Iqromah Puan Menulis

Apakah Ekstremisme Bisa Dihentikan?

2 min read

Sumber: Betawipos

Di pesantren, saya  bertemu dengan salah satu kawan dari daerah Pati Jawa Tengah. Awal mula bertemu, ia cenderung tertutup dan tidak mudah bergaul. Lambat laun, kamipun menjadi kawan dan saya adalah salah satu dari kawannya yang ternyata tidak banyak itu. Ternyata, ia salah satu pengikut aliran yang cukup radikal dengan berbagai penolakan yang ia rasakan ketika awal mondok. “Setelah keluargaku tahu kalau aku ikut aliran itu, sebagian fasilitasku dicabut termasuk handphoneku” ujarnya. Kendati demikian, ia kerap kali curhat perihal agama dengan guru lamanya melalui whatsapp. Sebagai kawan baru, saya hanya terdiam dan tersenyum kala itu. saya tidak berani menegur apalagi mengatur-aturnya.

Setelah beberapa bulan di pesantren dan juga kuliah, ia perlahan beralih pemahaman. Ia kian menyadari bahwa ideology keagamaan yang dahulu dipegangnya kurang tepat, sehingga ia bersyukur atas apa yang ada di dadapannya saat ini. Ia merupakan satu dari banyaknya anak muda yang terpapar pemahaman radikal, namun tidak banyak yang bisa sepertinya yang bebas dari keterkungkungan paham radikal.

Ia terpapar ketika masih duduk di bangku SMA, betuntung keluarganya menyadari hal itu, sehingga mengambil sebuah tindakan yang tentunya tidak memberikan kenyamanan penuh untuknya. Saya belajar dari bagaimana orang tua dari kawan saya itu untuk mengikis paham radikal yang sudah terlanjur masuk ke dirinya.

Peran Keluarga dan Orang Terdekat

Paham radikal bisa datang darimana saja, jika mental spiritual belum kokoh sejak dini. Gerakan yang dilakukan dengan sangat elok dan apik begitu mudah merasuk pada seseorang khususnya anak muda. Oleh sebab itu, penting bagi kita memiliki paham spiritualitas yang baik. Namun, jika sudah terpapar oleh paham tersebut agaknya kita bisa menyontoh cara orang tua kawan saya itu untuk mengikis paham radikal.

Baca Juga  Mengembalikan Politik Kultural NU di Umurnya yang ke 95

Dari hasil curhat kala itu, ia menjelaskan bahwa fasilitas termasuk handphone yang digunakan untuk mengakses koneksifitas kepada jaringannya diambil dengan tujuan memutus hubungan dengan orang-orang yang memiliki paham radikal itu. Kemudian, ia dimasukan ke dalam pesantren yang memiliki paham ahlussunah wal jama’ah serta anti radikalisme dan ekstrimisme. Selain itu, ia juga kuliah di kampus dengan ideologi yang anti radikalisme dan ekstrimisme.

Meskipun kerapkali merasakan penolakan dalam diri, ia tetap istiqomah berada di dalam pesantren dan mengikuti segala kegiatan pesantren. Ia juga dekat dengan pengurus-pengurus inti yang menguatkannya di dalam pesantren. Lambat laun, ia akhirnya lupa akan pemikirannya yang ekstrim dan cenderung lebih kritis terhadap banyak hal. Selain mendapatkan dukungan, ia juga sama sekali tidak pernah di judge dengan latar belakang pemikirannya.

Bersama Guru yang Tepat

Tak dapat dipungkiri, bahwa guru yang tepat juga hal yang sangat berpengaruh untuk bekal kita termasuk pemikiran dan juga ilmu pengetahuan. Guru menjadi center dari proses balajar hingga pengetahuan yang tersampaikan. Guru dengan pengajaran yang baik akan sampai dan diterima dengan baik pula oleh para anak didiknya.

Dalam hal agama, khususnya agama Islam memiliki sumber referensi yang sangat banyak dengan sumber primer yang tidak menggunakan bahasa Indonesia, sehingga perlu banyak disiplin ilmu untuk mengetahui ilmu tersebut. Karena sejatinya kita juga harus mengetahui ushul atau sebab dan proses sebelum adanya sebuh fatwa atau hukum. Mengapa demikian? Karena banyak aspek yang mendukung dan memengaruhi fatwa tersebut.

Guru yang baik, bisanya menyediakan banyak referensi dan disiplin ilmu untuk mengantarkan pada proses pemikiran yang baik agar anak didiknya bisa kritis dalam menghadapi segala bentuk masalah. Dengan demikian, pemikiran yang radikal bisa dihalau menjadi pemikiran yang terstruktur dan sistematis.

Baca Juga  Tips Menjaga Iman Bagi Muslim Minoritas yang Tinggal di Negeri Mayoritas Non-Muslim

Pemikiran yang radikal khususnya yang menyerang anak muda bisa terjadi kapan saja dan di mana saja . Kita tidak bisa semerta-merta menghentikan karena bisa jadi mereka terpapar karena hanya itu yang hadir dikala hausnya ilmu agama sedang dirasaknnya. Jadi, kembali lagi bahwa peran keluarga dan lingkungan memengaruhi segala aspek kehidupan yang menimpa. Kemudian, peran guru juga sangat memengaruhi kualitas pemikiran dan perilaku. Wallahua’lam bishshawab.

 

 

Iqromah Puan Menulis