



“Yaallah nduk, kamu nikah pasti enak. Ada yang bantu mikir, udah gausah capek kerja pagi sampai sore, tinggal ngurus suami sama anakmu. Teman-temanmu loh udah punya anak 2 bahkan 3. Lah kamu masih gini-gini aja.” Ujar ibuku sambil menggeser nasi goreng tepat didepanku ketika sarapan bersama sebelum berangkat kerja. Aku sengaja diam tak merespon. Menunduk. Mataku fokus pada telur yang menyelimuti nasi didepanku. Sembari tetap mengunyah kerupuk dengan santai.
Suasana hening, pada lahapan terakhir ibu menimpali “Lah itu Minah (tetanggaku) dan Asih (temanku) udah lamaran kemarin. Kamu kapan nduk? Ben ndang dadi uwong”, ungkapnya sambil berdiri menaruh piring di wastafel dapur.
Ahh, rasanya redaksi yang senada dengan kalimat itu sudah keluar masuk dalam telinga. Pertanyaan ‘kapan kapan dan kapan’ hampir selalu ramai jadi perbincangan di sepanjang hari. Kalimat itu selalu menjadi topik di keluarga ketika tidak sengaja melihatku atau sekedar melamun, menghitung siapa diantara keluarga besar yang belum menikah.
Sebenarnya tidak berat, karena biasanya keluarga hanya basa-basi melempar pertanyaan untuk memancing keakraban. Terlebih selalu diulang dengan ekspresi meremehkan. Apa menjadi sebuah kesalahan jika sikap geram dalam diri ini tiba-tiba muncul?
“Kalau sudah nemu yang cocok, udah langsung nikah aja. Persoalan yang lain bisa dipikir sambil jalan, yang penting nikah dulu. Ben ndang dadi uwong. Ibarat bunga, kamu ini sedang mekar-mekarnya, nanti kalau kelamaan ya layu, nggak cantik lagi”, sahut tanteku merasa resah karena banyak keponakannya yang belum menikah.
Aku mengernyutkan dahi, menggabungkan kedua alisku tepat di tengah, dan menyipitkan kedua mataku. Mencoba menyimak dan berfikir keras mengapa perempuan harus disamakan dengan bunga? Memilah kalimatnya dengan intropeksi diri “emang selama 27 tahun aku hidup di dunia ini bukan orang namanya? Maksudnya aku hewan atau apasih”, gumamku dalam pergulatan hati dan pikiran.
Dalam dunia laki-laki, persoalan pernikahan di kultur masyarakat tidak serumit dan semenyakitkan itu. Beberapa teman laki-laki sebayaku pernah bercerita bahwa dirinya fokus untuk mengejar karir dan mengumpulkan pundi-pundi rezeki. Hal ini didukung oleh keluarga dan lingkungan dekatnya dalam memacu pengembangan diri. Realita ini sangat-sangat berbeda dengan yang dialami setiap perempuan.
Stigma Perempuan Lajang
Realita dalam kehidupan manusia memang dipenuhi dengan ekpektasi dan tanggapan orang lain. Kita hidup berdampingan dengan ribuan manusia yang berbeda pola pikir dan sudut pandang. Perlu adanya upaya untuk menyikapi dengan baik serta menghargai atas keberagaman pendangan satu sama lain.
Menurut Sciece Daily, sebuah situs Web Amerika melansir tulisan bahwa usia 20-30 tahun adalah usia yang dianggap ‘layak menikah’ bagi sebagian masyarakat. Jika belum menikah diusia tersebut akan diangap sebagai perawan tua atau tidak laku.
Wanda Roxanne dalam bukunya “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah” memaparkan artikel yang mengupas tentang stereotip atau stigma yang dialami perempuan lajang. Dalam instagram pribadinya, Wanda menanyakan pada followers-nya tentang stigma perempuan lajang dan hasilnya beragam. Perempuan lajang dianggap terlalu pemilih, tidak laku, menjadi perawan tua, expired, tidak bahagia, kesepian, dianggap homoseksual, dianggap aneh, tidak normal, tidak bisa bergaul, menyedihkan, dan dikasihani karena belum menikah. (Jurnal Perempuan, 2022).
Seolah memang ada aturan baku mengenai batas usia ideal menikah untuk perempuan. Padahal jika ditelisik, perempuan dengan sadar memilih untuk lajang karena berbagai faktor, baik itu soal prioritas maupun tujuan hidup. Ada pula karena memang belum bertemu dengan orang yang benar-benar cocok untuk mendampinginya. Bisa juga karena trauma hubungan di masa lalu yang masih terngiang di kepala.
Kehidupan perempuan selalu dipenuhi dengan belenggu budaya masyarakat. Dibatasi geraknya, diawasi tindakannya dan diatur tingkah lakunya. Padahal yang diinginkan perempuan adalah menjalani kehidupan dengan menjadi dirinya sendiri, bukan bentukan dari sistem patriarki masyarakat. Bukan juga karena tidak terima dengan takdir Tuhan seperti apa yang dikatakan Sanavero dalam bukunya “Perempuan Yang Memesan Takdir”.
Menikah bukan Solusi dari Semua Masalah
Menikah adalah perjalanan ibadah seumur hidup. Bayangkan saja sebagai dua manusia yang benar-benar orang asing (bukan keluarga) disatukan ikatan pernikahan untuk kemudian berkomitmen bersama-sama seumur hidup. Kehidupan keduanya berbeda latar belakang dan pengalaman puluhan tahun yang lalu. Perbedaan yang ada harus dilebur menjadi satu untuk keberlangsungan kehidupan selanjutnya.
Tak salah jika menikah menjadi keputusan besar dalam hidup. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk menikah berarti siap untuk berbagi, siap untuk repot, siap untuk mengalah, siap untuk menjaga kesalingan dan siap untuk menerima kekurangan satu sama lain. Kondisi ini yang membuat fisik, mental, spiritual, bahkan finansial menjadi barometer ketangguhan dalam pernikahan.
Banyak hal di dunia ini yang memang tidak bisa selesai begitu saja dengan menikah. Ada permasalahan yang solusinya butuh waktu, pengembangan diri, dan pemahaman yang lebih dalam. Bukan hanya sekedar menemukan pasangan hidup lalu menikah.
Lalu apa yang menjadi titik pencapaian tertinggi bagi perempuan jika menikah saja tidak cukup tinggi?
Pencapaian tertinggi seluruh manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah hablumminallah, hablumminan naas, dan hablumminal ‘alam. Ketiga segitiga ini tidak bisa dipisahkan begitu saja. Ia menjadi satu kesatuan utuh yang memiliki benang merah.
Hablumminallah mengacu kepada bagaimana bentuk taqwa dan penghambaan kita kepada Allah. Hablumminan naas bisa dipancing dengan pertanyaan yang bisa dijawab oleh diri sendiri, “apa yang bisa aku berikan untuk menebar manfaat kepada manusia lain?”. Dan hablumminal alam berdasar pada diri yang mampu merawat dan menjaga bumi beserta isinya.
Kata Habib Husein Ja’far, menikah adalah mitsaqan ghalidan, sebuah perjanjian sakral dan agung antara manusia dengan Tuhan-Nya, Jika pernikahan diposisikan sebagai perjanjian agung dengan Tuhan, maka sudah tidak ada lagi yang beranggapan bahwa pernikahan adalah perjanjian dengan orang tua, mertua, bukan pula dengan pasangan.
Anggota Puan Menulis asal Gresik