang di tuju tidak sekadar pulang
tapi juga ke matamu, bertamu dengan selamat
maka aku berangkat dengan tangan di tanganmu

Baca Juga  Alif dan Mim (9): Kisah Cinta Dari Dulu Memang Begitu, "Ruwet"

[Surabaya-Madura: 2020]

Ayam

Aku akan berbunyi ketika bulan sudah mekar
Dan mengarsipkan malam ke tubuhku
Sambil menerjemahkan zikir ke telinga

Aku akan jadikan suaraku sebagai alarm semesta
Agar namaku jadi mulia

Semoga dagingku diiris dengan bismillah,
agar darahku bisa mengalir serupa sungai
Dan berhenti pada kesaksian Tuhanku.

[Surabaya: 2020]

Imam Fawaid Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UINSA; Aktif di Komunitas Tikar Merah Surabaya, Kelas Puisi Bekasi, Komunitas Taman Literasi

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *